Lampu jalanan memantul di atas tangki motor hitam Kawasaki Ninja milik Jayna. Di ujung trek lurus kawasan elite yang sepi itu, raungan knalpot balap saling bersahutan, memekakkan telinga siapa saja. Namun tidak bagi Jayna Angelina Steven. Baginya, semua kebisingan ini terasa senyap. Dunia di sekitarnya bergerak cepat, tetapi isi kepalanya seolah membeku di satu titik yang hampa.
Milk Pansa melepas helm full-face-nya. Ia berjalan mendekat sambil menepuk pundak Jayna yang masih duduk diam di atas motor besar itu.
"Jay, lo balapan kayak orang mau mati tadi. Masalah rumah lagi?" tanya Milk. Suaranya setengah berteriak melawan desing nya angin malam yang menusuk tulang.
Jayna tidak langsung menjawab. Ia membuka kaca helmnya sedikit, menatap lurus ke aspal hitam yang masih berasap tipis akibat gesekan ban. Matanya sedingin es. Datar tanpa emosi.
"Gue cuma butuh ngerasa hidup, Milk," jawab Jayna. Suaranya serak, irit seperti biasa.
Milk menghela napas panjang. Ia sudah bertahun-tahun berteman dengan Jayna, berbagi hobi ekstrem yang sama di sirkuit taruhan tersembunyi ini. Milk adalah satu-satunya orang yang tahu bahwa di balik predikat murid berprestasi, kapten basket,visual yang dipuja satu sekolah, Jayna hanyalah remaja yang kesepian. Segala piala dan bakatnya adalah cara Jayna menutupi kekosongan di hatinya.
"Besok udah mulai masuk sekolah, Jay. Semester akhir," Milk mengingatkan sambil bersandar pada motornya sendiri. "Lo jangan sampai bolos upacara pertama. Katanya Ketua OSIS yang baru galak banget soal kedisiplinan. Anak emas para guru."
Jayna menghidupkan kembali mesin motornya. Deru Kawasaki yang bertenaga besar itu kembali bergemuruh, meredam seluruh suara di sekitar mereka.
"Gue nggak peduli," sahut Jayna dingin.
Tanpa aba-aba, tangan kanannya menarik gas dalam-dalam. Motor hitam itu melesat membelah malam, meninggalkan sirkuit tersembunyi dan segala beban yang enggan ia ceritakan.
Keesokan paginya, gerbang SMA Garuda sudah riuh oleh langkah kaki murid-murid yang kembali setelah libur semester. Di depan papan pengumuman dekat ruang OSIS, suasana tampak kontras dengan dinginnya sirkuit malam lalu.
"Pagi, Ginny! Selamat atas jabatan barunya, ya!" sapa seorang siswi dengan ceria.
Ginny Natnicha berbalik, melempar senyuman termanisnya yang selalu berhasil membuat siapa saja yang melihatnya merasa hangat. "Pagi! Makasih banyak ya, mohon bantuannya semester ini."
Sebagai Ketua OSIS yang baru, Ginny adalah definisi kesempurnaan sejati di sekolah. Cantik, ramah, murah senyum, dan berprestasi di klub teater sekolah. Hidupnya lurus dan penuh kasih sayang. Tangki cintanya dipenuhi oleh keluarga yang harmonis di rumah, membuatnya tumbuh menjadi sosok matahari yang selalu ingin menerangi sekitarnya.
Pangjie Paphavarin, sahabat dekat Ginny sesama pengurus OSIS, berjalan mendekat sambil membawa papan klip absensi. Langkah Pangjie yang tegas langsung terhenti saat melihat seseorang berjalan santai di koridor tanpa atribut atribut sekolah yang lengkap.
"Gin, lihat tuh. Hari pertama semester akhir, tapi dasinya ditaruh di saku, almamater cuma disampirkan di bahu," bisik Pangjie ketat, menunjuk ke arah koridor utama.
Ginny mengikuti arah pandang Pangjie. Di sana, berjalan seorang gadis jangkung dengan tatapan mata datar yang memikat namun tak tersentuh. Rambutnya sedikit berantakan terkena angin, memberikan kesan rebel yang kuat. Jayna.
Tepat saat itu, Mable Siriwalee-sahabat sekolah Jayna yang terkenal santai-berlari kecil menyusul Jayna dan merangkul pundaknya. "Jay! Lo telat semenit dari bel! Untung gerbang belum dikunci!"
Jayna hanya bergumam pelan menanggapi Mable. Langkahnya terhenti tepat beberapa meter di depan Ginny dan Pangjie yang sedang berjaga di koridor tengah.
Untuk pertama kalinya di semester ini, sepasang mata sedingin malam milik Jayna beradu pandang dengan sepasang mata sehangat matahari milik Ginny. Di lorong sekolah yang ramai itu, waktu seolah berjalan melambat bagi mereka berdua. Ginny mengerutkan keningnya, bersiap menegur, sementara Jayna hanya menatapnya kosong tanpa minat untuk berdebat.
Selamat membaca, jangan lupa vote dan komentar nya yah terimakasih.
ESTÁS LEYENDO
SECOND CHANCE - GINNY & JAYNA
RomanceSECOND CHANCE Bagi Jayna Angelina Steven, dunia ini terlalu bising sekaligus teramat senyap. Di luar, semua orang memujanya sebagai murid multitalenta, jago basket, bernyanyi dan memainkan gitar, hobi tersembunyi balap di sirkuit malam. Namun di dal...
