PROLOG

283 9 0
                                        

Malam di Jakarta Selatan selalu punya dua wajah yang berseberangan. Di satu sisi, ada gemerlap lampu jalanan yang menembus kaca-kaca jendela kamar, menyoroti deretan buku yang tersusun rapi di atas meja belajar. Di sisi lain, ada sudut-sudut gelap yang dipenuhi dentuman *bass*, bau tembakau yang membakar tenggorokan, dan kepulan asap yang menyembunyikan rasa sakit.

Reygan Elio Baskara hidup di sudut yang kedua.

Di bawah pendar lampu neon kelab malam yang temaram dan remang, Reygan menyandarkan punggungnya pada dinding semen yang dingin. Dentuman musik di dalam ruangan memekakkan telinga, namun baginya, suara bising itu hanyalah kebisingan latar yang gagal mengusir keheningan di dalam kepalanya. Jarinya yang panjang dan tegas menggenggam sebatang rokok yang ujungnya menyala kemerahan. Ia menyesapnya dalam-dalam, membiarkan rasa pahit itu memenuhi paru-parunya, sebelum menghembuskannya pelan ke udara.

Tampan. Sempurna secara fisik. Namun sepenuhnya hancur di dalam.

Dengan rahang tegas, struktur wajah yang tajam, dan iris mata sehitam jelaga, Reygan adalah jenis cowok yang dengan mudah menyedot perhatian kemanapun ia melangkah. Namun, tidak ada satu orang pun di sekolahnya yang berani menatap matanya terlalu lama. Di SMA Nusantara, nama Reygan Elio Baskara bertengger kokoh di puncak daftar siswa yang paling dihindari. Ia adalah definisi nyata dari masalah. Pembuat keributan, pembolos ulung, tidak pernah mematuhi aturan, dan selalu beraroma rokok atau alkohol murahan setiap kali melintasi koridor.

Orang-orang memanggilnya tak tersentuh. Sebab semua orang tahu, siapa pun yang mencoba mendekat atau mengusik benteng yang dibangun Reygan, hanya akan berakhir terbakar oleh kemarahannya.

Reygan terkekeh sinis, menyunggingkan senyum miring yang penuh kepahitan. Mereka pikir ia menikmati reputasi itu. Mereka pikir ia bangga menjadi monster yang ditakuti. Mereka tidak tahu bahwa setiap kali ia pulang ke rumah megah berkaca tebal milik keluarga Baskara, tidak ada satu pun suara yang menyambutnya. Rumah itu hanyalah sebuah monumen kemewahan yang dingin dan mati.

Orang tuanya, Mahardika Baskara dan Nareswari Dewi, terlalu sibuk mempertahankan reputasi dan bisnis keluarga hingga lupa bahwa mereka memiliki anak laki-laki yang perlahan membusuk di dalam kamar. Kedatangan Aluna-adik perempuannya yang bertahun-tahun tinggal bersama kakek mereka dan kini harus kembali karena sang kakek sakit parah-semakin memperjelas kehampaan itu. Tatapan mata Aluna setiap kali melihat Reygan hanya dipenuhi oleh kebencian. Aluna menganggap Reygan adalah anak emas yang dimanjakan dengan segala fasilitas, tanpa pernah tahu bahwa fasilitas itu hanyalah uang duka atas kasih sayang yang tak pernah Reygan dapatkan.

Reygan mematikan puntung rokoknya di atas permukaan aspal dengan ujung sepatunya. Ia melempar pandangan ke langit malam yang tertutup polusi. Di dunia yang begitu luas ini, ia merasa benar-benar sendirian. Satu-satunya alasan ia masih bertahan untuk tidak sepenuhnya runtuh hanyalah karena keberadaan Lian dan Galang-dua sahabat yang tidak pernah menghakiminya. Sisanya? Hanyalah kegelapan yang pekat.

Reygan yakin, sampai kapan pun, tidak akan ada seorang pun yang sanggup menembus dinding tebal yang ia bangun. Tidak ada yang berani, dan tidak ada yang peduli.

---

Sementara di sudut kota yang lain, dalam sebuah kamar yang sangat rapi dan beraroma kayu manis, Nala Kinandari menatap lembaran kertas di atas mejanya dengan jemari yang memegang pena secara stabil.

Di bawah temaram lampu belajar yang menyorot fokus, Nala adalah perwujudan dari keteraturan. Tidak ada barang yang diletakkan sembarangan. Buku-buku pelajaran tersusun berdasarkan subjek dan warna spine, jadwal harian tertulis rapi dalam planner bergaris, dan masa depannya telah dipetakan dengan kalkulasi matematis yang presisi.

Bagi Nala, hidup adalah tentang variabel yang bisa dikontrol. Belajar, meraih nilai tertinggi, menjaga reputasi sebagai siswi terbaik, dan berjalan di jalur yang lurus menuju universitas impian. Hidup Nala tidak punya ruang untuk kekacauan. Ia tidak mengerti orang-orang yang menyia-nyiakan waktu mereka untuk hal-hal yang tidak berguna. Baginya, logika adalah segalanya.

Di sekolah, dunia Nala berpusat pada keteraturan itu. Ia dikelilingi oleh orang-orang sefrekuensi-seperti Nathaniel Pradipta, siswa idaman sekolah yang cerdas, sopan, dan selalu menjadi tolok ukur kesempurnaan. Nathaniel adalah jenis cowok yang masuk dalam perhitungan masa depan Nala. Seseorang yang tenang, berada di jalur yang sama, dan tidak memberikan kejutan-kejutan tidak menyenangkan.

Namun, keteraturan yang dibangun Nala dengan sangat teliti mendadak mendapat guncangan hebat sore tadi.

Nala teringat momen ketika wali kelasnya memanggilnya ke ruang guru. Di atas meja kayu yang dipenuhi tumpukan kertas, sang guru menyodorkan sebuah formulir kesepakatan tutor sebaya. Sebuah program khusus sekolah untuk menolong siswa-siswa berisiko tinggi agar tidak dikeluarkan dari sekolah.

Nama Nala tertulis di kolom tutor. Dan di kolom siswa yang harus ia bimbing, tercetak sebuah nama dalam cetak tebal yang membuat seluruh ruang guru mendadak hening ketika nama itu diucapkan:

REYGAN ELIO BASKARA.

"Nala, kami tahu ini permintaan yang berat," ujar wali kelasnya waktu itu, wajahnya dipenuhi rasa cemas yang jelas. "Reygan sudah diambang drop-out. Dia cerdas, nilai tes masuknya dulu sangat tinggi, tapi perilakunya... kamu tahu sendiri. Hanya kamu siswi dengan tingkat disiplin paling tinggi yang kami rasa sanggup menanganinya. Tapi kalau kamu merasa takut atau tidak nyaman, kamu bisa menolak."

Takut?

Nala mengerutkan keningnya mengingat kata itu.

Semua orang di sekolah membicarakan Reygan seolah cowok itu adalah sosok menakutkan yang bisa menghancurkan hidup siapa saja yang bersinggungan dengannya. Teman-teman Nala memperingatkannya. Mereka bilang Reygan itu bahaya. Reygan itu kasar. Reygan itu tak tersentuh.

Namun Nala hanya menatap nama itu di kertas dengan iris matanya yang jernih, tajam, dan penuh ketenangan. Bagi Nala, ketakutan adalah emosi yang tidak logis jika dihadapkan pada kenyataan. Reygan bukan hantu, bukan pula monster. Dia hanya seorang remaja laki-laki berusia delapan belas tahun yang memilih menjadi sampah sekolah karena tidak punya kedisiplinan.

Nala mengetukkan ujung penanya ke meja. Ia tidak membenci Reygan, tapi ia sangat tidak menyukai orang-orang yang merusak keteraturan hidupnya. Dan jika tugas membimbing Reygan adalah harga yang harus ia bayar untuk mempertahankan posisinya sebagai ketua tim akademik sekolah, maka Nala akan menyelesaikannya dengan cara yang paling efektif.

"Satu semester," gumam Nala pelan pada ruangan yang sunyi. "Aku cuma perlu membuat dia lulus tes evaluasi."

Nala tidak berniat menjadi pahlawan. Ia tidak tertarik dengan cerita dramatis tentang menyelamatkan cowok bermasalah. Ia hanya ingin menjalankan tugasnya, memakai logika, dan menata kembali keteraturannya yang sempat goyah.

---

Besok pagi, dua garis takdir yang sangat bertolak belakang akan dipaksa untuk bersinggungan di ruang perpustakaan sekolah yang sepi.

Di satu sisi, ada Reygan Elio Baskara-seorang pemuda yang tenggelam dalam jurang kesepian, terbiasa ditakuti, dan yakin bahwa dirinya tidak layak untuk diselamatkan oleh siapa pun.

Di sisi lain, ada Nala Kinandari-seorang gadis dengan tatapan datar dan kata-kata tajam yang tidak pernah mempan oleh gertakan, siap menghadapi kekacauan terbesar di sekolahnya tanpa rasa takut sedikit pun.

Dunia Reygan yang dingin dan tak tersentuh selama bertahun-tahun, tanpa ia sadari, berada di ambang keruntuhan. Dan orang yang akan meruntuhkannya bukanlah seseorang yang membawa kehangatan, melainkan seorang gadis cerdas dengan ketegasan dingin yang siap menantang setiap inci kekacauan dalam dirinya.

Untouchable Stories to obsess over. Discover now