Di bawah langit senja yang membara seperti tembaga, ada garis batas tak kasat mata yang memisahkan dua dunia. Di satu sisi, imperium kolonial berdiri di atas hukum besi, seragam kaku, dan derap sepatu lars yang menuntut ketundukan mutlak. Di sisi lain, sisa-sisa keagungan tanah Jawa bersemi dalam ketenangan pendopo kayu jati, aroma melati, dan darah bangsawan yang menolak tunduk pada angin penjajahan.
Dua dunia itu seharusnya tidak pernah bersentuhan, selain dalam bentuk titah dan perlawanan.
Jacobus Frederik van den Berg, controleur muda berdarah dingin yang terbiasa melihat dunia berlutut di bawah telapak kakinya, tidak pernah menduga bahwa kunjungannya ke pendopo kuno keluarga Ronggolawe akan menjadi awal kehancuran benteng pertahanan hatinya. Ia datang membawa ancaman, siap menghukum siapa saja yang berani menentang imperium.
Namun, di sana ia justru menemukan Raden Roro Ayu Saraswati, seorang wanita berdarah ningrat yang tidak hanya memiliki ketajaman berpikir yang mematikan, tetapi juga tatapan mata paling menantang yang pernah ia temui dalam hidupnya.
Pertemuan pertama mereka dipenuhi percikan api permusuhan. Bagi Jacobus, Saraswati adalah simbol kepala batu yang harus dipatahkan. Bagi Saraswati, Jacobus adalah lambang penindas arogan yang pantas dilawan. Setiap kata yang keluar dari bibir mereka adalah duri, setiap tatapan adalah medan perang kecil yang membakar ego keduanya.
Namun, takdir memiliki cara yang paling ironis untuk mempermainkan manusia.
Siapa sangka, di balik bara kebencian yang sengaja ia pelihara untuk menutupi rasa penasarannya, pertahanan terkuat sang perwira muda justru runtuh perlahan. Setiap kali Jacobus mendekat untuk menghukum, ia justru semakin terperangkap dalam pesona yang tidak bisa ia jelaskan. Tatapan tajam itu lambat laun berubah menjadi debar yang asing, argumen-argumen pedas Saras menjelma menjadi candu yang paling ia nantikan setiap harinya, dan pipi tembam yang awalnya ia anggap menyebalkan, justru menjadi satu-satunya hal di dunia yang ingin ia sentuh.
Benci, yang awalnya membara bagai api pengadilan, perlahan-lahan lumer di bawah kehangatan tanah Jawa dan ketulusan jiwa seorang wanita yang menolak tunduk.
Di antara deru angin pesisir Toeban, bau rempah-rempah, dan bayang-bayang senja kolonial. Mereka berdua terperangkap. Terjebak dalam labirin perasaan yang mereka tentang sendiri. Garis tipis antara benci dan cinta meleleh perlahan di bawah terik matahari Toeban, mengubah permusuhan yang membara menjadi jeratan rasa yang tak lagi mampu mereka elakkan.
- wangi melati di tengah mesiu -
loonarloraa
----------
Catatan Penulis : Sebuah karya fiksi. Tokoh dan peristiwa bersifat fiktif, cerita ini hanya mengambil inspirasi dari latar Tuban pada era kolonial. Visualisasi karakter di dalam cerita ini hanya meminjam visual idola sebagai ilustrasi pendukung fiksi, tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan nyata.
YOU ARE READING
Wangi Melati di Tengah Mesiu
Historical FictionLatar belakang Tuban tahun 1897 menjadi saksi bisu benturan dua dunia yang keras, kediktatoran kolonial Belanda dan sisa-sisa harga diri ningrat tanah Jawa. Kisah ini berpusat pada Jacobus Frederik van den Berg, seorang controleur muda berusia 26 ta...
