Kereta itu penuh sesak; seakan tak ada ruang untuk oksigen merangsak masuk. Orang-orang dari berbagai kalangan usia duduk dan berdiri berdempetan memenuhi lorong dan kursi-termasuk seorang remaja perempuan yang berdiri di dekat pintu masuk; jauh dari kerumunan.
Eksistensinya bagai menguap di antara obrolan acak para penumpang.
Sorot mata perempuan itu terlihat kosong, memandang bayanganya sendiri yang terpampang di jendela kereta. Seolah melihat sosok yang tak lagi di kenalinya. Tangannya bersidekap; memeluk tubuh ringkihnya yang terbalut jaket tebal berwarna kelabu. Setengah wajahnya tertutup masker putih, dengan kepala yang tertutup tudung jaket-membuat ia tampak begitu menyendiri.
Jangan lupa sepasang earphone nirkabel yang terpasang apik telinganya-siap mengalirkan lagu-lagi hit yang sedang tren.
Namun nyatanya, benda itu hanya benda mati. Tak ada lagu yang terdengar di baliknya.
Hanya kekosongan yang meredam sedikit kebisingan.
Beberapa gadis berdiri tak jauh darinya, berpegangan pada perangkat kereta, nampak asik mengobrol. Entah itu kosmetik ataupun drama idola.
Hingga bisikan salah satu dari mereka menarik perhatiannya. Vane memandang mereka dengan datar-tanpa minat. Tapi apa yang mereka obrolankan selanjutnya benar-benar berhasil menarik keingintahuannya.
"Kau tau? Kakak kelas yang melompat bunuh diri sebulan lalu?" Gadis dengan kuncir kudu itu mencondongkan tubuhnya ke arah gadis berambut pendek di sebelahnya.
Gadis berambut pendek itu mengangkat alisnya-heran. "Tau. Memangnya kenapa? Apakah orang-orang mulai menyebarkan rumor hantu?" tanyanya tak berbobot. Matanya memutar malas.
Gadis kuncir kuda menggerakkan tangannya gemas. "Ishh, bukan! Memang ada, tapi bukan itu intinya! Katanya: Kakak kelas itu di bunuh! Bukan bunuh diri."
Nadanya tegas, bukan main-main seperti biasa; membuat gadis berambut pendek itu menoleh cepat ke arahnya. Seolah memastikan. Benar, atau cuma bohongan.
Tapi melihat tatapan pasti si gadis kuncir kuda membuat tubuhnya meremang hebat.
"Jangan berbohong! Aku penakut orangnya!Mendengar kabar dia bunuh diri saja aku terjaga sepanjang malam. Kau tau?" Gadis berambut memeluk tubuhnya yang bergidik takut. "Apalagi memikirkan seorang pembunuh berkeliaran di sekitar... Uhhh, rasanya aku bisa kencing di celana sekarang..."
Kemudian dia melanjutkan, "Aku lebih suka mendengarnya mengakhiri hidupnya sendiri-itu lebih bisa di terima, dari pada mendengar orang lain mengakhiri hidupnya."
"Tapi... Siapa?"
Keduanya terdiam. Tak ingin melanjutkan obrolan berat tentang nyawa seseorang yang di duga di renggut secara paksa.
Mata keduanya meliar-Seolah takut, bisikan mereka terdengar oleh si pembunuh.
Obrolan itu...berakhir begitu saja di tengah ramainya masa.
Vane yang sejak tadi mendengarkan keduanya; memiringkan kepala. Tampak berpikir. Mungkin ikut menduga-duga-Apa yang sebenarnya terjadi pada kakak kelas itu.
Ia tahu betul apa yang para gadis itu bicarakan. Sebuah berita yang masih hangat di telinga.
Remaja perempuan itu begitu larut dalam pikirannya, hingga tak menyadari kereta sudah berhenti dan orang-orang mulai bergerak keluar di antara arus orang-orang yang masuk.
Sebuah tepukan bahu menyadarkannya, diiringi pengumuman pemberhentian.
Vane mengerjapkan matanya dan mulai melihat orang-orang mulai berkurang. Kepalanya lalu menoleh, mendapati seorang pemuda asing berdiri di sampingnya.
YOU ARE READING
Wilt
ActionMereka bilang itu karena putus cinta, kecelakaan atau persaingan kecil. Dan berbagai dugaan lainnya. Namun benarkah demikian? benarkah itu alasan dari semua tragedi yang terjadi? Vane tak ingin ikut campur. Tapi keterlibatannya dengan Liam berhasi...
