Hemos actualizado nuestras Pautas de Contenido.
Consulta las pautas más recientes para seguir compartiendo historias de forma segura.

Alternative Ending

22 5 0
                                        

Sorot lampu sirene dari armada ambulans, pemadam kebakaran, polisi, hingga biro keamanan publik berbaur menjadi satu, menyelimuti seisi pulau kecil itu. Malam yang semula tenang sudah berubah mencekam dengan asap hitam membumbung tinggi, merenggut keindahan gemintang dari langit pekat. Di tengah riuh teriakan para petugas yang sibuk mengendalikan situasi, segalanya justru terasa sunyi bagi dua bocah yang disembunyikan di dalam ambulans berbeda. Suara bising di luar sana samar ditelinga mereka.

Mereka dapat mendengar kutukan-kutukan dari anggota organisasi hitam yang ditangkap oleh aparat negara yang berjulukan negeri matahari terbit. Mereka berhasil. Kepala dari organisasi hitam sudah ditangkap, mereka menemukan markas mereka. Semua habis dibakar api, Sherry, ia memutuskan untuk membakar semuanya. Mengubur semua eksperimen dan mimpi buruk itu untuk dilahap api.

Shinichi, tidak, Conan melayangkan tatapannya kepada Haibara Ai. Ekspresi wajah dan sorot matanya memancarkan ketidakpercayaan namun penuh kepuasan dan kemenangan. Ia mencoba meraih bahu Ai, ingin menyelebrasikan keberhasilan mereka dan semua orang yang mengejar organisasi hitam. Sebelum tangannya bisa menyentuh bahu wanita itu, Ai menyodorkan obat penawar APX-4869, "Selamat Con—Kudo." Wanita itu menyunggingkan senyuman yang jarang ia layangkan ke siapapun.

Tentu Conan merasa sangat senang melihat penawar itu, tetapi ada yang membuat hatinya tidak lega. Alih-alih mengambil penawar itu, matanya malah beralih menatap Ai. "Ekspresi macam apa yang kamu buat Ai? dan kenapa kamu tidak jadi memanggilku Conan tadi? Aku pikir akhirnya kamu bisa memanggil namaku, tapi malah memanggilku Kudo." Conan sedikit tergelak, entahlah dia merasa canggung mengatakan hal itu, tetapi itu yang terbesit di benaknya jadi ia ucapkan saja tanpa berpikir dua kali.

"Bawel, ambil saja penawar ini." Semburat di pipi Ai terlihat jelas sehingga ia memalingkan wajahnya dengan posisi tangan yang masih mengarahkan penawar itu kepada Conan. Matanya tiba-tiba memburam tetapi ia berusaha untuk tidak terlihat, malam ini perasaannya sangat tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

Conan melayangkan senyuman besar yang terlihat konyol dan menarik dimata Ai seperti biasa. "Mana milikmu? aku hanya liat satu ditangan mu, kamu duluan saja. Habis itu gantian, Amuro-san akan mempersiapkan pakaian untuk kita berdua. Apa aku perlu memegang tanganmu supaya bisa membantumu menahan sakit?" Entah ada apa dengan kepala pria itu, dia tidak biasanya bercanda seperti itu, mungkin karena ia merasakan kemenangan telak jadi sikapnya menjadi sangat santai seperti itu.

"Tuan detektif bodoh," gumam Ai yang tidak terdengar oleh Conan. "Aku akan pergi. Aku akan meninggalkan semuanya. Kita...tidak akan mengenal satu sama lain." Ai mengembalikan pandangannya kepada Conan sudah dengan ekspresi datar kembali, ia mengulurkan tangannya lebih jauh untuk mendekati pria yang ia sebut detektif bodoh, meminta Conan mengambilnya.

"Jangan bercanda Ai, aku baru saja ingin merekomendasikan kamu untuk masuk tim forensik biro keamanan publik. Kita bisa mengerjakan banyak kasus bersama dan—" Ucapannya terputus, ia terganggu dengan tatapan sayu Ai dengan senyuman kecil wanita itu. Keheningan tiba-tiba memenuhi sekeliling mereka. Namun, tidak butuh lama untuk Conan memecahnya  "Kamu akan ikut Witness Protection Program?"

Ai tidak perlu menjawab untuk mengkonfirmasi ucapannya. Perasaan campur aduk menekan dadanya, dia itu detektif, otaknya mungkin sanggup untuk mengurai kasus sulit yang bahkan terlihat tidak terpecahkan, tetapi untuk memahami apa yang dirasakan bukanlah hal yang mudah baginya. "Y...ya aku tidak bisa memaksamu untuk tidak melakukan hal itu, tetapi bukankah kita tetap bisa berhubungan? aku membutuhkanmu...kau sahabatku yang bisa memberikanmu perspektif, tetapi bukan seperti Heiji." Kecepatan bicara Conan serta gestur tangannya tanpa sadar berusaha memperagakan betapa bingung dan takutnya dia sekarang.  

Takut...? Apa yang tuan detektif ini takutkan?

Meskipun Conan berbicara panjang lebar seperti itu. Hanya keheningan yang ia dapatkan sebagai timbal balik dari Ai. "Oi oii Ai, jangan mendiami aku seperti itu." Tatapan matanya sudah berubah 180 derajat sekarang dan tangannya sudah berhasil meraih bahu Ai untuk membujuknya.

Never NotHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora