Peringatan!
Cerita ini hanya fiksi belaka!
Alur/plot dalam cerita ini murni adalah karangan penulis, jadi mohon kepada pembaca untuk tetap mengutamakan kebijakannya dalam membaca. Terima kasih.🙏🏻
┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈
𝑫𝒐𝒎𝒊𝒏𝒂𝒕𝒆𝒅!
Plak!
"Apa yang baru saja kau lakukan, hah? Kau tahu siapa dia? Apa kau memang berniat mau mempermalukan aku? Kau─ugh!"
Masa bodoh siapa pun orang itu. Ryan hanya menyunggingkan senyum smirk, menatap pria yang saat ini sedang dikuasai emosi yang menggebu-gebu di hadapannya itu. Ia bahkan tak sama sekali terlihat goyah setelah mendapatkan sebuah tamparan keras yang mendarat di pipinya barusan.
Sakit di pipinya bukanlah apa-apa, meski pun pria itu menusuknya dengan menggunakan belati untuk meluapkan emosinya. Tak ada satu pun manusia di dunia ini yang ia takuti, sekali pun itu adalah orang tuanya sendiri. Hingga tiba-tiba saja ia pun terkekeh, membuat pria itu mengernyit keheranan.
"Apa yang kau tertawakan?" Pria itu menatapnya nyalang. "Apa menurutmu ini lucu?"
"Tidak, tidak ada yang lucu. Aku hanya ingin tertawa saja" jawab Ryan datar, yang membuat pria itu semakin kalap.
"Dasar bajingan. Kau benar-benar membuatku muak, Ryan."
"Oh ya?" Ryan mendengus santai. "Kau muak padaku? Sekarang coba katakan, bagian diriku yang mana yang membuatmu sampai semuak itu?"
"Semuanya! Bahkan tatapanmu itu saja sudah membuatku muak dan ingin mencongkel bola matamu itu!"
"Maka lakukanlah," tantang Ryan yang lalu mendekat hingga akhirnya ia berdiri selangkah lebih dekat tepat di depan pria itu.
"Mau apa kau? Menjauhlah dariku, atau─"
Ucapan pria itu seketika terhenti tatkala secara tiba-tiba Ryan mencondongkan tubuhnya ke arahnya, hingga wajahnya kini berada sangat dekat dengan wajah pria yang seketika syok itu.
"Atau apa, hm?"
"A-apa yang kau lakukan?"
"Apa yang kulakukan? Bukannya kau mau mencongkel mataku? Ayo, ayo congkel saja kalau kau mau. Aku tidak akan menghentikanmu," ucap Ryan sama sekali tak gentar.
Pria itu tak berkutik. Dan terlihat jelas nyalinya memang tidak setinggi itu untuk melakukannya, yang hanya dianggap oleh Ryan seperti gertakan seekor anak anjing yang lemah saja.
"Kenapa? Apa kau takut?" Ryan lantas mendecih. "Aku jadi penasaran, sebenarnya apa yang membuatmu sebegitunya membenciku?"
Secara perlahan pria itu menarik diri, menjauhkan wajahnya yang saat ini sudah memerah karena sudah di ujung kecanggungan. "Sikapmu," jawabnya penuh penekanan namun berusaha menghindari tatapan Ryan. "Sikapmu yang terlalu angkuh dan seperti menganggap remeh siapa pun itu."
"Begitu? Angkuh dan meremehkan siapa pun, ya?" Ryan memalingkan wajahnya dengan kedua alis yang terangkat.
Ia bahkan tidak tahu kalau selama ini ada sisi seperti itu dalam dirinya, yang bahkan tidak pernah terpikirkan untuk memperlakukan orang lain demikian. Terutama pada pria di hadapannya itu, yang jelas-jelas sudah salah menilainya selama ini.
"Oke, aku harus pergi. Mulai sekarang berhentilah menggangguku, atau kau akan kulaporkan atas tindakan mengganggu ketenangan orang lain" ancam pria itu─bermaksud mengakhiri percakapan di antara mereka.
Namun saat baru saja ia akan melangkah pergi, Ryan dengan cepat mencengkeram lengannya hingga tersentak kembali. "Jangan pergi seenaknya. Aku belum selesai denganmu," ucapnya menatap tajam kedua mata pria itu.
"Lepaskan," dengus pria itu sambil menepis cengkeraman Ryan.
"Tidak," jawab Ryan lantas mengarahkan jari telunjuknya ke dada pria itu. "Tidak, sampai kau mempertanggung jawabkan salahmu padaku."
"Apa maksudmu?" Pria itu mengernyit tidak mengerti. "Kau bilang aku salah? Memangnya kesalahan apa yang kuperbuat? Bukannya kau yang harusnya meminta maaf padaku?"
"Kau mau tahu apa kesalahanmu?" Ryan lalu mendekatkan dirinya lebih dekat lagi, hingga membuat pria itu turut menarik diri─melangkah mundur hingga menabrak tembok yang ada di belakangnya.
"Tunggu," kata pria itu menghentikan langkah Ryan yang semakin menyudutkannya. "Apa kau sampai harus bertindak seperti ini?"
"Kenapa, hm? Apa kau mulai takut? Mana nyalimu yang ingin mencongkel mataku tadi?"
Seketika bulu di hampir sekujur tubuh pria itu meremang melihat perubahan sikap Ryan saat ini, namun ia berusaha untuk tetap tenang walau sebenarnya ia merasa tidak nyaman. "Tolong biarkan aku pergi," pintanya kemudian.
"Membiarkanmu pergi?" Ryan mendengus. "Tidak akan," sambungnya dengan nada dan suara yang terkesan tegas seraya kembali mencengkeram lengan pria itu dengan kuat. "Tidak akan sampai kau mau ikut pulang bersamaku."
"Tidak, aku tidak mau" tolak pria itu sambil menggeleng dan meringis kesakitan. "Memangnya sejak kapan kau berhak memerintah orang lain untuk menuruti keinginanmu, hah?"
Namun Ryan mengabaikannya dan sekali lagi mempertegas perkataannya. "Ikut bersamaku, atau kau akan menyesalinya."
"Tidak!" Pria itu pun tetap bersikeras dengan penolakannya, bagaimana pun juga. "Aku tidak mau! Cepat lepaskan aku!"
Meski pria itu berusaha menolaknya sambil terus memberontak, Ryan tetap menyeretnya pergi dengan paksa. Tak peduli meski saat ini semua mata tengah mengarah pada mereka, tak peduli walau pria itu memohon untuk melepaskannya. Ryan terus mengayun langkah tanpa goyah.
┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈
A/N: Halo...
Mungkin nanti "Siapa Aku Di Matamu" bakal aku unpublish, setelah ngalamin masalah gara² gangguan tempo hari. Padahal udah dapat 2 bab, bayangin aja gimana capeknya otak mikirin alurnya yang ujung²nya hilang. 😓
Jadinya malas banget mau mulai lagi dari awal, makanya aku putusin mungkin aku harus unpublish-kan aja. 🙂
Maaf ya udah mengecewakan. 🙏🏻
Kebetulan aku juga baru balik nulis lagi di tahun ini, setelah sekian lama ga nulis (stop dari tahun 2019) karna ga bisa masuk lagi di akun lamaku. Makanya cara penulisanku yang sekarang masih rada kaku, dan masih butuh latihan lagi walau pun harus pelan-pelan. 🥲
