We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

Bab 1 - Dunia Yang Berbeda

486 36 5
                                        

Musim gugur baru saja menyelimuti Seoul.

Daun-daun berwarna jingga berjatuhan di sepanjang jalan menuju Universitas Hanguk, salah satu kampus paling bergengsi di Korea Selatan. Sejak pukul delapan pagi, halaman kampus telah dipenuhi mahasiswa yang berlalu-lalang, sebagian bergegas menuju kelas, sebagian lagi berkumpul di kantin sambil menikmati kopi hangat.

Namun, suasana itu berubah sesaat ketika sebuah mobil sedan hitam mengkilap berhenti tepat di depan gedung Fakultas Bisnis.

Semua mata seketika tertuju ke arah yang sama.

Saat pintu kemudi terbuka.

Seorang pria bertubuh tinggi keluar dengan langkah tenang. Almamater yang dikenakannya berpadu sempurna dengan kemeja putih tanpa sedikit pun kerutan. Rambut hitamnya tertata rapi, sementara wajah tampannya terlihat datar, nyaris tanpa ekspresi.

"Lee Jeno..."

"Itu Jeno, kan?"

"Gila... bahkan belum jam kuliah aja udah bikin orang deg-degan."

Beberapa mahasiswi berusaha mencuri perhatian. Ada yang sengaja melambaikan tangan, ada pula yang pura-pura menjatuhkan buku di depannya.

Namun Jeno bahkan tidak melirik.

Tatapan matanya tetap lurus ke depan.

Bukan karena sombong.

Ia memang terbiasa menjaga jarak.

Sebagai anak tunggal keluarga Lee, pemilik Lee Group yang namanya dikenal di seluruh Korea, hidupnya tak pernah benar-benar menjadi miliknya sendiri. Sejak kecil, setiap langkahnya diawasi. Setiap tindakan dinilai.

Karena itu, Jeno memilih diam.

Lebih mudah menjaga jarak daripada memberi harapan.

"Selamat pagi, Tuan Muda."

Satpam kampus membungkukkan badan hormat.

Jeno hanya mengangguk tipis sebelum melanjutkan langkahnya memasuki gedung.

Begitulah setiap hari.

Seolah semua orang mengenalnya, tetapi tak seorang pun benar-benar mengenal siapa dirinya.

.

.

.

Di sisi lain kampus...

Gedung Fakultas Psikologi jauh lebih tenang.

Tak ada kerumunan.

Tak ada mobil mewah.

Hanya seorang pemuda dengan hoodie abu-abu yang berjalan sambil memeluk beberapa buku bekas di dadanya.

Earphone kecil terpasang di telinganya, meski tak ada musik yang diputar.

Ia hanya ingin menghindari percakapan.

Park Jisung.

Mahasiswa semester enam.

Pendiam.

Jarang berbicara.

Dan hampir tak pernah terlihat berkumpul dengan teman-temannya.

Bukan karena ia membenci orang lain.

Ia hanya terbiasa menghadapi semuanya sendirian.

"Jisung."

Seorang dosen memanggilnya saat ia hendak memasuki ruang kelas.

"Nilai laporan observasimu sangat bagus."

One Night StandStories to obsess over. Discover now