Waktu sudah menunjukkan pukul delapan lewat. Para tamu undangan yang memadati ballroom mulai berbisik-bisik. Kasak-kusuk ketidaksabaran menjalar di setiap sudut ruangan karena sang calon pengantin wanita tak kunjung muncul, padahal seharusnya prosesi pemberkatan sudah dilaksanakan sejak tadi.
Jesselyn, kakak dari pengantin wanita, merasakan kegelisahan yang membuncah. Tanpa buang waktu, dia melangkah cepat meninggalkan keramaian venue, setengah berlari menuju ke ruang rias sang adik.
Sesampainya di depan pintu kayu tebal bernuansa putih itu, Jesselyn mengetuknya tiga kali.
"Giselle? Kamu udah selesai dandan?"
Hening. Tidak ada sautan sedikit pun dari dalam.
"Giselle!" panggilnya lagi, kali ini dengan nada yang sedikit lebih keras. Jesselyn mengerutkan dahinya keheranan.
Tanpa menunggu lebih lama, Jesselyn memutar gagang pintu dan langsung mendorongnya hingga terbuka lebar.
"Giselle, kamu tuh—"
Kalimatnya terhenti seketika di udara. Mata Jesselyn membelalak menatap isi kamar rias yang senggang dan sunyi. Penata rias tak ada di mana-mana, dan sang adik pun nihil.
Pandangannya langsung tertuju pada sofa di tengah ruangan. Di sana, gaun pengantin putih berenda mewah yang seharusnya melekat indah di tubuh Giselle justru terkulai berantakan begitu saja. Tak jauh dari sana, di atas meja rias, selembar kertas tergeletak rapi.
Dengan langkah ragu dan jantung yang berdebar kencang, Jesselyn mendekat. Dia mengambil kertas itu dan mulai membaca deretan tulisan tangan Giselle yang berantakan.
"Aku gak mau dijodohin sama cowok yang gak aku cinta. Maaf udah kecewain Mama sama Papa."
Jesselyn mematung seketika. Napasnya tertahan saat kata-kata tajam di kertas itu perlahan meresap ke dalam kepalanya. Jarinya gemetar hebat, secara refleks meremas kertas tersebut hingga remuk di dalam genggamannya. Dada Jesselyn berdesir hebat—campuran antara panik, marah, dan keputusasaan yang membuncah.
Belum sempat dia mencerna situasi gila ini, pintu kamar rias kembali terbuka lebar. Sang mama masuk dengan raut wajah cemas luar biasa, disusul sang papa yang mengekor di belakang.
"Jess! Adikmu mana? Penata riasnya bilang Giselle mau ke toilet tapi dari tadi belum kembali—"
Kalimat Mama terputus begitu matanya menangkap gaun pengantin yang tergeletak pasrah di sofa, lalu beralih menatap remasan kertas di tangan Jesselyn.
Wajah Mama seketika pucat pasi. Papa melangkah cepat mendekati Jesselyn dengan mata membelalak penuh desakan.
"Jesselyn... Giselle mana?!"
Dengan tatapan kosong dan tangan yang masih bergetar, Jesselyn menyerahkan sepucuk surat lusuh yang ditulis oleh adiknya.
Mama langsung merebut kertas tersebut dan membacanya bersama Papa. Keduanya seketika membeku, benar-benar syok dan tak percaya. Tuan Siwon merebut kasar kertas itu dari genggaman istrinya, meremasnya kuat-kuat, lalu mencampakkannya ke lantai dengan murka.
"Omong kosong apa ini?!" berteriak Tuan Siwon di hadapan Jesselyn, napasnya memburu hebat.
Jesselyn hanya bisa memejamkan matanya sambil menggeleng pelan. Papanya benar-benar murka sekarang.
"Mau ditaruh di mana muka Papa di depan semua tamu dan keluarga Raharja?! Giselle betul-betul keterlaluan!"
"Sudah, Pa! Kita lupakan soal Giselle untuk saat ini!" potong Mama menenangkan, meski suaranya sendiri bergetar menahan tangis. "Yang paling penting, kita harus menyelamatkan nama baik keluarga kita. Pernikahan ini ga boleh sampai batal, Pa!"
YOU ARE READING
The Unintended Bride
FanfictionDemi menyelamatkan nama baik keluarga di depan ratusan kolega bisnis, Jesselyn terpaksa menggantikan adiknya, yang kabur tepat di hari pernikahan. Dia terpaksa menikahi Thomas, pria dingin yang memandang pernikahan ini murni sebagai transaksi bisnis...
