Aku mengenal Bu Ratih bukan sebagai keluarga inti, melainkan mertua dari kakak iparku, Mbak Anggun. Hubungan kami bermula sebagai perkenalan biasa dalam berbagai acara keluarga, penuh sopan santun dan saling menghormati. Namun, di balik kedekatan it...
Langit siang di atas Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta tampak berlapis awan tipis, membuat cahaya matahari jatuh lembut di hamparan kaca bangunan yang memantulkan hiruk-pikuk para penjemput. Deretan troli bergerak silih berganti, suara roda koper beradu dengan lantai granit, sementara pengumuman kedatangan pesawat terdengar berulang dari pengeras suara. Aku berdiri di dekat area penjemputan sambil sesekali melirik layar ponsel. Beberapa menit sebelumnya, Mbak Anggun mengirim pesan singkat.
"Ndra, Ibu sudah mendarat. Tolong jemput ya. Aku masih di kantor, rapatnya molor dan belum selesai."
Aku membalas singkat.
"Siap, Mbak. Nanti aku antar sampai rumah."
Aku memasukkan kembali ponsel ke saku celana, lalu mengedarkan pandangan ke pintu keluar penumpang domestik. Satu per satu wajah bermunculan dari balik pintu otomatis, sebagian disambut pelukan keluarga, sebagian lagi berjalan sendiri sambil menarik koper.
Di antara keramaian itu, akhirnya aku melihat Bu Ratih.
Ia mengenakan blus putih gading dengan detail ruffle yang lembut di bagian dada, dipadukan celana panjang krem berpotongan rapi yang membuat posturnya tampak semakin jenjang. Sepasang sandal bertumit tipis berwarna burgundi memperlihatkan selera berbusana yang sederhana namun berkelas. Kuku-kukunya dipoles warna senada—bukan mencolok, tetapi cukup memberi aksen elegan ketika jemarinya menggenggam gagang koper.
Wajahnya memancarkan kecantikan perempuan matang yang tidak lagi bergantung pada riasan berlebihan. Garis rahangnya tetap tegas, tulang pipinya memberi dimensi yang anggun, sementara senyum tipis di sudut bibir menghadirkan kesan hangat. Kacamata berbingkai tipis justru menambah pesona intelektual yang membuatnya terlihat berwibawa sekaligus mudah didekati.
Dari kejauhan, ia lebih menyerupai seorang profesional yang baru turun dari perjalanan bisnis daripada tamu keluarga yang baru pulang dari luar kota. Ada ketenangan dalam cara ia berjalan, kepercayaan diri yang lahir dari pengalaman hidup, dan pembawaan yang membuat orang tanpa sadar menoleh ketika ia melintas.
Tatapan beliau menyapu kerumunan penjemput, seolah mencari seseorang yang sudah dibayangkannya sejak pesawat mendarat.
Begitu pandangannya menemukan sosokku di antara kerumunan penjemput, langkah Bu Ratih sempat terhenti. Raut wajahnya memperlihatkan keterkejutan yang tak sempat disembunyikan. Sepersekian detik kemudian, ekspresi itu berubah menjadi senyum lega.
"Ndra?"
Aku mengangguk sambil mengangkat tangan.
"Mbak Anggun masih di kantor, Bu. Beliau minta saya yang menjemput."
Bu Ratih mengembuskan napas pelan, seolah beban kecil di pundaknya luruh. "Ibu kira harus menunggu lebih lama."
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Untuk sesaat kami saling diam. Bukan karena tak ada yang ingin dikatakan, melainkan karena sama-sama mencari kalimat yang tepat untuk memecahkan suasana. Kecanggungan itu sudah beberapa kali muncul dalam pertemuan keluarga sebelumnya—bukan karena ada perasaan yang tersembunyi, melainkan karena keduanya sama-sama cenderung pendiam. Akhirnya aku mengambil koper dari tangannya, dan kami berjalan berdampingan menuju area parkir, membiarkan percakapan ringan tentang perjalanan pulang mengisi langkah kami.