Liam Altair Santoso adalah seorang mahasiswa Arsitektur semester 6 di ibu kota. Malam seribu bintang yang telah ia lewati demi maketnya. Membuat Liam terus-terusan memperhatikan matahari yang mulai menyingsing setiap paginya.
Liam merasa dirinya in...
¡Ay! Esta imagen no sigue nuestras pautas de contenido. Para continuar la publicación, intente quitarla o subir otra.
Angin segar bertiup menggelitik lembut wajah tampan lelaki itu. Kelopak matanya perlahan terbuka sayu. Ah. ternyata sudah menjelang fajar.
Untuk kesekian kalinya, Liam terlelap di atas balkon apartemennya. Hanya untuk mengerjakan maketnya ini. Dia sedang diburu waktu. Padahal dering panggilan dari ibu dan ayahnya sudah berkali-kali menghantui Liam, menyuruhnya untuk segera pulang.
Liam bukannya tidak suka mengerjakan sesuatu di rumahnya.
Hanya saja, memandang gedung-gedung pencakar langit dari atas balkon membuat Liam tidak pernah kehabisan ide. Apalagi akhir-akhir ini Liam jadi menyadari, bahwa ia menyukai cahaya fajar yang membangunkannya.
Abrilliant moment.
¡Ay! Esta imagen no sigue nuestras pautas de contenido. Para continuar la publicación, intente quitarla o subir otra.
Terkadang rasanya Liam rindu dengan momen ini. Entahlah.
"Haah~ apa gua ketularan Asa ya jadi gini," Liam menyugar rambutnya ke belakang, lalu beranjak masuk ke dapur.
Menyeduh kopi.
Drtt Drtt
Astaga. Ini masih pagi sekali, namun dering notifikasi ponselnya sudah berkali-kali berbunyi. Siapa yang mengirim pesan pagi buta begini? Sembari mengaduk kopi, Liam dengan malas merogoh ponsel di saku celananya. Melihat beberapa pesan masuk tersebut, Liam menghentikan kegiatannya sejenak.
Adara: Haloo semua maaf ganggu pagi-pagi gini, kenalin gue Adara dari Fikom Adara: Sebelumnya maaf banget gue ijin masukin nomor kalian ke grup ini, soalnya kelompok lain ternyata udah buat grup sama dospem KKN mereka dari kemarin kemarin dan kita termasuk yang belum 😔 Adara: Selagi nunggu di add dosennya, kita kenalan aja di sini dulu yaw