Bugh!
Bugh!
Bugh!
"Bryan! Stabilkan pukulanmu! Ritmemu masih berantakan!"
"Sudah berkali-kali kubilang, jangan memukul samsak terlalu tinggi. Kau ingin memukul samsak atau angin?"
"Jangan terlalu lambat, tetapi jangan pula terlalu tergesa-gesa! Sudah tiga tahun kau berlatih di sini, tetapi ritme pukulanmu masih belum konsisten."
Bryan menarik napas panjang sebelum kembali mengangkat kedua tangannya ke posisi bertahan. Dengan wajah sedikit kesal, ia mulai melancarkan pukulan demi pukulan sesuai arahan pelatihnya.
Bugh!
Bugh!
Meski terus-menerus menerima kritik, Bryan memilih menahan emosinya. Ia tahu pelatihnya tidak sedang menjatuhkannya. Semua teguran itu semata-mata demi membentuknya menjadi petinju yang lebih baik.
"Ah... aku benar-benar lelah."
Bryan Hart.
Seorang petinju kelas dunia yang telah menjuarai berbagai kompetisi tinju bergengsi. Sejak kecil, hidupnya dihabiskan di atas ring dan di dalam sasana. Berkat bakat, disiplin, dan kerja kerasnya, Bryan hampir selalu menjadi unggulan di setiap turnamen besar yang diikutinya.
Namanya dikenal luas di dunia tinju. Tak jarang ia menjadi sorotan media dan dikerumuni reporter seusai pertandingan untuk diwawancarai. Ketampanan, karisma, dan deretan prestasinya membuat Bryan memiliki banyak penggemar, terutama di kalangan perempuan. Sementara itu, bagi banyak petinju muda, ia adalah sosok yang dikagumi sekaligus menjadi inspirasi untuk mencapai puncak.
Lemari di kamarnya dipenuhi piala, medali, sertifikat, serta berbagai penghargaan yang berhasil ia kumpulkan selama bertahun-tahun. Rasanya hampir tidak ada ruang kosong yang tersisa.
Entah bagaimana perasaan para tetangganya. Mungkin cukup melelahkan tinggal berdampingan dengan seseorang yang begitu berprestasi.
Bagi Bryan, tinju bukan sekadar olahraga. Baginya, tinju adalah perpaduan antara teknik, kecepatan, dan ketepatan. Selama pukulanmu tepat sasaran, peluang untuk meraih kemenangan akan selalu terbuka.
"Kau ingin mengakhiri latihan hari ini?"
Bryan mengusap peluh yang membasahi dahinya.
"Tentu saja. Apa Bapak tidak melihat keadaan kausku? Basah kuyup begini. Orang yang baru datang pasti mengira aku habis mandi tanpa mengeringkan badan."
Ia terkekeh kecil sebelum melanjutkan,
"Lagipula, aku sudah berlatih tanpa henti sejak pagi. Sekarang sudah sore."
Pelatih hanya mengembuskan napas sambil menggeleng pelan mendengar keluhan murid andalannya itu.
"Baiklah. Pulanglah. Nanti akan kuberi tahu ayahmu kalau latihanmu sudah selesai."
"Dan jangan lupa!, Perbaiki ritme mu. aku tidak ingin melihat tinju acak acakan mu lagi besok."
"Baik, Pak Pelatih."
Bryan segera membereskan perlengkapannya. Ia melepas sarung tinju, memasukkannya ke dalam tas bersama perlengkapan latihan lainnya, lalu bersiap meninggalkan gedung latihan.
"Yo, Bryan! ingin ke mana kau?"
Bryan menoleh dan mendapati seorang pemuda berjalan menghampirinya.
Theo Bennet.
Sahabat Bryan sejak kecil sekaligus salah satu petinju berbakat di sasana itu. Prestasinya tak kalah mentereng, tetapi berbeda dengan Bryan, Theo jarang mengikuti kompetisi. Ia hanya tertarik bertanding jika hadiah yang ditawarkan cukup besar.
YOU ARE READING
Ring over you
General FictionBryan Hart, seorang petinju kelas dunia yang dikenal karena bakat dan prestasinya. Ia hampir selalu keluar sebagai pemenang dalam setiap pertandingan yang diikutinya. Berkat kemampuan, ketampanan, dan karismanya, Bryan menjadi idola di kalangan pere...
