We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

BAB 1: Topeng dan Prosedur

4 2 0
                                        

Suara sepatu high heels beradu dengan lantai granit koridor lantai lima kantor pusat Garuda Land Developer. Kalila menyesuaikan posisi lanyard ID card yang menggantung di lehernya, memastikan pin logo perusahaan terpasang sempurna di kerah blazer krem miliknya.

​Seulas senyum manis yang hangat-senyum yang telah ia latih di depan cermin selama bertahun-tahun-terpasang sempurna di wajahnya saat ia melewati bilik bilik kerja.

​"Pagi, Mbak Kalila! Cantik banget hari ini," sapa seorang staf dari divisi pemasaran.

​"Pagi, Maya! Terima kasih, kamu juga segar banget hari ini. Jangan lupa draf promosi untuk kluster baru dikirim ke emailku ya," balas Kalila cepat, ramah, dan penuh energi.

​Langkah Kalila tampak ringan dan percaya diri. Di mata semua orang di kantor ini, Kalila adalah sosok spesialis Hubungan Kelembagaan dan Administrasi Legal yang sempurna.

Ia tegas, cerdas, artikulatif, dan sangat mudah disukai. Tidak ada satu pun orang di gedung tinggi ini yang tahu bahwa sikap ramah yang luar biasa itu bukanlah kepribadian aslinya.

​Sikap ramah dan penuh percaya diri itu adalah armor. Sebuah topeng tebal yang ia ciptakan sejak masa SMA-sebuah pelindung yang memastikan tidak akan ada lagi orang yang bisa menjadikannya bahan olokan, tidak ada lagi yang bisa mengisolasinya, dan tidak ada lagi yang bisa melihat betapa ringkihnya ia di balik senyuman itu..

​Langkah Kalila terhenti tepat di depan pintu ruang rapat besar Divisi Pengembangan Proyek. Hari ini, ada agenda penting penyelarasan berkas PBG (Persetujuan Bangunan Gedung) untuk proyek kawasan hunian baru di wilayah timur.

​Kalila memegang gagang pintu, menarik napas panjang, lalu memutar knop dan melangkah masuk dengan senyum terbaiknya.

​"Selamat pagi, Semu-"

​Kalimat Kalila terhenti di udara. Matanya tertuju pada sosok pria yang berdiri di dekat jendela kaca besar, membelakangi ruangan. Pria itu mengenakan kemeja kain kelabu yang lengan kemejanya digulung hingga siku, memperlihatkan lengan yang kokoh. Di tangannya, pria itu memegang gulungan kertas kalkir berukuran besar-gambar teknis struktur bangunan.

​Saat mendengar suara pintu, pria itu berbalik perlahan.

​Pandangan mereka bertemu.
​Jantung Kalila serasa berhenti berdetak selama satu detik penuh. Tatapan mata itu. Garis rahang yang tegas. Wajah yang selalu tampak datar tanpa ekspresi.

​Aris.

​Aris Prasetya. Teman sekelasnya saat SMA. Pria yang dulu begitu sering diam-diam ia perhatikan. Pria yang dulu pernah menawarkan tumpangan motor saat hujan deras turun di gerbang sekolah-perhatian sederhana yang tanpa Aris ketahui, menjadi awal dari mimpi buruk Kalila.

Pria yang memicu gosip kejam dari siswi kelas sebelah, membuat Kalila disindir, diolok-olok sebagai cewek "kegeeran", hingga akhirnya diasingkan oleh satu kelas.

​Dan di sanalah Aris berdiri. Tetap sama seperti sepuluh tahun lalu: cuek, pendiam, dan tidak terpengaruh oleh apa pun di sekitarnya.

Dia tidak tahu, batin Kalila.

Laki-laki ini benar-benar tidak pernah tahu kalau dia yang membuatku harus berpura-pura menjadi orang lain seumur hidupku.

​Tembok pertahanan Kalila bergetar hebat untuk sepersekian detik, namun pengalaman bertahun-tahun langsung mengambil alih.

Dalam hitungan detik, senyum ramah dan percaya diri Kalila kembali terpasang sempurna. Tidak ada getaran di bibirnya. Tidak ada rasa canggung yang terpancar.

​"Selamat pagi," ulang Kalila, suaranya terdengar sangat luwes dan profesional. Ia berjalan mendekat ke meja rapat, mengulurkan tangannya dengan percaya diri.

The Engineer's PrecisionStories to obsess over. Discover now