Angin sore berembus pelan, membawa aroma khas laut yang sudah begitu akrab bagiku.
Aku dan Bila duduk berdampingan di pinggir pelabuhan. Kaki kami menggantung di atas beton, sesekali ombak kecil menghantam tiang-tiang kayu di bawahnya.
Beberapa kapal nelayan mulai kembali. Langit perlahan berubah jingga.
Bila membuka sebotol teh dingin, lalu menyerahkannya kepadaku.
"Masih suka ke sini ya?"
Aku menerimanya sambil tersenyum kecil. "Tempat paling enak kalau lagi pengen diem."
Bila mengangguk pelan. Kami sama-sama memandang laut tanpa mengucapkan apa pun selama beberapa menit.
Hening seperti ini tidak pernah terasa canggung.
Sudah hampir tujuh tahun kami berteman.
Bila adalah orang yang tahu hampir semua cerita hidupku.
Dari masa SMP. Dari aku kenal cowok di sekolah, bertemu dengan banyak pasang mata, mengenal masa lalu ku sebelumnya, tentang mantanku dan bahkan tentang Rey. Sampai akhirnya aku bertemu seseorang yang berhasil membuatku percaya kalau cinta bisa datang lagi.
"Televerse udah selesai, ya?" tanya Bila memecah keheningan.
"Iya," jawabku pelan.
"Gimana rasanya?" Tanya Bila.
Aku tertawa kecil. "Lega."
"Yakin cuma lega?"
Aku menoleh ke arahnya.
Bila memang selalu seperti itu. Dia tidak pernah bertanya kalau sebenarnya sudah tahu jawabannya.
Aku menghela napas pelan.
"Kayak apa ya, kayak ada yang belum selesai," ucapku.
"All?"
"Iya," ucapku sambil mengangguk pelan.
Bila ikut menatap laut lagi.
"Padahal di Televerse kalian udah jadian," sahut Bila.
"Iya si," jawabku.
"Terus?" Tanya Bila sambil mengangkat satu alis.
Aku terdiam.
Sulit menjelaskan sesuatu yang bahkan aku sendiri belum benar-benar mengerti.
"Setelah jadian," ucapku pelan. "Aku kira semuanya bakal baik-baik aja."
"Lalu?"
Aku tersenyum tipis.
"Ternyata nggak."
Bila tidak langsung menanggapi. Ia hanya mendengarkan, seperti yang selalu ia lakukan setiap kali aku ingin bercerita.
"Cha."
"Hm?"
"Kalau suatu hari kamu nulis lanjutan Televerse." ucapnya dengan lirih.
Aku menoleh.
"Jangan bikin orang benci All," lanjutnya.
Aku tersenyum kecil.
"Kenapa?"
"Soalnya aku tahu."
"Tahu apa?"
Bila menghela napas pelan.
"Dia sayang sama kamu."
Aku menatap laut yang mulai gelap.
"Iya. Tapi" jawabku.
Aku melanjutkan kalimatnya dengan suara lirih. "Dia nggak tahu cara nyayanginnya."
Bila tidak membantah. Karena kami sama-sama tahu. All bukan orang jahat. Dia hanya seseorang yang berkali-kali berusaha memperbaiki hubungan kami. lalu mengulang kesalahan yang sama.
Aku menatap ombak yang terus datang silih berganti.
Tiba-tiba aku sadar. Mungkin, Televerse memang sudah selesai.
Tapi kisahku dan All. Belum.
