PROLOG

6 0 0
                                        

"Saya akan menikahi kamu, jadi jaga perilaku kamu di depan saya."

"Apa maksudnya? Saya gak ingin menikah sama Bapak! gak akan pernah!!" Zora melepas genggaman Abizarra dari pergelangan tangannya.

Gadis yang masih belia itu menangis tatkala Bhagawanta dan Tyas, orang tuanya menerima pinangan pria yang dia benci tanpa sepengetahuan. Zora sangat kecewa, bisa-bisanya mama dan papa yang ia pikir sangat menyayanginya, malah menerima pria itu.

Sebagai gantinya, perusahaan Bhagawanta yang sedang berada di ujung tanduk akan kembali normal. Dengan kata lain, Zoraila dijual demi bisnis. Dan itu sangat menyakiti hati gadis yang masih berada di bangku sekolah itu.

Gadis itu melangkahkan kakinya dengan cepat, menjauh dari Abizarra yang sengaja membawanya ke taman untuk membicarakan tentang hal yang sangat membuat Zora muak.

Pernikahan? Sepertinya Abizarra hanya bermimpi!

Dia terus berlari, mengabaikan Abizarra yang terus memintanya untuk berhenti. Zora tidak menghiraukan pria itu, langkahnya menuntunnya untuk menjauh.

"Zora! Kamu cuma akan mempersulit semuanya kalo gini!" Abizarra mengejar gadis itu.

Dia memegangi lengan Zora saat gadis itu akan menyebrangi jalan yang begitu ramai malam hari ini.

"Bapak kenapa melakukan ini semua sama saya?!" hardik Zora.

Air matanya menetes membasahi pipi, ia menatap pria yang sangat dibencinya itu dengan sorot mata muak dan benci.

Sangat benci.

Zora tidak ingin menikah di usia semuda ini, bahkan sekolahnya saja belum selesai. Dengan berani pria yang notabennya adalah guru matematikanya itu datang melamar. Sialnya, orang tuanya menyetujui.

"Saya masih mau sekolah, Pak! Masa depan saya masih panjang, masih banyak yang ingin saya lakukan! Kenapa datang dan mau merenggut semuanya?!" Zora berteriak di depan Abizarra.

"Kenapa?!"

Pipi gadis itu basah akan air mata yang terus meluruh tak ada habisnya, dada Zora berdenyut sakit mengingat orang tuanya yang begitu tega. Apa harta yang Abizarra janjikan untuk mereka lebih berharga dari Zora?
Apakah kekuasaan bisa dengan mudah menggantikan Zora? Jika iya, maka dipastikan Zora sangat kecewa pada mereka.

"Ikut saya, jangan menangis di tempat ramai seperti ini. Kamu bukan anak kecil!"

"Terus kenapa?" Zora menatap nyalang Abizarra, "saya tidak boleh marah, begitu?! "

"Apa hak pak Abi mengatur saya?!" Zora menunjuk Abizarra dengan tatapan tajamnya, "jangan ikut campur apa pun!!"

Abizarra menatap Zora dengan tatapan marah, ia menarik tangan gadis itu dengan erat. Membawa Zora meninggalkan taman yang mulai ramai akan pengunjung, sebelum menjadi bahan perhatian lebih lama.

"Lepas!"

"Jangan berlagak, Zora!"

"Diam! Kamu pikir dengan marah-marah seperti ini semua akan selesai?!"
Abizarra membawa Zora masuk ke dalam mobil, meminimalisir orang-orang yang berpikir tidak-tidak padanya.

"Pak Abi tidak mengerti! Saya-"

"Apa yang kamu mengerti dan tidak saya mengerti?!"

Pipi Zora basah, hatinya begitu sakit. Siapapun tolong bawa Zora pergi dari sini, ia sungguh tidak ingin mengorbankan masa remajanya untuk sebuah pernikahan dini.

"Dan juga, jika saya harus menikah, saya pastikan itu bukan dengan Pak Abi!"

Abizarra, shut your math! Historias para obsesionarse. Descúbrelo ahora