Prolog

95 5 0
                                        

⭐ VOTE SEBELUM MEMBACA ⭐
⭐ VOTE SEBELUM MEMBACA ⭐

━─────⊹⊱✫⊰⊹─────━

00. Prolog

Di dalam sebuah hiolo tempat menancapkan dupa dari kuningan, batang-batang dupa tertancap begitu rapat hingga nyaris tak menyisakan celah. Sebagian besar ujungnya telah habis terbakar dan berubah menjadi abu keabu-abuan, tetapi udara di sekitarnya masih diselimuti kabut tipis dari asap yang melayang. Asap itu berputar perlahan, menyelubungi patung dewa setinggi manusia hingga senyum samar di sudut bibir sang dewa tampak kabur. Ditambah dengan rangkaian bunga persembahan yang menumpuk di atas altar, suasana kuil kecil itu terasa semakin sakral sekaligus misterius.

Pukul empat sore di hari kerja, ketika sebagian besar orang masih sibuk berada di kantor, kuil itu tampak begitu tenang. Saat seorang wanita paruh baya yang bertugas merawat kuil masuk untuk mengganti bunga di vas, hanya ada seorang pemuda berseragam mahasiswa yang berdiri di dalam.

Pemuda itu memiliki wajah yang memperlihatkan darah keturunan Barat. Kulitnya putih bersih, matanya besar dengan kelopak ganda, pangkal hidungnya tinggi, bibirnya penuh, dan rambut cokelat bergelombang yang menjuntai hingga tengkuk. Bahkan bibi penjaga kuil yang sudah terbiasa melihat banyak orang berparas tampan pun tak kuasa menahan pandangannya lebih lama kepada pemuda itu.

Pemuda tersebut menancapkan sebatang dupa ke dalam hiolo, lalu memandangi patung dewa di hadapannya tanpa berkedip, seolah tenggelam dalam pikirannya sendiri. Entah karena apa, kedua pelupuk matanya perlahan memerah. Tak lama kemudian, butiran bening mulai mengalir dari sudut matanya.

Air matanya jatuh pelan, seringan embun pagi. Ujung hidungnya yang mancung ikut memerah. Melihat itu, sang bibi tak tega lagi. Ia buru-buru mengeluarkan sebungkus tisu dari sakunya dan menyodorkannya kepada pemuda tersebut.

"Terima kasih, khrap."

Suaranya terdengar sengau dan sedikit serak. Ia menerima tisu itu lalu mengusap pipinya, berusaha keras menahan agar air matanya tidak kembali jatuh.

Tatapan sang bibi tertuju pada mata hitamnya yang berkilau dan bulu matanya yang panjang, kini basah oleh air mata. Naluri keibuannya langsung terusik. Saat berbicara, suaranya selembut ketika ia memanggil anak-anak kucing liar yang sering berkeliaran di sekitar kuil.

"Ada apa, Nak?"

Menurutnya, masalah anak seusia mahasiswa biasanya tak jauh dari urusan kuliah. Mungkin pemuda ini baru saja gagal ujian atau dimarahi dosennya. Memikirkan hal itu membuatnya semakin iba. Anak-anak zaman sekarang memang harus memikul tekanan yang begitu besar. Beberapa hari lalu bahkan teman-temannya di grup LINE membagikan berita tentang anak-anak taman kanak-kanak yang sudah harus mengikuti les demi bisa lolos masuk sekolah dasar favorit. Anak usia tiga atau empat tahun saja sudah harus bersaing sejak dini. Sulit dibayangkan seberat apa persaingan di bangku universitas.

Di tengah lamunannya, pemuda itu mengendus keras sebelum menjawab dengan suara pelan.

"Baru saja diputusin pacar, khrap."

"....."

Oh... ternyata soal patah hati.

Masalah percintaan anak muda memang bukan perkara sepele. Seorang teman lamanya yang memiliki rumah kos pernah bercerita bahwa ada mahasiswi yang nekat menenggak obat tidur dalam jumlah berlebihan setelah bertengkar dengan pacarnya. Untung saja gadis itu segera dilarikan ke rumah sakit. Kalau terlambat sedikit saja, bukan hanya nyawanya yang tak tertolong, kamar kos itu pun mungkin akan sulit disewakan lagi.

"Aku bertemu pacarku setelah berdoa di sini," ujar pemuda itu sambil mengusap matanya lagi. Wajahnya dipenuhi kesedihan. "Pagi tadi dia memutuskan aku, lalu sekarang dia juga nggak mau mengangkat teleponku lagi. Aku benar-benar nggak tahu harus bagaimana... jadi aku datang ke sini untuk meminta bantuan dewa sekali lagi..."

Unlucky Bae || [TM]Stories to obsess over. Discover now