...
Pagi hari seharusnya menjadi waktu yang tenang. Namun, kata tenang seolah tidak pernah tercantum dalam kamus kelas XI IPS 7A. Riuh tawa, teriakan, dan berbagai ulah penghuninya selalu berhasil menciptakan keributan baru hampir setiap detik. Tak heran jika kelas itu menjadi langganan ruang BK.
Contohnya saja seorang gadis yang kini tengah sibuk menyalin pekerjaan rumah yang harus dikumpulkan lima menit lagi. Tulisannya berantakan, bagaikan cakar T-Rex yang baru saja bangkit dari dalam tanah. Sangat bertolak belakang dengan wajahnya yang tampak santai, seolah tidak ada beban sama sekali.
Rambut panjang bergelombangnya diikat asal dengan karet hitam yang sudah melorot, nyaris terlepas. Wajahnya terlalu tenang untuk seseorang yang sudah tiga kali menjadi tamu ruang BK hanya dalam minggu ini.
"Zel! Mana buku gue?" seru seorang siswa yang tak lain adalah pemilik buku yang sedang disalin habis-habisan.
Kening pemuda itu berkerut tanda protes. Penampilannya jauh lebih rapi daripada Azel,
"Njir, bentar kek! Hampir selesai nih!" balas Azel tanpa mengalihkan pandangan dari buku di depannya.
"Sebentar lagi Pak Ujang masuk!"
"Mahesa Aditya Huseen yang baik, rajin, dan bijaksana... cuma satu pesan gue."
Azel akhirnya mendongak sebentar.
"Gue nggak peduli."
Kalimat panjang itu meluncur begitu saja tanpa dipikirkan lebih dulu. Tangannya tetap sibuk menulis, seolah mulut dan tangannya bekerja secara terpisah.
Klek.
Suara gagang pintu diputar.
Tak lama kemudian, sosok yang baru saja mereka bicarakan muncul di ambang pintu. Seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun dengan rambut yang mulai menipis dan postur tubuh khas bapak-bapak melangkah masuk sambil membawa setumpuk perlengkapan mengajar.
Wajahnya tampak berusaha dibuat sangar. Sayangnya, alih-alih terlihat menyeramkan, ekspresi itu justru terlihat lucu.
"Silakan kumpulkan tugas minggu lalu. Yang tidak mengerjakan, keluar dan cabut rumput di lapangan."
Perintah itu diucapkan dengan tenang, tetapi cukup untuk membuat seisi kelas mendadak diam.
Dan tentu saja...
Tokoh utama kita, Azelia Aurelia Narendra, adalah salah satu siswa yang harus berdiri dari bangkunya.
(hai semuanya perkenalkan aku FN.ELIC oh ya panggil elic aja dan mohon dukunganya untuk karya pertama aku ya.... jujur niat mau jadi penulis udah lama tapi baru bisa aku wujutin saat ini karna dulu keterbatasan waktu dan masih ragu buat unggah karya aku...semoga menikmati ya...)
YOU ARE READING
AZEL
Non-Fiction"Siapa Azel?" Kalau kamu bertanya pada guru BK, beliau mungkin akan menghela napas dulu sebelum menjawab. Kalau kamu bertanya pada teman-temannya, mereka pasti bilang hidup tanpa Azel bakal jauh lebih sepi. Tapi kalau kamu bertanya langsung pada Aze...
