Selamat pagi, Ken" sapa Airi ketika mereka
bertemu di halte. Sama-sama menunggu angkutan
menuju sekolah.
Ken menoleh pada gadis yang menyapanya. Ia
tersenyum singkat. Dan kembali menatap jalanan. Lalu
menoleh lagi pada Airi.
"Apa aku mengenalmu?" tanyanya bingung. Membuat
gadis bermata lavender itu terpaksa menelan
ludahnya. Matanya berkaca-kaca mendengar
pertanyaan itu.
"Aduh!" teriak Airi seraya memegang matanya.
Ken bergegas ke tempat Airi. Bertanya apa yang
terjadi pada gadis itu.
"Ada apa?"
"A-ah tidak.. Ha-hanya saja mataku kelilipan debu,"
kata Airi.
"Sini, aku we!" kata Ken.
"Ti-tidak usah," tolak Airi halus. "Aku harus pergi
sekarang,"
Airi berlari dari halte. Tidak memperdulikan lagi
arah kemana dia pergi. Hanya berlari tanpa arah.
Sampai sakit ini hilang. Ya, sampai sakit ini hilang dan
digantikan oleh sakit yang lainnya.
Ken terpaku ditempat ia berdiri. Mencoba mencerna
apa yang baru saja terjadi di hari pertamanya ke
sekolah setelah setahun berbaring di rumah sakit,
karena sebuah kecelakaan
"Gadis aneh," katanya sambil tersenyum.
Sebuah bis berhenti di halte itu. Ia tidak menyadari
bahwa bis yang sedang dia tunggu sudah datang.
"Hei, apa yang kau tunggu? Bodoh" teriak Hana sambil
menyeretnya masuk.
"Eh?" ia terlihat bingung sesaat.
"Makanya jangan melamun!" marah hana saat melihat
pemuda itu kembali melamun.
Ken melirik teman yang baru saja
menyelamatkannya tadi. Ia menatapnya dengan
tatapan bingung.
"Hana?"
Hana berkacak pinggang melihat temannya yang satu
itu. "Lalu siapa lagi? Jangan bilang kalau kau ingin
mengatakan bahwa aku adalah Rei!" jawab Hana
kesal.
Ken hanya tertawa. "Hahaha,"
"Bodoh!" kata hana pelan.
"Maaf, Hana . Hanya saja, semua masih kabur
belakangan ini. Aku masih tak dapat mengingat
dengan jelas,"
Hana menepuk pundak Ken. "Santai saja!"
.
Ken melirik Hana dengan tatapan sengsara.
Sedangkan yang dipandangi tidak peduli. Dia bergegas
masuk ke kelasnya. Tak peduli makhluk berambut
