Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Malam di sudut distrik Yeongdeungpo selalu basah oleh bau minyak jelatah dan asap rokok murah. Di dalam kedai ayam goreng yang hampir roboh, Kim Taehyung menatap sengit ke arah lima pria berjas hitam yang baru saja menendang pintu kedainya hingga engselnya lepas.
Taehyung, pemuda dua puluh empat tahun berwajah manis dengan mata jernih bagaikan kelereng glass, sedang memegang spatula kayu yang berlumuran saus gochujang.
"Berapa kali harus kubilang, Baji Sialan! Utang mendiang pamanku bukan tanggung jawabku!" jerit Taehyung. Suaranya merdu, namun nada bicaranya meledak-ledak bagaikan mercon banting.
Pria bertato naga di leher yang dipanggil Baji itu tertawa terkekeh, meludah ke lantai marmer yang baru saja dipel Taehyung. "Kau keponakannya, Kim Taehyung. Dalam hukum konsorsium Black Dragon, darah dibayar darah, utang dibayar darah! Kalau kau tidak punya tiga ratus juta won malam ini, kedai ini jadi milik kami, dan kau... ikut kami jadi pekerja di klub malam."
"Pekerja di matamu!" amuk Taehyung. Bersumbu pendek dan tanpa pikir panjang, Taehyung melompat ke atas meja, melayangkan spatula berlumuran saus pedas itu tepat ke mata Baji.
"Hajar anak sialan ini!" teriak anak buah Baji. Kekacauan pecah seketika. Kursi-kursi plastik terbang. Taehyung bertarung bagaikan kucing liar yang kerasukan. Ia melempar panci, menyiramkan minyak panas suam-suam kuku, hingga memukul kepala anak buah mafia menggunakan pan penggorengan tebal. Brak! Brik! Buk!
Namun, kalah jumlah membuat Taehyung akhirnya tersudut di dekat meja kasir. Pakaiannya berantakan, napasnya memburu, dan rambut kecokelatannya mencuat ke mana-mana. Baji yang matanya merah meradang menarik kerah baju Taehyung dengan kasar.
"Kau benar-benar minta dibunuh, Hah?!" Baji mengangkat pisau lipatnya.
"Coba saja kalau berani, Dasar Kepala Botak Bertato!" tembak Taehyung tanpa rasa takut sedikit pun, meski jantungnya berdegup kencang.
"Hentikan."
Satu kata. Diberikan dengan nada rendah, dingin, dan begitu berat hingga mampu menghentikan seluruh pergerakan di ruangan tersebut.
Di ambang pintu kedai yang rusak, berdiri seorang pria tinggi berbadan tegap. Menggunakan setelan jas tiga lapis berwarna hitam pekat buatan Italia, dengan mantel panjang tersampir di bahunya. Garis rahangnya tegas, matanya kelam bagaikan jurang tanpa dasar, dan aura dominasinya menekan seluruh isi ruangan hingga pasokan udara terasa menipis.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Jeon Jungkook. Pemimpin tertinggi konsorsium Black Dragon, ketua mafia yang paling ditakuti di seluruh semenanjung Korea.
Di belakang Jungkook, puluhan pria berseragam hitam berdiri tegap berbaris rapi. Tangan kanan Jungkook, Park Jimin, melangkah masuk terlebih dahulu sambil memegang payung hitam, meski hari tidak hujan.
"T-Tuan Besar Jeon..." Baji seketika gemetar hebat. Ia melepaskan kerah Taehyung dan langsung berlutut di lantai, menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Mengapa Anda... berada di tempat kumuh ini?" Jungkook tidak menjawab Baji. Matanya yang tajam mengunci sosok Taehyung yang berdiri terpaku dengan spatula retak di tangannya. Jungkook melangkah mendekat. Suara ketukan sepatu kulitnya di atas lantai berdecit kaku.
"Kau yang bernama Kim Taehyung?" tanya Jungkook, berdiri tepat di hadapan Taehyung. Tingginya membuat Taehyung harus mendongak.
"Ya! Aku Kim Taehyung! Kau siapa? Bosnya si Botak ini?! Kalau iya, suruh anak buahmu bayar ganti rugi pintu kedaiku yang rusak!" semprot Taehyung tanpa takut, membuat Jimin di belakang Jungkook melotot horor.
Anak ini benar-benar tidak tahu siapa yang dia ajak bicara, batin Jimin sambil menepuk dahi.
Jungkook menaikkan satu alisnya. Sudut bibirnya terangkat tipis-sebuah senyuman langka yang sangat berbahaya. Pria yang biasanya melihat orang-orang merangkak memohon ampun di depannya ini, kini diomel-omeli oleh seorang pemuda manis berbau tumisan ayam.
"Keberanianmu luar biasa, Manis," bisik Jungkook. Tangannya yang terbalut sarung tangan kulit merengkuh dagu Taehyung, mengangkatnya perlahan. "Pamanmu mempertaruhkan kedai ini, dan kau... dalam judi ilegal minggu lalu. Dan dia kalah."
"Apa?!" Taehyung membelalak. "Si brengsek Tua itu!"
"Jadi, secara hukum gelap..." Jungkook mendekatkan wajahnya hingga hembusan napasnya yang hangat dan beraroma kayu cendana menembus indra penciuman Taehyung. "...kedai ini dan seluruh tubuhmu adalah milikku malam ini."
"Milikmu gundulmu!" jerit Taehyung refleks menampar tangan Jungkook hingga terlepas. "Sentuh aku lagi, aku akan menghancurkan kepalamu pakai panci!"
Anak buah Jungkook refleks menarik senjata api mereka, mengarahkannya ke kepala Taehyung. Cklik! Cklik!
"Turunkan senjata kalian," perintah Jungkook tenang tanpa mengalihkan pandangan dari mata cantik Taehyung. "Bawa dia ke mansion utama. Rapikan kedai ini, dan lempar Baji ke dermaga karena tidak bisa menangani masalah kecil."
"Tuan Jeon! Ampun Tuan!" teriak Baji sebelum diseret keluar secara brutal oleh anak buah Jungkook.
"Hei! Lepaskan aku! Jangan pegang-pegang! Jungkook brengsek! Lepaskan!" jerit Taehyung sambil memberontak hebat saat dua pengawal bertubuh bongsor mengangkat tubuhnya seperti membawa karung beras.