Prolog

10 1 0
                                        

Prolog
.
.
.

Balikpapan menyambut mereka dengan aroma laut yang samar dan udara lembap yang terasa lengket di kulit. Namun, bagi Riccel, tidak ada tempat yang lebih ia inginkan selain di dalam dekapan Kayan di mana pun itu, selama laki-laki itu ada di sisinya.

Satu tahun pernikahan telah berlalu, dan sekarang, mereka berdiri di depan pintu rumah kontrakan yang akan menjadi saksi bisu babak baru kehidupan mereka. Tidak ada lagi jarak ratusan kilometer, tidak ada lagi panggilan video yang putus-nyambung karena sinyal site yang buruk.

"Sudah siap, Sayang?"

Kayan berdiri di belakangnya, kedua tangannya melingkar hangat di perut Riccel, menyandarkan dagunya di bahu sang istri. Suaranya yang rendah vokal maskulin yang selalu berhasil membuat Riccel merinding terasa menggelitik ceruk lehernya.

Riccel tersenyum, menyandarkan kepalanya ke dada Kayan yang bidang. "Siap, Mas. Asal... mas jangan janji buat jadi workaholic terus ya?"

Kayan terkekeh pelan, tawa yang hanya milik Riccel. Ia memutar tubuh istrinya agar berhadapan langsung dengannya. Tatapan Kayan yang biasanya datar bagi orang lain, kini menatap Riccel dengan intensitas yang dalam, membuat napas Riccel tercekat. Jemari Kayan yang kasar karena sering memegang alat berat kini membelai pipi Riccel dengan kelembutan yang kontras.

"Aku akan selalu pulang, Icay. Ke sini. Ke rumah kita."

Kayan menunduk, mencium kening Riccel lama, lalu turun ke ujung hidungnya, hingga bibir mereka bertemu dalam kecupan yang tidak lagi malu-malu. Itu adalah kecupan yang menuntut, penuh rasa rindu yang tertahan selama masa LDR, dan janji akan malam-malam panjang yang lebih hangat.

Di dalam rumah itu, tidak akan ada lagi aturan jam malam. Tidak ada lagi keluarga yang harus dihormati setiap saat. Hanya ada mereka berdua, dengan segala privasi yang selama ini mereka mimpikan.

Riccel menarik kerah kemeja Kayan, mempererat tautan mereka. Ia tahu, di balik pintu kayu ini, mereka tidak hanya akan belajar berbagi tempat tidur atau meja makan. Mereka akan belajar bagaimana menjadi satu dalam segala aspek kehidupan yang paling jujur, paling intim, dan paling nyata.

Rumah mereka bukan sekadar struktur bangunan di Kalimantan. Rumah adalah setiap sentuhan Kayan, setiap bisikan "Sayang" di telinganya saat mereka terlelap, dan setiap napas yang mereka bagi di bawah satu atap yang sama.

Babak baru dimulai. Dan Riccel tidak sabar untuk setiap detik yang akan mereka habiskan dalam keintiman yang hanya akan semakin tumbuh dari hari ke hari.

Happy Reading 💘

Rumah yang BertumbuhStories to obsess over. Discover now