"Bunda!"
"Aku keren, nggak?"
Wanita yang dipanggil bunda itu menoleh sekilas ke samping, di tempat anaknya duduk.
"Iya, Nak. Anak kesayangan Bunda keren banget!"
"Papa pasti bangga sama kamu"
Mendengar perkataan bundanya, anak itu tersenyum semakin lebar.
Wanita itu hanya menggeleng pelan mendengar anaknya yang tak henti-henti mengoceh dan memamerkan dirinya sendiri. Tangan kirinya terulur untuk mengusap pelan kepala putrinya.
Senyum hangat masih menghiasi wajahnya sejak mobil yang mereka tumpangi melaju menyusuri jalanan Kota Bandung yang tampak lengang.
Tiiin!
Tiiin!
Dari arah berlawanan, terdengar suara klakson yang panjang. Suara itu dengan cepat mendekat dan semakin memekakkan telinga. Membuat anak yang duduk di kursi penumpang itu menoleh ke arah datangnya suara.
"Bunda!"
Mata wanita itu membelalak. Ia langsung menginjak rem dan mencengkeram setir sekuat tenaga hingga buku-buku jarinya memutih.
Suara benturan yang sangat keras menggema memenuhi telinga. Dalam sekejap, dunia terasa begerak terlalu cepat. Kaca-kaca mobil pecah berhamburan, semua benda di dalam mobil itu saling beradu tanpa ampun, sementara pandangannya dipenuhi dengan cahaya yang berputar-putar.
"KEITHARA!"
Suara napas terdengar memburu diikuti dada yang naik turun tak beraturan. Ia dengan cepat membuka mata dan langsung terduduk.
Selalu dengan mimpi yang sama.
Dan teriakan itu... terasa nyata.
Seluruh tubuhnya dipenuhi keringat dingin. Padahal, pendingin di ruangan itu masih menyala sejak semalam. Butuh beberapa menit baginya untuk menenangkan diri.
Ia menundukkan kepala dan memejamkan matanya, berusaha mengatur napas yang masih memburu. Namun, suara benturan dari mimpi itu terus bergema di kepalanya. Tanpa sadar, jemarinya mencengkeram erat selimut yang tadi menyelimuti tubuhnya.
Tok.
Tok.
Tok.
Suara ketukan terdengar dari balik pintu.
"Nak?"
Tak ada jawaban.
"Papa masuk, ya?"
Pintu kamar terbuka perlahan, menampakkan seorang pria paruh baya. Ia mengenakan pakaian yang terbilang rapi, seperti saat hari kerja. Padahal, saat ini adalah hari libur.
Perhatiannya langsung tertuju pada napas putrinya yang masih sedikit memburu.
"Kamu mimpi lagi?"
Ia tak menjawab pertanyaan itu dan mengalihkan pandangannya ke arah jendela.
Pria itu melirik jam digital yang berada di atas nakas. Jam menunjukkan pukul 12:35 siang.
"Kamu udah makan siang?"
Lagi-lagi dirinya tak menjawab.
"Tadi sarapan, nggak?"
Ayahnya mulai menghela napas berat. Ia melangkah masuk, sebelum akhirnya duduk di tepi meja belajar. Pintu kamar itu ditutup rapat. Membuat suasana di kamar sunyi sesaat.
"Hari ini mereka datang"
"Papa yang jemput mereka langsung"
Ucapan itu akhirnya membuatnya menoleh.
"Aku udah bilang dari awal"
"Dengerin Papa-"
"Aku nggak mau!"
Dengan cepat ia langsung memotong, sebelum ayahnya kembali melanjutkan perkataannya. Tatapannya terlihat dingin dan tak bersahabat.
Suasana kamar yang sunyi tadi mendadak terasa lebih sesak.
Akhirnya pria itu bangkit dari duduknya dan kembali melangkah lebih dekat dengan anaknya.
"Papa nggak akan minta lebih jauh dulu"
"Papa cuman pengen kamu sapa mereka"
"Aku bilang nggak!"
"Mereka akan jadi keluarga kita"
Kalimat itu seolah menjadi pemicu emosi yang ditahannya sedari tadi langsung meledak begitu saja.
"KELUARGA?!"
Gadis itu kini menatap ayahnya dengan tatapan penuh amarah.
"Papa pikir segampang itu nyuruh aku nerima orang asing masuk ke rumah ini?!"
"Mereka bukan orang asing..."
"BUAT AKU IYA!"
Pria itu menutup mata saat mendengar ucapan keras dari putrinya. Ia mencoba untuk tenang dan tidak ikut terpancing amarah.
"Nak... dengerin Papa dulu"
"Nggak ada yang perlu aku denger!"
"Dengerin Papa!"
"APA?!"
"AKU HARUS DENGERIN APA?!"
"PAPA AJA NGGAK DENGERIN UCAPAN AKU SAMA SEKALI!"
Suaranya menggema memenuhi kamar.
Rahangnya mengeras.
Napasnya kembali tak beraturan.
Ia menutup kedua telinganya rapat-rapat.
"Papa jahat..."
Suara itu berubah menjadi lirih dan semakin mengecil.
"...Papa jahat"
Pria itu membeku mendengarnya. Amarah yang mulai menyelimuti pria itu menjadi hilang seketika.
Wajah putrinya perlahan kehilangan ketegangan. Napasnya mulai melambat. Jemari yang tadi mengepal kini perlahan mengendur.
Beberapa detik berlalu tanpa suara.
Gadis itu mengangkat wajahnya perlahan.
Ia mulai menoleh kembali kepada ayahnya.
Tetapi,
Dengan mata yang berbinar, senyumnya seketika mengembang saat menatap ayahnya yang tengah berdiri di sampingnya.
Nada bicaranya masih naik. Namun, bukan nada amarah yang terdengar, melainkan nada seorang anak yang tengah antusias.
"PAPA!"
· · ✦ · · · · · · · · · · ·
Terima Kasih sudah membaca Prolognya!
Swipe untuk lanjut ke chapter pertama
(◠‿・)-☆
YOU ARE READING
Home, Again (ORINE)
Fanfiction"Aku nggak pernah minta punya Kakak!" Rumah itu, tak lagi terasa seperti rumah baginya. Ketika ayahnya memutuskan untuk menikah lagi, yang ia lihat bukanlah awal yang baru. Melainkan orang asing yang menggantikan tempat yang seharusnya tak akan pern...
