BAB 1 - DEEP IN THE HOLE

4 1 0
                                        

🎶Play sound: Disenchanted - My Chemical Romance

***

Langit Jakarta sore itu jingga, tapi jingga yang tak pernah benar-benar cerah — jenis jingga yang muncul kalau matahari harus menembus asap knalpot, debu proyek, dan entah apa lagi yang menggantung di udara kota ini setiap hari. Bukan senja yang cantik. Tapi Asa sudah lama berhenti menuntut yang cantik dari kota ini.

Dari balik kaca TransJakarta, ia memandangi semuanya bergerak. Motor menyelinap di sela-sela bus. Pejalan kaki setengah berlari mengejar lampu penyeberangan yang sebentar lagi merah. Papan reklame raksasa menyala satu per satu, menawarkan hidup-hidup yang lebih baik kepada orang-orang yang sedang tergesa pulang ke hidup mereka sendiri.

Semua orang punya tujuan. Semua orang tahu mau ke mana.

Asa menyandarkan kepala ke jendela, membiarkan getaran mesin merambat ke pelipisnya.

Ia juga tahu mau ke mana. Rumah. Cuma entah kenapa, itu satu-satunya tujuan yang tidak pernah terasa seperti pulang.

Mi, besok aku pindah ke kos dekat kantor.

Ia sudah mengulangnya di kepala sepanjang Kuningan sampai Kelapa Gading. Masalahnya bukan kalimatnya. Masalahnya kapan.

Kalau terlalu awal, Mami punya waktu semalaman untuk menyusun argumen. Kalau terlalu akhir, Mami akan bilang Asa sengaja menunggu sampai tidak ada waktu untuk dibicarakan. Dua puluh lima tahun tinggal di rumah itu, dan Asa masih belum menemukan jam yang aman untuk mengatakan sesuatu yang ia inginkan sendiri.

Bus berhenti di haltenya.

Asa tidak turun.

Ia membiarkan pintu terbuka, membiarkan beberapa orang keluar, membiarkan pintu menutup lagi, lalu turun di perhentian berikutnya, satu halte lebih jauh, dan berjalan pulang.

Sepuluh menit tambahan. Ia bilang pada dirinya sendiri itu karena macet.

***

Aroma bawang goreng sudah memenuhi rumah bahkan sebelum Asa membuka pintu

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Aroma bawang goreng sudah memenuhi rumah bahkan sebelum Asa membuka pintu.

"Sa? Itu kamu?"

"Iya, Mi."

"Cuci tangan, bentar lagi mateng!"

Asa menaruh tasnya di kursi dan berjalan ke dapur. Mami berdiri membelakanginya di depan kompor, rambut diikat asal pakai jepitan yang catnya sudah terkelupas, celemek yang motifnya sudah pudar dimakan cucian bertahun-tahun. Punggung itu bergoyang kecil mengikuti gerakan wajan — ritme yang sama yang Asa lihat sejak ia masih harus berjinjit untuk mengintip ke atas kompor.

"Aku bantuin ya mi?"

"Nggak usah."

"Aku potong bakso"

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jul 31 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

A LIFE OF HER OWNStories to obsess over. Discover now