We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

1

25 2 0
                                        

Sinar matahari pagi menembus celah tirai rumah sederhana milik Peter. Suasana masih tenang. Hanya suara televisi yang mengisi ruang keluarga.

"Pemerintah Astrea kembali mengumumkan perkembangan terbaru Project Genesis. Proyek penelitian yang dikembangkan selama lima tahun terakhir ini bertujuan meningkatkan kemampuan fisik manusia sebagai langkah menghadapi potensi perang besar antarnegara di masa depan. Menurut pemerintah, uji coba tahap akhir akan segera dilakukan dalam waktu dekat."

Di layar televisi terlihat sebuah laboratorium raksasa dengan logo PROJECT GENESIS terpampang di bagian depannya.

Peter yang duduk di sofa menghela napas panjang.
"Huft... masalah negara nggak pernah selesai."

Dari arah dapur terdengar suara langkah kaki.

"Kamu sudah bangun rupanya."

Leona keluar sambil membawa dua piring berisi roti panggang, telur, dan segelas susu. Senyum hangat selalu menghiasi wajahnya setiap pagi.
Ia meletakkan sarapan di atas meja.

"Sudahlah, Peter," ucap Leona sambil duduk di sebelah adiknya. "Itu urusan pemerintah. Kita cukup melakukan yang terbaik sesuai kemampuan kita."

Peter mengangguk kecil lalu mulai menyantap sarapannya.

Beberapa saat kemudian ia menoleh.
"Ngomong-ngomong... bagaimana eksperimennya, Kak? Berhasil, kan?"

Leona tersenyum tipis.
"Ya... aku harap begitu."

Peter tertawa kecil.
"Ah, pasti berhasil. Kakak juga ikut mengerjakan Project Genesis. Mana mungkin gagal."

Leona ikut tertawa.
"Semoga saja."

Mereka kembali menikmati sarapan dalam suasana tenang.

Tak lama kemudian Leona melirik jam dinding.

"Eh, cepat habiskan sarapanmu. Nanti dosenmu nyariin lagi."

Peter tersenyum santai.
"Masih ada waktu."

Leona menggeleng sambil terkekeh.
"Mana bisa santai? Satu kampus memanggilmu Oracle. Katanya mahasiswa paling jenius yang pernah mereka punya."

Peter menghela napas sambil tersenyum malu.

"Oracle apanya... Aku masih jauh dibanding Kakak."

Leona menatap Peter beberapa detik. Senyumnya perlahan memudar.
"Peter..."

"Hm?"

"Kalau suatu hari Project Genesis gagal..."

Peter menatap kakaknya dengan bingung.

"...kamu harus menjadi obatnya."

Peter mengernyit.
"Maksudnya?"

Leona tersenyum lembut.
"Jangan jadi pahlawan, Peter..."

"...tapi lakukan semuanya demi kemanusiaan."

Peter langsung tertawa kecil sambil berdiri mengambil tas kuliahnya.
"Halah... Kakak ini ada-ada aja. Project Genesis pasti berhasil."

Ia mengenakan jaketnya.
"Lagian aku juga nggak sepintar Kakak."

Leona ikut berdiri.
"Bukan."

Peter menoleh.
"Kamulah orang paling pintar yang pernah Kakak kenal."

Peter hanya tersenyum kecil.
"Kakak lebay."

Ia melangkah menuju pintu.
Baru saja tangannya menyentuh gagang pintu, Leona memanggilnya.
"Peter."

"Hm?"

Tanpa mengatakan apa pun, Leona melangkah mendekat lalu memeluk adiknya dengan hangat.

Peter sedikit terkejut.
"Eh... kenapa, Kak?"

Leona tidak langsung menjawab. Ia hanya memeluk Peter selama beberapa detik, seolah enggan melepaskannya.

"...Nggak tahu. Kakak cuma pengin meluk kamu."

Peter tersenyum kecil sambil membalas pelukan itu.
"Dasar aneh."

Leona tertawa pelan sebelum melepaskannya.
"Hati-hati di jalan."

"Iya. Kakak juga hati-hati di laboratorium."

"Pasti."

Peter melambaikan tangan.
"Dadah, Kak."

"Dadah."

Pintu rumah pun tertutup.
Leona masih berdiri di depan pintu sambil memandangi kepergian adiknya.

Entah mengapa...
Hatinya dipenuhi firasat yang tidak bisa ia jelaskan.

Sementara itu, Peter berjalan menuju kampus tanpa menyadari bahwa pelukan hangat barusan... akan menjadi pelukan terakhir yang ia rasakan dari satu-satunya keluarga yang ia miliki.

Last CureStories to obsess over. Discover now