Bel pulang baru saja berbunyi ketika gerbang SMA Negeri di desa itu mulai dipenuhi para siswa. Tawa, suara motor, dan langkah kaki bercampur menjadi satu di bawah langit sore yang perlahan berubah jingga.
Tepat di seberang gerbang sekolah berdiri sebuah konter kecil bernama Nagara Cell. Meski sederhana, tempat itu hampir tak pernah sepi. Ada yang membeli pulsa, memperbaiki layar ponsel, hingga sekadar membeli kartu perdana.
Meldina Nayana menghentikan langkahnya di depan etalase.
"Kak, isi kuota yang biasa, ya."
Pemuda di balik meja kasir mengangkat kepala. Jemarinya bergerak lincah di atas layar ponsel, sesekali melirik nomor yang disodorkan gadis berseragam putih abu-abu itu.
"Sudah masuk."
"Makasih, Kak."
Percakapan mereka selalu sesingkat itu.
Namun, entah sejak kapan Meldina mulai hafal jam buka konter tersebut. Ia tahu kapan Arkana menjaga sendiri, kapan adiknya menggantikan, bahkan kapan konter tutup lebih awal karena harus mengantar ibunya ke pasar.
Baginya, mampir ke Nagara Cell sepulang sekolah hanyalah kebiasaan kecil.
Setidaknya ... begitulah yang selalu ia yakini.
"Din!"
Suara seseorang membuat Meldina menoleh.
Seorang gadis berambut sebahu berlari kecil menghampirinya sambil mengatur napas. Selia Nazwa-yang lebih akrab dipanggil Sena-langsung berdiri di sampingnya sambil melirik sekilas ke arah dalam konter.
"Kamu beli kuota lagi?" tanyanya dengan nada jahil.
"Iya."
"Perasaan baru minggu lalu juga beli."
"Buat tugas."
"Hmm...," Sena menyipitkan mata, lalu kembali mengarahkan pandangannya ke arah Arkana yang sedang melayani pelanggan lain. "... jangan-jangan ada alasan lain?"
Meldina mengernyit bingung.
"Apaan?"
"Penjaga konternya."
"Ish, Sena."
Meldina memukul pelan lengan sahabatnya hingga gadis itu terkekeh geli.
"Aku serius, Din."
"Apanya yang serius?"
"Kalau bukan karena kuota, kenapa harus selalu beli di sini?"
Meldina menghela napas kecil sebelum memasukkan ponselnya ke dalam saku rok.
"Karena paketnya lebih murah."
"Cuma itu?"
"Iya."
Sena mengangguk pelan, meski senyum jahilnya tak kunjung menghilang.
"Semoga memang cuma itu."
Meldina memilih berjalan lebih dulu, pura-pura tidak mendengar kalimat terakhir sahabatnya.
Padahal untuk pertama kalinya, ia ikut bertanya pada dirinya sendiri.
Benarkah ia datang ke Nagara Cell hanya karena paket internetnya lebih murah?
"Eh, tunggu!"
Sena menyusul sambil meraih lengan Meldina.
"Kamu langsung pulang?"
"Iya."
"Ke perpustakaan dulu, yuk. Besok proposal harus dikumpulin."
Meldina menggeleng pelan.
"Aku mau revisi lagi di rumah."
Sena mengembuskan napas panjang.
"Kamu tuh, Din... nilaimu udah bagus, masih aja nyari yang sempurna."
Meldina hanya tersenyum tipis. Baginya, mengulang pekerjaan bukanlah beban. Ia hanya ingin memberikan hasil terbaik, terlebih kedua orang tuanya selalu berusaha mendukung setiap langkah dan mimpinya.
"Udah, ayo. Nanti keburu magrib," ajak Sena.
Keduanya berjalan berdampingan menyusuri trotoar yang membentang di depan sekolah. Di belakang mereka, Nagara Cell masih ramai oleh siswa yang silih berganti datang.
Tanpa mereka sadari, Arkana sempat mengangkat pandangannya sekilas ke arah dua gadis yang berjalan menjauh itu. Tak ada makna khusus. Baginya, Meldina hanyalah salah satu pelanggan tetap yang hampir setiap minggu membeli kuota di konternya.
Sementara bagi Meldina, sore itu terasa sama seperti sore-sore sebelumnya.
Tak ada yang tahu, dari kebiasaan sederhana yang terus berulang itulah, dua orang dengan jalan hidup yang berbeda perlahan mulai dipertemukan oleh takdir.
.
.
.
.
Terimakasih sudah mampir, jangan lupa nantikan part selanjutnya yaaa😉
YOU ARE READING
Jika Esok Kita Benar-Benar Asing
Romance"Cinta dan cita-cita tidak bisa berjalan bersama." Kalimat itu selalu dipegang teguh oleh Arkana, seorang pemuda yang memilih mengalah demi masa depan orang-orang yang bergantung padanya. Sebaliknya, Meldina percaya bahwa dua hal itu tidak harus sal...
