1

113 11 0
                                        

​Pukul 15:02, Park Jihoon baru saja tiba di depan rumah ayahnya setelah satu jam lalu mendarat di Bandara Internasional Seoul. Jihoon sebelumnya tinggal di Jepang bersama ibu kandungnya. Kedua orang tuanya telah bercerai saat ia berusia 12 tahun. Namun, tiga minggu lalu ibunya meninggal dunia, sehingga sang ayah memintanya untuk pulang ke Seoul dan tinggal bersama. Awalnya Jihoon menolak karena ia tak ingin kehadirannya membuat ibu tiri dan adik tirinya merasa tidak nyaman.

Namun, ibu tiri dan ayahnya tak henti-hentinya membujuk Jihoon agar mau pulang, hingga pada akhirnya Jihoon tak punya pilihan lain.
​Bagaimanapun, ibu tirinya adalah wanita yang sangat baik; ia menyayangi Jihoon seperti putranya sendiri, bahkan tak jarang ibu tirinya menemui Jihoon ke Jepang. Ibu kandungnya pun tak masalah akan hal itu; mereka justru menjadi sangat dekat hingga membuat banyak orang mengira mereka adalah saudara. Begitu pula hubungan Jihoon dengan adik tirinya. Jika bertemu, adiknya itu tak akan pernah melepaskan Jihoon barang sedetik pun.

Namun, itu dua tahun lalu, saat pertemuan terakhir mereka ketika sang adik masih kelas 2 SMA. Mereka berbeda satu tahun dan tidak memiliki hubungan darah—adik tirinya adalah anak dari mantan suami ibu tirinya. Kini, adiknya sudah berkuliah, sama seperti Jihoon.

Jihoon memandang gerbang di depannya. Tidak terasa sudah tujuh tahun ia tak pulang ke rumah ini. Rumah tempat ia dilahirkan dan dibesarkan sebelum pindah ke Jepang.

​"Siapa kau, dan mau apa kemari?" tanya pria berbadan besar dari balik gerbang yang masih tertutup.

​"Aku Park Jihoon, putra kandung Tuan Park. Apa beliau ada di rumah?" tanya Jihoon dengan senyum canggung.

​Alih-alih menjawab, pria itu malah pergi begitu saja tanpa membiarkan Jihoon masuk. Remaja itu bingung dan terus memanggil pria tadi agar kembali membukakan gerbang.

​"Apa aku salah rumah?" Jihoon melihat sekeliling. Meski banyak perubahan, ia yakin alamatnya benar. Ini memang rumah ayahnya.
​Saat Jihoon ingin mengeluarkan ponsel untuk menghubungi sang ayah, pria tadi kembali dan membukakan gerbang. Jihoon senang, pikirnya mungkin pria itu ingin memastikan identitasnya terlebih dahulu pada sang ayah.

"Silahkan masuk, Tuan sudah menunggu didalam" ujar Pria itu dengan datar

Setelah Jihoon masuk, gerbang kembali dututup. Jihoon terkejut kala melangkahkan kakinya memasuki pekarangan rumah, puluhan pria yang berpakaian sama dengan pria yang membukakan gerbang untuknya sedang berjejer didepan halaman rumah

'Siapa mereka semua, apa mereka bodyguard ayah? Tapi ayah tidak mungkin bisa mempekerjakan begitu banyak bodyguard ,dan untuk apa juga ayah memerlukan bodyguard sebanyak itu?' -batin Jihoon sambil melihat satu persatu bodyguard yang berjejer dihalaman depan. Seperti patung hidup, pikirnya. Bagaimana tidak, mereka hanya diam dengan posisi tegak, tanpa pergerakan sedikitpun...hanya mata yang berkedip juga nafas yang teratur, tidak ada ekspresi bahkan saat Jihoon melewati mereka

Ceklek

Sepi...dimana semua orang? Diluar begitu banyak pria berbaju hitam tapi didalam rumah sangat sepi seperti tidak ada penghuninya

DOR!

jihoon terkejut mendengar suara tembakan dirumahnya, seketika rasa khawatir akan keadaan orangtua juga adik kesayangannya, membuat Jihoon tanpa pikir panjang berlari kearah suara tembakan itu berasal

Sampai didepan pintu belakang rumah, Jihoon berhenti...rasa takut dan khawatir menghantuinya, tangannya memegang gagang pintu dengan memejamkan mata, ia berdoa agar tidak terjadi hal yang buruk... Perlahan ia membuka mata, menarik nafas untuk menenangkan diri, kemudian tangannya menekan kebawah gagang pintu. Namun sebelum Jihoon berhasil menarik pintu itu, seseorang lebih dulu menendang pintunya dari luar hingga membuat Jihoon tersungkur ke lantai

Flavor (Sukhoon)✅La tua prossima ossessione. Scoprilo ora