We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

Luka di Lantai Marmer

1 0 0
                                        

BAGIAN I

Pukul 01.47 dini hari.

Hujan turun tanpa suara angin.

Tetes-tetes air menghantam kaca apartemen Aruna Sarala di lantai dua belas dengan ritme yang nyaris menyerupai ketukan jari seseorang yang sabar menunggu dibukakan pintu. Tidak deras. Tidak pelan. Hanya konstan, seolah malam sedang menghitung sesuatu yang tidak ingin diketahui manusia.

Di atas meja belajar yang sempit, layar laptop masih menampilkan halaman kosong.

Kursor berkedip.

Satu kali.

Dua kali.

Tiga kali.

Bab ketiga tesisnya seharusnya selesai dua minggu yang lalu.

Namun selama dua minggu itu pula, ia hanya berhasil menulis beberapa paragraf yang kemudian dihapus lagi sebelum sempat disimpan.

Di sebelah laptop, buku-buku psikologi bertumpuk tidak beraturan. Sebuah cangkir kopi yang sejak sore dibiarkan dingin meninggalkan cincin kecokelatan di permukaan meja. Di bawahnya, jurnal kulit cokelat tua dengan sudut-sudut yang mulai aus terbuka pada halaman penuh coretan tinta hitam—catatan yang semakin sering ia baca, tetapi semakin sulit ia pahami.

Apartemen itu sunyi.

Bukan sunyi karena malam.

Melainkan sunyi karena memang tidak ada lagi suara lain yang menunggunya pulang.

Aruna sudah tidak menangis selama tiga bulan terakhir.

Bukan karena tidak ada yang perlu ditangisi.

Justru terlalu banyak.

Hanya saja, menangis membutuhkan tenaga. Dan akhir-akhir ini, tenaga terasa jauh lebih berharga jika digunakan untuk bertahan hidup.

Membalas pesan dosen pembimbing.

Menghadiri seminar.

Menyusun daftar pustaka.

Berpura-pura bahwa kehilangan seseorang bisa diproses seperti menyelesaikan tugas akademik—dicicil sedikit demi sedikit sampai akhirnya dianggap selesai.

Padahal kenyataannya tidak pernah demikian.

Ada kehilangan yang tidak mengecil seiring waktu.

Ia hanya belajar hidup lebih tenang di dalam diri kita.

Aruna memejamkan mata.

Kelopak matanya terasa berat sejak satu jam yang lalu.

"Hanya lima menit," gumamnya pelan.

Ia menyandarkan kepala di atas kedua lengannya.

Suara hujan perlahan menjauh.

Detak jam dinding memudar.

Dengung kulkas di dapur menghilang.

Satu per satu suara malam larut ke dalam keheningan.

Lalu...

Tidak ada apa-apa lagi.

---

Hal pertama yang membuat Aruna sadar bahwa ada sesuatu yang tidak beres bukanlah apa yang ia lihat.

Melainkan apa yang tidak ia dengar.

Tidak ada hujan.

Tidak ada suara kendaraan dari jalan raya.

Tidak ada dengung pendingin ruangan.

Tidak ada napasnya sendiri.

Keheningan itu terlalu utuh.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jul 18 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Sleep Cycle: ErrorStories to obsess over. Discover now