Hello, I'm an amateur writer, so I will continue to try to improve my writing style and the way I write the plot!!
Terima kasih sudah click cerita ini, so jangan lupa untuk click juga votenya ^~^
Happy Reading!!
$1,5M
Deru mesin V6 turbo-hybrid masih berdenging tipis di telinga Matteo Rossi saat ia melepas helm full-face miliknya. Peluh dingin menetes melewati rahang tegas berkulit zaitun, menyusuri leher dan lenyap di balik pakaian balap berbahan Nomex yang tebal.
Sesi latihan bebas sore itu di Sirkuit Internasional Sepang berjalan mulus, namun ada rasa hampa yang terus menggaruk bagian belakang kepalanya.
Seharusnya, ia langsung menuju ruang taktik tim untuk mengevaluasi telemetry bersama para insinyur. Namun, rindu pada riak tenang di kondominium mewahnya di Kuala Lumpur mengalahkan disiplin profesionalisme. Matteo ingin kejutan kecil. Ia ingin memeluk istrinya, menyerap sedikit kehangatan sebelum race weekend resmi dimulai.
Kejutan itu memang terjadi. Hanya saja, Matteo yang menjadi korbannya.
Suara desah pelan dan tawa renyah menyambutnya begitu pintu penthouse terbuka tanpa suara. Sepasang sepatu pria berukuran besar tergeletak asal di atas marmer Italia-bukan milik Matteo.
Di atas sofa kulit ruang tengah, pemandangan itu tersaji tanpa filter. Sofia, wanita yang dua tahun lalu mengikat janji suci bersamanya, tengah berada di dalam dekapan seorang pria muda.
Pria itu-seorang pemodel lokal yang Matteo kenal kerap lalu-lalang di ajang sosialitas-bahkan tidak repot-repot memakai bajunya kembali.
"Cazzo..." bisik Matteo. Suaranya serak, bukan karena marah, melainkan shock yang melumpuhkan.
Sofia melonjak kaget. Wajah cantiknya pucat pasi, namun kepanikannya hanya bertahan tiga detik sebelum digantikan oleh sorot mata defensif.
"Matteo! You... you were supposed to be at the track until 8 PM!" seru Sofia. Bahasa Inggrisnya beraksen tebal khas Malaysia, panik namun penuh nada menyalahkan. "I can explain, okay? Don't make a scene lah!"
Matteo tidak berteriak. Sebagai pengemudi Formula 1 yang terbiasa mengendalikan dorongan G-force pada kecepatan 350 km/jam, ia tahu cara menjaga detak jantungnya tetap stabil saat badai menerjang. Ia hanya menatap Sofia, lalu beralih pada pria di sampingnya yang kini terbata-bata mencoba memakai celana.
"Get out," ujar Matteo datar, suaranya tenang seperti lautan sebelum tsunami. "Both of you. Before I forget my manners."
$1,5M
Jakarta, 03:00 WIB.
Aroma mentega leleh dan kayu manis samar-samar masih tercium dari chef's jacket yang tergantung di sudut kamar. Genevieve Aurelia-biasa dipanggil Evie-memasukkan kemeja linen terakhirnya ke dalam koper berukuran large.
Di usianya yang menginjak 27 tahun, Evie telah menaklukkan dapur-dapur panas di berbagai restoran berbintang. Namun, hatinya selalu kembali ke tempat yang sama yakni lautan. Sebagai Junior Sous Chef di salah satu kapal pesiar ultra-mewah, The Celestial Voyager, hidup Evie berada di antara hiruk-pikuk dapur kapal dan suara ombak yang menghantam lambung besi.
Koper pertama selesai dikunci. Evie berdiri di tepi jendela apartemennya di Jakarta Selatan, menatap deretan lampu kota yang bertahap padam.
"Dua bulan di darat ternyata terlalu lama," gumam Evie pelan. Tangannya mengusap leher belakangnya yang pegal.
Esok pagi, ia harus terbang menuju Singapura untuk naik ke atas kapal. Jadwal pelayaran kali ini cukup melelahkan dimana melintasi Selat Malaka, menyusuri pesisir Asia Tenggara, hingga merapat di beberapa pelabuhan kelas dunia.
Pikirannya dipenuhi oleh persiapan menu fine dining, kalkulasi bahan baku, dan manajemen staf dapur yang kerap keras kepala.
Tidak ada ruang untuk drama percintaan. Tidak ada waktu untuk patah hati. Bagi Evie, dapur adalah tempat perlindungan sekaligus medan perang. Dan di atas kapal pesiar nanti, ia adalah penguasa rasa.
$1,5M
Dua minggu setelah persidangan perceraian ketat yang diajukan Matteo, sebuah apartemen sewaan di kawasan elit Bukit Bintang menjadi saksi pertengkaran sengit.
"I tell you, I don't have money anymore, Farhan! You remember that?!" suara Sofia melengking tinggi, memecah kesunyian malam.
Di hadapannya, pria muda-selingkuhannya-tengah berkacak pinggang sambil mengunyah permen karet dengan gaya acuh tak acuh.
"Come on, Sof. You got the settlement, right?" sahut Farhan dengan bahasa Inggris bercampur Melayu yang santai. "You can't just leave me hanging like this lah. I need to pay for my car instalment, okay? You've been promise me to support my business!"
"Settlement hotak kau!" maki Sofia, napasnya memburu. "Matteo's lawyers completely blocked everything! Prenup tu sah, you know or not?! I only get peanuts! Duit yang I ada sekarang ni cukup-cukup untuk I survive saja!"
Sofia melempar ponselnya ke atas meja. Layarnya memancarkan puluhan panggilan tak terjawab yang ia tujukan kepada Matteo Rossi. Tidak ada satu pun yang diangkat.
"You are useless, Farhan! Dulu masa I dengan Matteo, all my bags, my holiday, everything he paid! You? You don't even have a proper job! All you know is asking money from me! Parasit!"
Farhan terkehok sinis, merapikan jaket kulitnya. "Hey, relax lah. You yang terhegap-hegap dekat I dulu, kan? Now you want to complain? If you want money, call your ex-husband lah. Ask him to take you back. But I guess he won't, cause you already ruined everything."
Tanpa rasa bersalah, Farhan melangkah keluar dan membanting pintu penthouse sewaan itu, meninggalkan Sofia yang gemetar menahan amarah dan penyesalan. Di Malaysia, tanpa koneksi dan kekayaan Matteo, Sofia bukan siapa-siapa lagi.
Sofia meremas ponselnya kembali, memutar nomor Matteo untuk keseratus kalinya malam itu.
$1,5M
"Panggilan Anda dialihkan ke kotak suara..."
Di dalam suite hotelnya di Singapura, Matteo mematikan ponselnya dan melempar benda itu ke dalam laci meja. Wajahnya dingin, tanpa ekspresi.
Gelar juara dunia Formula 1 musim ini berada di depan mata, namun fokusnya runtuh akibat hiruk-pikuk pers dan media sosial terkait perceraiannya. Tim manajemennya menyarankan satu hal yanni melarikan diri sejenak sebelum race penentu di Asia Tenggara. Menjauh dari daratan, menjauh dari kejaran wartawan, dan menjauh dari masa lalunya.
The Celestial Voyager. Sebuah pelayaran pribadi selama satu minggu mengelilingi perairan Asia Tenggara adalah keputusan impulsif terbaik yang pernah Matteo ambil.
Di saat yang sama, di dek bawah kapal pesiar megah itu, Evie mengencangkan ikatan apron putihnya. Ia berdiri di hadapan jajaran tim dapur, menatap deretan pisau chef yang berkilau di bawah lampu fluorosens.
"Malam ini, kita menyambut para tamu VIP," suara Evie tegas, bergema di antara bau seafood segar dan kaldu yang mendidih. "Saya tidak mau ada kesalahan. Satu presisi, satu kesempurnaan."
Character✨
—
——
29th y.o
Matteo Rossi bin Mazhoer Zulfikar Iskandar
National University of Singapore
F1
———
24th y.o
Genevieve Aurelia
Le-Cordon Bleu
Junior Sous Chef
———
TBC
YOU ARE READING
Feeling One
ActionBagi Matteo Rossi, kecepatan 350 km/jam di lintasan Formula 1 jauh lebih mudah dikendalikan daripada kehancuran pernikahan yang dikhianati. Skandal perceraian yang memanas dan kepungan media mengancam fokusnya menjelang laga penentu gelar juara dun...
