Sebuah perjalanan hidup tentang bagaimana kebenaran tidak selalu mengenai apa yang terlihat secara kasatmata atau apa yang terdengar begitu nyaring. Terkadang, kita perlu menyelam lebih dalam untuk menemukan kebenaran sejati. Sebab, ada orang-orang yang memilih diam dan membiarkan kesalahpahaman terjadi. Bukan karena mereka tidak mampu membela diri, melainkan karena mereka tahu membela diri pada hal yang sia-sia adalah tindakan yang percuma.
Orang yang melihat dengan kebencian akan tetap memberi penilaian buruk, sementara orang yang melihat dengan hati akan paham tanpa perlu penjelasan.
"Kemarin kamu ninggalin Vivian sendiri di terminal? Kenapa tidak barengan? Kenapa tidak kamu tunggu dulu?!"
Wajahku memucat. Otakku berusaha memproses kebingungan yang tiba-tiba ini. Mengapa Bibi Asih berkata begitu?
"Aku tidak meninggalkan Vivian. Justru Vivian yang memesan ojek online duluan, tapi pesananku yang datang lebih cepat. Aku sudah menawarkan untuk menunggu, tapi Vivian yang kekeh tidak mau ditunggu." Sungguh, aku tidak mengerti mengapa Vivian harus bersikap semenyebalkan ini.
"Oh, begitu, ya..." Bibi Asih beralih menatap Ibuku. "Kemarin aku kaget sekali anakku pulang malam. Dia cerita, kata tukang ojeknya daerah situ rawan begal. Terus aku tanya, kalau Teh Kiki ke mana? Kenapa tidak berangkat sama-sama?"
Sudahlah... orang-orang akan lebih percaya pada apa yang ingin mereka percayai. Penjelasan sudah kuberikan, jadi aku tidak berutang apa pun lagi. Pikiran mereka sendirilah yang merangkai vonis bersalah untukku. Biarlah. Lagi pula, untuk apa peduli pada penilaian orang lain?
Hari itu aku memilih bungkam. Ibu juga berbisik agar aku mengalah saja, karena salah dan benar tidak akan pernah tertukar.
"Kasihan, ya... lihat itu si Vivian, bekas suntikannya banyak banget." Renita mengintip dari balik pintu. Tatapannya kemudian beralih padaku-tajam, sangat tajam-seolah dengan tatapan itu ia bisa memusnahkanku dari muka bumi.
Pukul tujuh pagi aku baru pulang bekerja setelah lembur. Terkadang aku berpikir, apakah bekerja memang harus sebanting tulang ini? Rasa ingin menyerah itu tentu ada, tetapi tetap kukuatkan karena aku tahu, menganggur jauh lebih melelahkan.
Rencananya hari ini aku ingin pindah ke kamar Lia. Biar saja Vivian sendiri. Semoga bersama Lia, aku bisa merasa jauh lebih damai, batinku.
"Pokoknya jangan pindah! Apa yang bakal dipikirkan sama keluarganya Vivian nanti? Pikirkan kondisi Bibi Asih yang sedang tidak sehat, dia pasti sedih kalau tahu kamu dan Vivian tidak akur. Lagipula itu kamarmu, yang numpang kan Vivian!" Ibuku mengomel di seberang telepon.
"Ya sudah, kalau begitu Vivian saja yang disuruh pergi!" putusku.
"Mau ke mana?"
"Ya terserah, mau ngontrak atau apa, pokoknya aku tidak mau tinggal sama Vivian lagi!"
"Jangan seperti itu, ah... Mama tidak suka. Pokoknya akur-akur sama Vivian! Cepat tidur, belum tidur, kan? Jangan lupa makan!"
Tangisku pecah begitu sambungan telepon terputus. Andai saja ada tempat untuk lari...
Pagi itu suara tangisku menggema. Aku menangis sejadinya, tidak peduli jika orang lain mendengar. Biar saja!
Ponselku kembali menyala. Sebuah pesan masuk.
Kak Rosyid: Ki, hubungi kakakmu cepat! Minta maaf padanya.
Apalagi ini, Tuhan?
YOU ARE READING
The Truth Untold
General FictionKiki mengira malam panjang dalam hidupnya telah berakhir saat sebuah pekerjaan akhirnya ada di genggaman. Namun, ia tak sadar sedang melangkah menuju badai yang jauh lebih dingin. Disiram tipu muslihat Vivian dan dihujani prasangka oleh orang-orang...
