• • •
Gue mendesis pelan saat ujung kapas beralkohol itu menyentuh luka robek di sudut bibir gue. Perihnya minta ampun, anjing.
Di pantulan cermin lemari yang agak retak, gue bisa melihat wajah gue sendiri-Mahen. Nama yang harusnya kedengaran keren, tapi sekarang lebih sering diasosiasikan sama buku merah di ruang BP dan masalah di jalanan.
Gue melempar kapas kotor itu ke tempat sampah di pojok kamar. Tawuran sore tadi di perempatan jalan baru bener-bener menguras tenaga. Musuh bebuyutan sekolah gue, STM Garuda, hari ini turun dengan massa penuh. Dan tentu aja, di barisan paling depan ada si bangsat Dehan. Ketua tawuran mereka. Otak dari semua taktik licik yang sering bikin anak-anak STM gue kocar-kacir.
Tiap kali gue ngelihat muka sok tenang Dehan di tengah tawuran, rasanya tangan gue gatal pengin langsung ngehancurin rahangnya. Tapi sialnya, hari ini hasilnya seri lagi. Sama kayak sebelum-sebelumnya. Sekolah gue dan sekolah dia itu ibarat dua anjing gila yang sama-sama kuat; nggak ada yang mau ngalah, dan nggak ada yang pernah benar-benar menang.
Gue baru aja meraih kaus hitam bersih dari lemari saat pintu kamar gue tiba-tiba didorong kasar. Nggak ada ketukan, nggak ada sopan santun.
"Mahen..."
Cuma satu orang di rumah ini yang berani masuk ke teritori gue tanpa permisi.
Mehan.
Adik kembar gue.
Kami cuma beda lima menit, lahir dari rahim yang sama, punya wajah yang 100% cetakan pabrik yang sama, tapi kelakuan kami? Beda lima dimensi.
Kalau gue lebih suka ngabisin waktu ngerakit mesin atau tawuran sampai bonyok, Mehan ini tipe cowok yang lembut, temen ceweknya segudang, dan jujur aja... agak melambai.
Satu-satunya cara orang luar bisa bedain kita cuma dari tanda lahir setitik di leher kiri gue. Sisanya? Kembar identik.
"Kenapa muka lo?" tanya gue, mengernyit.
Mata Mehan sembap. Hidungnya merah. Dia kelihatan kayak habis nangis berjam-jam.
"Bokap, Hen..."
Mehan sesenggukan, duduk di tepi kasur gue sambil meremas ujung kemeja kebesarannya.
"Gue dikunciin. Dilarang keluar rumah gara-gara sekolah nelepon Bokap. Mereka ngelaporin gue sering bolos bulan ini."
Gue memutar bola mata, meraih ponsel gue dari atas meja belajar, mengecek notifikasi grup STM sebentar sebelum menatapnya lagi.
"Terus? Ya wajar kan lo dihukum. Salah lo sendiri bolos sekolah cuma buat ngurusin acara dandan-dandan lo itu."
Mehan itu seorang crossdresser. Hobi yang awalnya bikin gue shock setengah mati waktu pertama kali mergokin dia pakai wig dan gaun di kamarnya dua tahun lalu.
Tapi gue sayang sama adik gue.
Sebandel-bandelnya gue, seberapa sering pun gue tawuran di luar sana, Mehan adalah keluarga gue. Gue bakal ngelindungin dia dari siapa pun yang berani ngejek hobinya.
Ya, kecuali Bokap, karena urusan sama orang tua itu di luar kuasa gue.
"Masalahnya, malam ini ada acara gathering komunitas, Hen! Ini penting banget buat eksistensi gue!"
Mehan merengek, menatap gue dengan mata memelas andalannya.
"Gue udah diundang dari bulan lalu. Kalau gue nggak dateng, nama gue bisa dicoret!"
"Ya terus lo mau gue ngapain? Dobrak pintu kamar Bokap biar lo bisa kabur?"
Mehan menelan ludah. Dia menatap gue lekat-lekat, lalu pandangannya turun ke sebuah tas jinjing besar yang ternyata dia bawa dari tadi.
YOU ARE READING
When Mahen Meet Dehan
General FictionGue pikir tawuran adalah masalah terbesar hidup gue. Ternyata Dehan jauh lebih berbahaya. "Gue rela nyamar jadi cewek demi adik gue. Sialnya, yang beli gue justru musuh terbesar gue. Fck!" • • •
