Sedikit informasi, kalau tulisannya miring, itu bisa jadi gumaman mereka, batin mereka, atau saat mereka sedang saling telepon, ya, guys! Tapi nanti juga bakalan ada tulisannya mereka sedang apa. Sudut pandang di sini juga berganti-ganti, tergantung author-nya nulis seperti apa, ya, hehe. Dan biasakan baca deskripsi ceritanya dulu ya, agar kalian paham.
Selamat membaca!!
---------------------------------------------------------
Aku datang ke laboratorium milik Papa ku untuk menjemput kedua adik bungsuku. Kedua adik bungsuku ini tidak ingin ditinggal oleh Papa, sehingga Papa terpaksa membawa mereka. Bahkan Daddy, yang biasanya berhasil membujuk anak-anaknya agar tidak ikut sang Papa bekerja, sampai angkat tangan dan kelelahan karena kedua adik bungsu ku ini akan menangis seharian.
Padahal, Papa sedang hamil 3 bulan, tapi tetap saja bersikeras untuk datang ke laboratoriumnya. Bahkan, Daddy jg sampai menyerah karena Papa ini memang keras kepala dan susah untuk diatur.
Aku memasuki kantor milik Papa dan mendapatinya sedang mengurus berkas-berkas eksperimennya. Aku bisa melihat setumpuk kertas menggunung di atas meja milik Papa.
"Papa, di mana Kozui dan Rei?" tanya ku saat tidak melihat kedua adik bungsu ku.
Papa yang terlalu fokus pada selembar kertas hanya melirik diriku sejenak dan menunjuk ke tempat bermain khusus kedua adik bungsu mu yang berada di ruang kerja Papa. Aku menghampiri tempat bermain tersebut dan tak mendapati kedua adik ku di sana.
"Huh? Tidak ada Kozui dan Rei di sini, Papa..." ucap Aku saat tak mendapati kedua adik bungsuku.
Papa yang mendengar ucapan ku terkejut dan langsung menjatuhkan kertas yang sedang ia baca tadi. Ia berdiri dan langsung menghampiri tempat bermain tersebut.
"Huh? Tadi Kozui dan Rei ada di sini, Papa yakin!!" ucap Papa dengan panik.
"Baiklah-baiklah... Papa tenang dulu, jangan langsung panik begitu. Kozui dan Rei pasti tidak pergi jauh dari sini. Kita berpencar dulu untuk mencarinya," ucap aku menenangkan Papa.
Aku segera keluar dari kantor dan pergi mencari kedua adik bungsuku. Tidak biasanya mereka keluar tanpa mengatakan apa pun kepada Papa.
Setengah jam berlalu.
Aku sudah menemukan adik ketiga ku, Kozui, dan sekarang sedang mencari Rei, adik keempat ku. Aku sudah mencari di setiap sudut gedung ini dan tidak menemukannya di mana pun. Tapi, ada satu ruangan lab milik Papa yang selalu terkunci dan siapapun dilarang untuk memasukinya.
Aku sudah berdiri di depan pintu ruang lab tersebut. Perasaan ku mengatakan bahwa adik keempatku berada di ruang lab milik Papa yang selalu dikunci dengan sangat rapat ini. Aku tidak tahu apa isi di dalamnya karena Papa selalu melarang ku untuk memasuki ruangan ini.
Aku juga bingung, bagaimana adik keempat ku bisa memasuki ruangan lab yang selalu dikunci rapat ini?! Aku menghela napas sejenak dan membuka pintu ruangan tersebut yang ternyata tidak terkunci.
Saat kaki ku melangkah masuk, aku takjub dengan sebuah mesin besar di hadapan ku. Sepertinya aku tahu mesin besar apa ini; aku sering mendengar rumornya sejak kecil bahwa Papa sedang menciptakan mesin waktu untuk kembali ke masa lalu, ke 3.700 tahun lalu sebelum pembatuan.
Saat diriku sedang mengagumi mesin waktu itu, aku mendengar suara tawa riang dari arah lain. Aku segera menoleh dan melihat adik keempat ku yang sedang berdiri di depan portal yang perlahan-lahan mulai terbentuk.
Cahaya terang dari portal itu menarik perhatian semua orang yang ada di gedung, termasuk Papa yang datang bersama Kozui. Aku sudah berlari untuk menarik adik keempat ku menjauh dari portal.
YOU ARE READING
Back to the past due to a time machine accident (Tsukasen Omegavers)
FanfictionShiku Ishigami, seorang pemuda jenius dari masa depan yang mewarisi kecerdasan Papanya Senku Ishigami, dan kekuatan ayah nya Tsukasa Shishio, kini terdampar di masa lalu. Akibat kecelakaan eksperimen mesin waktu buatan Senku di masa depan yang meled...
