1

22 5 0
                                        

Suasana kampus terasa tenang bagi Zhu Zhixin yang memang tidak menyukai suasana ramai. Sebagai mahasiswa seni Zhixin lebih banyak menghabiskan waktu waktu di studio lukis daripada harus menghabiskan social energy menghadapi orang-orang.

"Azhi." Panggil seseorang.

Zhixin yang tengah melukis langsung berhenti dan menoleh pada pintu masuk.

"Apa?." Tanya Zhixin.

Sosok itu masuk dan berdiri di sisi Zhixin.

"Lo gak mau makan di kantin apa? Masa iya setiap jam matkul selesai Lo langsung kabur ke sini." Tanya nya.

Zhixin menghela nafas panjang dan bosan.

"Zhao Guanyu, kalo Lo mau ke kantin ya jalan aja sendiri. Gak usah ngajak gw karena, Lo pasti tahu jawabannya."

Guanyu menatap sengit sosok Zhixin.

"Gw maunya juga gitu! Tapi adik-adik Lo pada ngerengek nyari Lo terutama Enzai." Ucap Guanyu.

Zhixin membuang nafas kembali.

"Yaudah, duluan sana. Nanti gw nyusul nanggung ini bentar lagi selesai."

Guanyu mengangguk "yaudah, gw duluan."

Guanyu pun keluar dari studio, menyisakan keheningan yang kembali memenuhi ruangan.

Zhixin kembali menyelesaikan beberapa goresan terakhir di atas kanvasnya sebelum akhirnya meletakkan kuas.

"Kelar."

Ia merapikan meja kerjanya, mengambil tas selempang, lalu berjalan menuju kantin pusat kampus.

Begitu pintu kantin terbuka, suara ramai langsung menyambutnya.

Di sudut paling belakang sudah berkumpul belasan mahasiswa yang cukup mencolok perhatian.

"AZHI!!"

Zhang Junhao berdiri sambil melambaikan tangan tinggi-tinggi.

"Katanya bentar, ini bentarnya lima belas menit." protes Tong Yukun.

Zhixin hanya menghela napas kecil.

"Studio."

Satu kata itu sudah cukup membuat semua orang mengangguk paham.

"Udah sini duduk."

Guanyu menarik kursi kosong di sebelahnya.

Satu meja panjang itu memang sudah menjadi tempat langganan mereka sejak semester pertama.

Zhixin duduk di tengah, diapit Guanyu dan Deng Jiaxin.

"Mana pesanan gw?" tanya Zhixin santai.

"Belum gw ambilin."

"Kenapa?"

"Soalnya katanya yang telat harus ambil sendiri."

Yao Yuchen langsung menyeringai.

"Itu aturan baru."

"Siapa yang bikin?"

"Gue."

Seketika satu meja tertawa.

"Aturan apaan itu." gumam Zhixin sambil berdiri menuju stan makanan.

"Eh sekalian es teh lima belas!" teriak Zhang Ji.

"Lima belas pala lo."

Meja itu memang selalu menjadi pusat perhatian.

Bukan karena mereka ribut.

Melainkan karena jumlah mereka yang selalu lengkap.

Zhu Zhixin.

Zuo Hang.

Di Antara CINTA Dan OBSESI (Wenzhu)Stories to obsess over. Discover now