We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

BAB 1 - The Proposal

6 0 0
                                        

BAB 1 - The Proposal

Sinar matahari sore menyelinap lembut melalui jendela-jendela tinggi Perkebunan Vogard, memantulkan cahaya keemasan pada rak-rak buku tua yang memenuhi perpustakaan kecil keluarga bangsawan itu. Di luar, hamparan kebun anggur yang dahulu menjadi kebanggaan keluarga kini tampak jauh dari kata makmur. Banyak tanaman yang mengering, sementara beberapa petak tanah dibiarkan kosong karena tak lagi mampu dikelola.

Kerajaan Asteria memang mulai bangkit setelah perang panjang yang menguras tenaga dan harta para bangsawan. Jalan-jalan utama telah kembali ramai, perdagangan perlahan hidup, dan istana kerajaan kembali mengadakan pesta-pesta megah. Namun, tidak semua keluarga menikmati kebangkitan itu.

Keluarga Vogard termasuk di antara mereka yang tertinggal.

Perang telah merenggut sebagian besar kekayaan Baron Edmund Vogard. Investasi yang gagal, panen yang terus merosot, serta utang kepada para saudagar membuat nama keluarga mereka perlahan kehilangan pamornya di kalangan bangsawan.

Meski demikian, Baron Edmund tetap mempertahankan martabat keluarganya sebisa mungkin.

Di tengah segala kesulitan itu, hanya ada satu hal yang masih mampu menghadirkan senyum di rumah besar yang mulai menua tersebut.

Putri semata wayangnya.

Aluna Vogard.

Gadis berusia dua puluh tahun itu duduk bersandar di dekat jendela perpustakaan. Rambut cokelat panjangnya terurai lembut hingga melewati bahu, diterpa angin sore yang masuk melalui jendela yang sedikit terbuka. Gaun sederhana berwarna gading yang dikenakannya membuat kecantikannya tampak anggun tanpa perlu banyak perhiasan.

Di kedua tangannya terbuka sebuah novel romansa yang telah berkali-kali ia baca.

Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum kecil ketika membaca bagian saat sang pangeran akhirnya menyatakan cinta kepada perempuan yang telah lama menunggunya.

"Begitulah seharusnya cinta," gumam Aluna pelan.

Ia menutup bukunya sejenak lalu memandang taman di luar jendela.

Sejak kecil, Aluna selalu percaya bahwa pernikahan adalah pertemuan dua hati yang saling memilih. Ia membayangkan suatu hari akan bertemu seorang pria yang mencintainya dengan tulus, bukan karena gelar, harta, ataupun kepentingan keluarga.

Keyakinan itu tumbuh dari cerita-cerita yang memenuhi rak perpustakaan kecil miliknya.

Meski mengetahui bahwa dunia bangsawan dipenuhi pernikahan politik, diam-diam ia berharap takdir akan berbaik hati kepadanya.

Suara ketukan pelan di pintu membuyarkan lamunannya.

"Nona Aluna."

Seorang pelayan tua masuk sambil sedikit membungkukkan badan.

"Yang Mulia Baron sedang berada di ruang kerja."

Aluna menoleh sambil tersenyum.

"Ayah masih bekerja?"

Pelayan itu mengangguk.

"Sejak pagi."

Aluna menghela napas pelan.

Belakangan ini ayahnya memang semakin sering menghabiskan waktu di ruang kerja. Tumpukan dokumen keuangan yang terus bertambah membuat wajah Baron Edmund tampak jauh lebih tua dibanding beberapa tahun lalu.

Aluna tahu keadaan keluarga mereka sedang tidak baik.

Namun ayahnya selalu berkata semuanya akan baik-baik saja.

Karena itulah ia memilih mempercayainya.

"Kalau begitu, nanti sore aku akan membawakan teh untuk Ayah."

Pelayan itu mengangguk hormat sebelum keluar.

Ruangan kembali sunyi.

Aluna membuka kembali novel di pangkuannya.

Belum sempat membaca satu halaman, suara derap kaki kuda terdengar dari halaman depan.

Ia mengangkat kepala.

Sebuah kereta hitam mewah berhenti tepat di depan rumah keluarga Vogard.

Di pintunya terukir lambang seekor singa perak yang berdiri di atas perisai biru tua.

Aluna mengenali lambang itu.

Keluarga Evant.

Salah satu keluarga Count paling berpengaruh di Kerajaan Asteria.

"Untuk apa keluarga Evant datang ke sini?" bisiknya heran.

Tak lama kemudian, seorang kurir berpakaian resmi turun dari kereta sambil membawa sebuah kotak kayu kecil berlapis beludru hitam.

Ia menyerahkannya kepada kepala pelayan sebelum kembali menaiki kereta.

Kereta itu pun segera pergi meninggalkan halaman.

Beberapa menit kemudian...

Di ruang kerja.

Baron Edmund menerima kotak tersebut dengan wajah bingung.

Tangannya sedikit gemetar saat membuka tutupnya.

Di dalamnya terdapat sepucuk surat berstempel lilin biru tua dengan lambang keluarga Evant.

Begitu membaca beberapa baris pertama, wajah Baron mendadak pucat.

Napasnya tercekat.

Tangannya perlahan turun.

"Mustahil..." lirihnya.

Tak lama kemudian terdengar suara langkah tergesa di lorong rumah.

"Nyonya... tolong panggil Nona Aluna."

"Dan..."

Baron menelan ludah.

"Panggil semuanya ke ruang tamu."

Tak seorang pun pernah mendengar nada suara Baron setegang itu.

Dalam waktu singkat seluruh penghuni rumah berkumpul.

Aluna datang terakhir.

Ia melihat ayahnya berdiri di depan perapian dengan wajah yang jauh lebih muram daripada biasanya.

Surat berstempel keluarga Evant masih berada di tangannya.

Ruangan menjadi sunyi.

Tidak ada seorang pun berani membuka suara.

Baron Edmund menarik napas panjang, lalu menatap putri yang paling ia sayangi.

Sorot matanya dipenuhi rasa bersalah.

"Aluna..."

Suara itu terdengar berat, seolah setiap katanya harus dipaksakan keluar.

"Ayah baru saja menerima surat dari keluarga Evant."

Aluna mengernyit bingung.

"Keluarga Evant?"

Baron mengangguk perlahan.

Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang mencekam.

Lalu, dengan suara lirih yang hampir pecah, Baron akhirnya berkata,

"Count Robert Evant meminta tanganmu."

When Winter Loved MeStories to obsess over. Discover now