[O3] - Cahaya Harapan

54 6 0
                                        

"Aku pulang," ucap (Name) setelah menutup pintu rumah. Terdapat Biru yang sedang memasak dan Adhira yang sedang membaca buku tentang parenting dimeja makan.

"Selamat datang, dek. Dimana gorengan mas?" tanya Biru dengan semangat.

"Aduh, mas. Kok malah gorengannya yang ditanyain, itu loh adek mu ga pulang-pulang dua hari," ucap Adhira menutup bukunya dengan perutnya yang mulai membesar.

"Gapapa, kak. Udah biasa," balas (Name) meletakkan barang bawaannya keatas meja.

"Adek kira mas belum masak gara-gara mas bilang bahan-bahan dikulkas habis."

"Habis buat makan malam dek, biar mas ga ke pasar besok pagi," jawab Biru sembari menyajikan masakkannya keatas meja makan.

"Mandi dulu, dek. Sekalian nunggung nasinya yang belum mateng," ucap Adhira kepada (Name) dengan senyuman lembutnya.

"Iya, kak." (Name) berjalan menaiki tangga, menuju kamarnya yang berada di lantai dua.

Rumahnya memiliki dua lantai, empat kamar yang memiliki kamar mandi dalam, satu kamar mandi untuk tamu, dapur, ruang makan, dan ruang tamu.

Rumah yang cukup mewah bukan? Dulu rumah ini peninggalan kedua orangtuanya yang direnovasi oleh Biru agar lebih layak ditempati oleh istri dan adiknya. Biaya renovasi berasal dari tabungan Biru.

Sekarang Biru sudah memiliki retoran Japanese, yang bermana Hiraburi Restaurant.

Sedangkan rumah kakek nenek (Name) tidak ditempati. Namun, tanahnya diatas namakan (Name). Rumahnya berada ditepi kota, berada di sebuah Desa, jauh dari tempat (Name) bekerja.

Lantai dua rumah itu (Name) tempati sendiri, karena hanya terdapat satu kamar dan satu ruangan kosong yang (Name) jadikan tempat penyimpanan barang miliknya.

(Name) membuka pintu kamarnya dan segera meletakkan totebagnya diatas meja rias miliknya. Setelah ditinggalkan dua hari tidak ada satupun debu disini, sepertinya mbak Irma, orang yang bekerja disini sebagai ART, yang membersihkannya.

Memang (Name) harus akui kalau kakaknya itu adalah suami idaman semua orang, pekerja keras, peka, pengertian, romantis dan sayang keluarga. Apa (Name) bisa menemukan orang yang mirip seperti kakaknya itu?

'Daripada mikirin yang aneh aneh, mending aku mandi dulu deh. Biar cepet tidur,' batinnya.

Setelah beberapa menit yang ia gunakan untuk membersihkan badan dengan air hangat setelah dua hari mandi dengan air Rumah Sakit, tubuh (Name) merasa jauh lebih baik. Memang ya, mandi dengan air hangat itu top tier.

(Name) berjalan turun dari lantai dua, ia melihat jika sang kakak sudah duduk disamping istrinya dengan nasi hangat didepan mereka berdua.

"Dek, sini makan dulu."

"Iya, kak."

Mereka makan tanpa suara, itulah sopan santun diatas meja yang diajarkan kedua orangtua mereka. Setelah merasa orang didepannya sudah selesai dengan makanannya (Name) berkata.

"Aku mau pindah."

"Eh, kenapa? Apa kasurmu ga nyaman, dek?" tanya Biru.

"Apa karena mas mu ngoroknya gede banget, dek?"

"Heh! Sembarangan, mas ga ngorok ya."

(Name) terkekeh pelan, "Aku hanya takut meropotkan, mas. Adek harusnya mandiri, udah punya kerjaan sendiri juga."

"Gapapa, dek. Mas ga ngerasa kerepotan kok, kak Ira juga ngerasa gitu kan?" Adhira mengangguk pelan.

"Toh juga, kamu ini masih tanggung jawab mas, dek. Sebelum kamu menikah, kamu itu masih tanggung jawab mas sebagai wali mu, ngerti?"

❝ the forensic heart : nakula nalendra x readerStories to obsess over. Discover now