We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

spoiler

87 6 0
                                        

Irama musik "Pulang-Float" memenuhi ruangan. Isi nya hanya aku dan Mr. K. Sudah 5 menit aku memandangi Mr. K yang sedang membaca buku braille nya. Entah apa yang membuat ku senang melihat jari-jarinya yang menari riang diatas buku braille nya, terlebih ia tak sadar sudah ku perhatikan se lama itu. Aku menghampirinya. Suara sepatu heels ku memecah keheningan
"tak... tak.. tak.."
Baru tiga langkah, ia sudah menghentikan aktivitasnya dan memasang telinga. Sengaja aku memutari kursi yang didudukinya satu kali. Jari yang semula bertumpu di atas meja kini berpindah ke pahanya. Ia tampak kebingungan mencari tahu dari mana aku datang. Entah mengapa, melihat ekspresi seperti itu selalu membuatku gemas.

Dari belakang, kuacak pelan rambutnya. Sudut bibirnya langsung terangkat membentuk senyum. Iseng, aku meniup tengkuknya.

"Fyuh..."

Tepat mengenai leher belakangnya. Aku tetap berdiri di sana, menunggu reaksinya. Namun tak ada apa pun yang terjadi. Kesal, aku hanya bisa berdecak pelan.

Ia memiringkan kepala ke arahku, lalu bertanya dengan nada heran "Ada apa?"

Aku hanya menggeleng pelan lalu menopang dagu di pundak nya sambil bertanya "baca apa tadi, sadar ga aku lihatin daritadi?"

Mr. K tampak terkejut mendengarnya ia menaikkan alisnya dan menganga sebentar. Aku selalu memperhatikan wajah nya yang putih dan pipi nya kemerah merahan

Ia menggeleng. "Hm? Jadi kamu gatau?" Tanya ku sambil menggoda dia
Ia menggeleng sekali lagi

Masih dengan raut muka bingung, aku mencolek hidung mancungnya menggunakan jari telunjuk.
"Udah ah jangan bengong mulu" ucapku sambil pergi meninggalkan dia. Aku sedikit lari menuju kasur empuk yang kami pesan dari 2 hari yang lalu. " Tunggu" kata nya, sebelum aku mendarat di kasur empuk.
Segera ku tolehkan kepala ku ke arah nya, ia sedang berjalan dengan langkah hati-hati menuju ke arah ku sambil meraba-raba sekitarnya agar tidak menabrak barang yang ada di sekitarnya.
Kedua tangan ku, ku silangkan sambil menunggu dia datang ke hadapan ku.
Tepat di hadapan ku tangan nya yang mulus menyentuh leher ku.
"Ah" desahku pelan. Bukannya menyingkirkan tangan nya malah makin menjelajahi leher ku. Tidak aku tidak akan tergoda kali ini
"Jangan" aku menyengkram tangan nya dan menyingkirkan tangan putih nya dari leher ku
"Kalau mau godain aku ga gitu caranya manis" lanjut ku tepat di telinga kanan nya

Ia membeku.

Jarak kami begitu dekat sampai aku bisa merasakan napasnya yang sempat tertahan. Jemarinya masih berada di pergelangan leherku, seolah ragu apakah harus melepaskan atau tetap di sana.

"Terus... harus gimana?" suaranya rendah.

Aku tidak langsung menjawab. Sebaliknya, aku mengangkat tangannya yang masih kugenggam lalu menempelkannya kembali ke leherku.

"Kalau kamu ragu," kataku pelan, "aku nggak akan tahu kamu lagi berani atau nggak."

Mr. K menelan ludah. Meski matanya tak bisa menangkap wajahku, kepalanya sedikit menunduk, berusaha mengenali keberadaanku dari napas dan suaraku.

"Kamu deket banget..."

"Iya."

"Sengaja?"

Aku tersenyum kecil. "Menurutmu?"

Bibirnya ikut terangkat tipis. Untuk pertama kalinya sejak tadi, ia tidak menarik tangannya. Sebaliknya, ibu jarinya bergerak pelan, seakan memastikan aku benar-benar berdiri tepat di hadapannya.

"Kamu suka bikin aku bingung gitu," gumamnya.

"Good for u."

"Kenapa bagus?"

"Karena kalau kamu bingung..." aku mendekat sedikit lagi hingga hanya tersisa beberapa senti di antara kami,

"...perhatian kamu cuma ke aku, ga berpaling ke lain."
Hening.

Lagu yang masih mengalun pelan kini terasa seperti menghilang. Yang tersisa hanya suara napas kami.

Mr. K mengembuskan napas pelan sebelum tersenyum kecil.

"Berpaling ke siapa, sayang? Aku aja ga bisa lihat." Ia terkekeh

"Hm?"
"Terima kasih Tuhan, sudah mempertemukan kita berdua" lanjut ku sambil menyunggingkan senyum licik

Mr. K ( On Going )Stories to obsess over. Discover now