Hawa dingin Snezhnaya yang menusuk tulang adalah hal pertama yang menyengat kesadarannya.
Wanderer tersentak, kelopak matanya terbuka lebar. Napasnya memburu, refleks matanya terbuka begitu udara dingin yng dikenalinya lama menusuk kulit, bukan rasa sakit atau sisa-sisa kehampaan setelah pertempuran besar di Sumeru. Beberapa hari yang lalu, Dottore baru saja dikalahkan.
Seingatnya, Nahida bahkan telah membakar Irminsul untuk menghapus sejarah kelamnya. Dia seharusnya berada di bawah naungan pohon agung Sumeru, menjalani hidup baru sebagai sosok yang asing bagi dunia. Sebagai mahasiswa biasa.
Namun, pemandangan di depannya menghancurkan semua logika itu.
Bukan langit-langit kayu khas akademi Sumeru yang ia lihat, melainkan langit-langit tinggi berukir megah dengan dominasi warna perak dan biru tua.
Ia tidak sedang bersandar di bawah pohon besar Sumeru. Ia berada di atas ranjang mewah bertirai beludru tebal. Arsitektur ruangan yang megah, pilar-pilar batu es yang kokoh, dan lambang Fatui yang terpahat besar di dinding seberang. Ini adalah Istana Zapolyarne. (Bener gak sih nulisnya?)
Ia bangkit berdiri, menatap sekeliling kamar mewah yang terasa sangat familier sekaligus memuakkan. Di sudut ruangan, tergantung sebuah jubah besar berbulu tebal dengan lambang Fatui yang amat ia kenali. Saat melangkah mendekati cermin besar di sudut kamar, langkahnya terhenti. Di dalam pantulan kaca, sosok yang menatapnya balik bukan lagi si pengembara berbaju biru dengan visi Anemo di dadanya.
Itu adalah Scaramouche. Ke-6 dari Fatui Harbinger. Sang Balladeer.
"Bagaimana bisa...?" bisiknya, suaranya bergetar. Tangannya menyentuh permukaan cermin yang dingin. Irminsul sudah dibakar. Dia seharusnya sudah terbebas. Mengapa dunia justru menyeretnya kembali ke tempat terkutuk ini?
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu yang tiba-tiba itu memecah keheningan, membuat Wanderer tersentak mundur hingga punggungnya menabrak tiang ranjang. Panik yang luar biasa mendadak menyerang kepalanya.
Wanderer menarik napas dalam-dalam, mencoba mengendalikan gemetar di tangannya. "Masuk," jawabnya, berusaha menjaga suaranya tetap sedatar mungkin, walau terdengar sedikit serak.
Pintu terbuka perlahan, memunculkan seorang prajurit Fatui dengan seragam lengkap. Kedua tangan bawahan itu memegang tumpukan dokumen tebal.
Namun, yang paling menarik perhatian Wanderer adalah bagaimana tangan itu bergetar hebat. Lutut prajurit itu tampak lemas, seolah-olah melangkah masuk ke kamar ini adalah hukuman mati baginya.
"M-My Lord..." suara prajurit itu tercekat di tenggorokan. "Saya... saya membawakan laporan logistik bulanan yang Anda minta kemarin. Mohon maaf atas keterlambatan ini, My Lord!"
Prajurit itu langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam, bersiap menerima makian, lemparan barang, atau bahkan hantaman petir yang biasanya dilemparkan oleh Sang Balladeer jika ada hal kecil yang tidak berkenan di hatinya.
Ia menatap dokumen di tangannya, lalu beralih menatap bahu bawahannya yang sedikit gemetar menanti respons.
Melihat tubuh yang gemetar di depannya membuatnya meringis.
Ia teringat betapa ringannya tangan dia dulu. Menendang bawahan hingga tulang rusuknya patah, mencaci maki mereka seolah mereka tak lebih dari sekadar sampah pemuas amarahnya, dan membiarkan mereka mati dalam misi bunuh diri tanpa rasa peduli. Dalam pikiran kekanak kanakannya, manusia-manusia ini hanyalah pion tak berguna yang boleh diinjak sesuka hati.
Dia meluapkan semua kemarahan, pengkhianatan masa lalunya, dan kebenciannya pada dunia kepada orang-orang di sekitarnya. Dia selalu melukai bawahannya, memaki rekan kerjanya, dan tidak pernah menganggap mereka sebagai sesama makhluk hidup.
Kini, melihat kejadian ini berulang dengan sudut pandang dirinya yang sekarang, yang sudah memahami apa itu rasa sakit dan empati, membuatnya mual.
'aku tau aku brengesk tapi.. Aku tidak tau kalau dulu aku sekejam ini hingga mereka ketakutan setengah mati hanya untuk mengantar kertas?' batin Wanderer, matanya melembut tanpa sadar.
YOU ARE READING
Kembali Ke Cerita Lampau
Fanfictionaku udah lama buat cerita ini tapi masih banyak yang perlu di revisi. sebenanya buatnya sebelum durin jadi manusia (gila gak tuh) tapi akhirnya aku rombak lagi dan bakal aku pautin sama region snezaya sambil berjalannya cerita yang tak buat. kepiki...
