Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Bab 1

33 17 8
                                        

Pasar Gadjah Mungkur, Yogyakarta

Pagi itu,  Pasar Gadjah Mungkur sudah mulai hidup, suara riuhnya sudah mulai menggema bahkan sebelum matahari benar-benar tinggi. Suara pedagang yang menawarkan dagangannya saling bersahutan, bercampur dengan para pembeli yang tak kalah lihat tawar-menawar. Bau amis ikan, anyir dari daging segar, rempah-rempah, asap rokok, dan keringat manusia bercampur menyatu memenuhi udara. Mungkin tidak semua orang akan menyukainya. Namun, bagi mereka yang menggantungkan nasib di sini, inilah napas penghidupan.

"Pak Bos, truk berase wes teka!" —Pak Bos, truk berasnya sudah datang!

"Pak Bos, timbangan sing ning gudang macet, Pak!" —Pak Bos, timbangan yang di gudang macet, Pak!

"Pak Bos, nota sing wingi diseleh ngendi?" —Pak Bos, nota yang kemarin ditaruh di mana?

Sahut-menyahut teriakan itu datang dalam satu selang waktu yang sama. Pria paruh baya yang dipanggil "Pak Bos" itu hanya mengangkat sebelah tangannya, "Satu-satu, toh," gerutunya sambil membalik halaman buku catatan di tangannya. "Kupingku ki mung loro." —Telingaku ini hanya dua.

Ia lebih dulu menunjuk ke arah gudang. "Truke bongkar ning mburi sik. Timbangane enteni tak delok. Sing nota, mengko tak cek." —Truknya suruh bongkar di belakang dulu. Timbangannya tunggu sebentar nanti kulihat. Soal nota, nanti saya cek.

Belum sempat embusan napas lega lolos dari rongga mulutnya, seorang kuli panggul dengan satu karung beras di pundaknya melangkah mendekat. "Pak e, iki berase diseleh ngendi?"—Pak, ini berasnya ditaruh di mana?—tanya Ismail, seorang kuli panggul asal Madura yang baru dua tahun bekerja di pasar ini. Logat khas tanah kelahirannya masih cukup kental meskipun ia mulai fasih berbahasa Jawa.

"Selehke sebelah ndomble, dekat tumpukan situ. Sing rapi ya!" jawab Bagiyo sambil menunjuk arah dengan tangannya.

Ismail mengangguk. "Siap, Bos!" katanya sambil tersenyum lebar.

Bagiyo membalikkan badan, berniat menuju area gudang belakang untuk mengawasi truk beras yang akan bongkar muat. Namun, baru dua langkah berjalan, Pesek—keponakannya yang juga ikut bekerja di toko—datang tergopoh-gopoh dari arah meja kasir depan sambil menyodorkan ponsel milik Bagiyo yang sengaja ia tinggal disana.

"Pakdhe? Ada telepon! Cepet angkat! Penting ini!" seru Pesek dengan napas terengah-engah.

"Telepon opo, toh? Aku iki sibuk, rak ndelok opo?"—Telepon apa, sih? Aku ini sibuk, tidak lihat apa?—jawab Bagiyo setengah mengomel, sambil mengibaskan sebelah tangannya dan mengayunkan langkahnya menuju gudang belakang.

"Tapi, Pakdhe, ini dari Pak Juragan!" Pesek mendesak, membuat Bagiyo seketika menghentikan langkahnya.

Memang benar nama Pak Juragan yang muncul di layar ponsel. Bagiyo segera mengambil alih ponsel itu dari tangan Pesek. Keningnya sedikit berkerut, merasa heran.  Biasanya, komunikasi mereka hanya sebatas deretan pesan singkat tentang angka penjualan bulanan atau nota pengiriman. Kalau sampai menelepon langsung begini, berarti ada sesuatu yang sangat krusial untuk dibahas.

Bagiyo menyodorkan buku catatan stok di tangannya pada Pesek. "Yowes, iki kowe gantekne Pakdhe sedhela. Pakdhe tak ngangkat telepon dhisik."—Ya sudah, ini kamu gantikan Pakdhe sebentar. Pakdhe mau angkat telepon dulu.

Pesek mengangguk cepat dan menyambar buku catatan tersebut sementara Bagiyo bergegas mencari tempat yang cukup tenang untuk menerima panggilan dari sang juragan.

Ia menempelkan ponsel ke telinga, menanti nada sambung yang tidak lama kemudian berganti menjadi suara dari seberang. Bagiyo sempat mengangguk-anggukkan kepalanya kecil, raut wajahnya juga perlahan berubah.

Antara Kamu, Beras, dan LeleCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang