Retak yang Perlahan Menyatu

20 2 0
                                        


Sore itu aku duduk termanggu di bangku taman sambil melihat teman-teman ku yang dijemput oleh orang tuanya. Aku merasa sangat iri karena mereka memiliki orang tua yang peduli dengan anaknya. Sementara aku, kemana-mana aku harus pergi sendiri, baik kondisi cuaca panas dan hujan. Aku rasa orang tuaku tidak peduli denganku, aku rasa mereka hanya peduli dengan urusan bisnis mereka. Mereka juga sering pergi ke luar kota, mungkin 3 kali dalam sebulan.

Namaku bayu, aku adalah pelajar kelas 2 SMP. Aku adalah anak ke-dua dari dua bersaudara, lahir di keluarga yang lumayan mampu, sayangnya aku kurang di pedulikan. Suatu hari setelah pulang sekolah, aku dan teman baikku mampir ke "Arcade Zone". Aku pergi ke sana dengan berjalan kaki, sementara teman-temanku di antar oleh orang tuanya. Dalam hati aku berdoa supaya orang tuaku bisa lebih peduli dengan diriku. Setelah berada di arcade zone, temanku, Richard, bertanya.

"Hei Bayu, kok kamu selalu berangkat sendiri? Baik berangkat sekolah, pulang sekolah, pergi les, dan lain-lain"

Aku menjawab sambil menatap lantai

"Itu karena orang tuaku sibuk sekali, aku udah sering meminta tolong untuk di antar jemput, eh malah dibilang kalau pulang pergi sendiri bisa menjadi mandiri"

Richard menatapku lama, seolah mencoba memahami sesuatu yang bahkan aku sendiri sulit jelaskan. Ia menepuk pundakku pelan.

"Mandiri sih bagus, Yu... tapi kalau semuanya kamu tanggung sendiri, itu bukan mandiri namanya. Itu sendirian."

Aku hanya menghembuskan napas panjang. Ingin rasanya mengatakan bahwa aku sudah lelah, tapi suara itu seakan selalu tersangkut di tenggorokan.

Sore itu aku pulang lebih cepat dari biasanya. Entah kenapa, ada perasaan kosong yang membuat langkahku terasa berat. Setibanya di pintu apartemen dimana keluarga ku tinggal, suasana seperti biasa: sepi. Lampu ruang tamu menyala, tetapi tak ada tanda-tanda kehidupan. Hanya suara jam dinding yang berdetak kaku. Aku masih teringat kejadian beberapa hari lalu, dimana pertengkaran orang tuaku memuncak, sehingga papa hampir memukul mama. Kejadian ini membuat luka yang membekas dalam hati kecilku ini.

Aku membuka pintu kamarku dan meletakkan tas. Di meja ada secarik kertas. Tulisan tangan ibu yang rapi:

"Bayu, Mama dan Papa harus ke Jakarta tiga hari. uang makan sudah Mama tinggalkan di meja dapur. Jaga diri baik-baik ya."

Malam berjalan pelan, dan apartemen yang biasanya sunyi kini terasa lebih sunyi dari biasanya. Aku duduk di meja makan bersama kakakku, Grace. Ia pulang karena kosnya bermasalah, tapi aku tahu ada alasan lain yang ia sembunyikan—alasan yang sama dengan yang ada di hatiku.

Kak Grace menatap mangkuk milik ku yang sudah kosong. "Kamu udah makan?"

Aku mengangguk. "Sudah kak, makan mie instan."

"Kamu makan itu lagi?" Nada suara Kak Grace sedikit cemas.

"Ya habis mau gimana..." Aku mencoba tertawa kecil, tapi suaranya terdengar aneh dan dipaksakan.

Kak Grace tidak membalas. Ia berdiri, membuka lemari dapur, dan mulai memasak sesuatu. Aroma bawang tumis menyebar memenuhi dapur, membawa sedikit kenangan lama. Dulu mama sering memasak saat kami masih kecil—tapi belakangan, ia lebih sering pergi ke luar kota bersama papa untuk urusan bisnis.

Saat Kak Grace memasak, aku memperhatikannya dari meja. Ada lingkar hitam di bawah matanya. "Kak, kamu capek ya?"

Ia berhenti memotong sayur. "Kamu juga," katanya pelan, seolah tak mau membahas lebih jauh.

Namun akhirnya ia menatapku lagi. "Yu... kalau suatu hari kamu nggak tahan di sini, jangan dipendam sendiri. Kakak masih di sini."

Kata-kata itu membuat dadaku sesak tetapi hangat. Selama bertahun-tahun, aku selalu merasa menghadapi semuanya sendirian. Kini, ada seseorang yang benar-benar melihatku.

Retak Yang Perlahan MenyatuStories to obsess over. Discover now