*ARVA'S POV*
Lima tahun sudah berlalu sejak aku memutuskan untuk benar-benar melepas ikatanku dengannya. Setelahnya, aku mulai bercumbu dengan rokok dan kopi–dua hal yang tidak pernah kusangka akan kusentuh–karena bibir dan hati ini kehilangan penghangatnya. Saat ini, pun, aku sedang ditemani oleh rokok dan kopi, menatap pasrah pada gedung-gedung tinggi di sekitar bangunan yang kupijak. Menghisap rokokku dengan tenang sembari melihat aktivitas orang lain dari gedung seberang.
"Arvaaa"
Aku menoleh ke belakang dan terkejut melihat wanita cantik berkulit putih berjalan mendekat, yang mukanya sangat tidak asing tetapi seharusnya tidak ada di sini.
"Kak Rania?"
Sang pemilik nama tersenyum dan berlari kecil ke arahku lalu memelukku dengan erat seolah-olah sudah tidak bertemu satu dekade. Ya, walaupun aku juga sudah lama tidak melihatnya sejak lima tahun lalu? Tiga tahun lalu? entahlah.
"Bagaimana kabarmu, adikku? Apa ini di tanganmu?!"
Ia mendelik ketika melihat apa yang ada di kedua tanganku. Rokok dan segelas kopi.
"Kak Rania..."
Aku membalas dengan tersenyum nanar, mengisyaratkan padanya bahwa aku tidak perlu menjelaskannya lagi karena pasti dia sudah tau alasannya.
"Masih sakit, Va?"
Aku tertawa dan menggeleng.
"Pernah sakit tapi udah ngga lagi. Ini jadi hobi baru,"
Aku tertawa sambil memamerkan apa yang ada di kedua tanganku padanya. Kak Rania tersenyum dan mengeluarkan rokok yang ia miliki dan menyusul aktivitasku.
"Udah lama ya, Va. Bisa-bisanya ketemu di sini"
Aku mengangguk setuju dan kembali menyenderkan punggungku di dinding yang ada di rooftop.
"Kamu lagi berkegiatan di workshop dari sekolah itu ya?"
"Ah iya, kak, kok tahu? Kakak juga?"
Kak Rania tertawa dan menggeleng.
"Aku? Sekolah? Ngga banget lah, Va! Aku di workshop yang lain, tapi kita masih di satu gedung yang sama,"
Aku manut-manut saja karena memang gedung serba guna di kota ini hanya gedung ini, jadi memang besar kemungkinan untuk bertemu orang yang dikenal.
"Tapi kamu harusnya tau kan kalau ada aku berarti ada siapa lagi?"
Aku tersentak hingga terbatuk-batuk dengan asap rokok yang barusan kuhisap. Kak Rania segera menepuk-nepuk bahuku.
"Ada Kak Bagas dan Kak Adhi?"
Kak Rania menatapku iba. Ia mengangguk.
"Dan Kai, Va."
Kai. Nama yang sudah lama tidak kudengar tapi selalu membekas di dalam diriku. Lima tahun sudah sejak terakhir kali aku berkomunikasi dengannya dan enam tahun sudah sejak terakhir kali aku bertemu dengannya. Walaupun sempat tidak tinggal di satu kota lagi, tapi sepengetahuanku dia sudah kembali sejak tiga tahun lalu ke kota ini. Namun, semesta sudah menyembunyikannya dengan baik karena aku tidak pernah sekalipun menemukannya di setiap sudut kota ini, padahal teman-temanku sering menemuinya.
Aku sudah berprasangka baik kalau itu pertanda bahwa kami sudah tidak berjodoh. Naas, semesta mungkin sedang bosan dan mencari mainan barunya, denganku. Kaivan Aryendra. Mantan kekasihku lima tahun lalu sekarang berada di satu gedung yang sama. Besar kemungkinan untuk bertemu dengannya.
BRAK!
"RANIA ZAHIR!!! MAU KABUR YA??!"
Suara ini. Aku dan Kak Rania menoleh ke arah pintu rooftop yang dibuka secara kasar oleh seorang laki-laki yang sangat tidak asing perawakannya.
YOU ARE READING
Solitude
Romance- kamu adalah satu-satunya patah hati yang tidak bisa aku benci. Jatuh cinta. Ada kata "jatuh" yang bersebelahan dengan kata cinta, seolah mengisyaratkan bahwa rasa sakit akan menyapa sebelum cinta benar-benar terasa. Atau mungkin sebaliknya-cinta...
