Hujan turun sejak pagi, meninggalkan jejak air di jendela bus kota yang ditumpangi Jiyeon. Langit abu-abu menggantung rendah, membuat suasana Seoul terasa lebih dingin dari biasanya. Di kursi dekat jendela, gadis itu duduk diam sambil memeluk tasnya erat di pangkuan.
Earphone terpasang di telinganya, tetapi musiknya bahkan tidak benar-benar ia dengarkan. Tatapannya kosong, menembus kaca yang dipenuhi titik-titik hujan.
Bus berhenti di lampu merah. Segelintir manusia naik dan turun silih berganti. Suara obrolan, notifikasi ponsel, dan tawa kecil memenuhi ruangan sempit itu, tetapi Jiyeon tetap berada di dunianya sendiri.
Seperti biasa, ia memang terbiasa seperti itu sejak kecil. Pendiam, tidak banyak bicara, dan tidak pandai menjelaskan apa yang dirasakan.
Ibunya dulu sering berkata bahwa Jiyeon terlalu tenang untuk anak seusianya. Saat anak-anak lain menangis karena hal kecil, Jiyeon hanya diam. Saat kecewa, ia menyimpannya sendiri. Saat sedih, ia mengurung diri di kamar dan berpura-pura semuanya baik-baik saja keesokan harinya.
Awalnya orang-orang menganggapnya dewasa. Padahal sebenarnya Jiyeon hanya tidak tahu cara meminta dimengerti.
"Hal yang dipendam lama-lama akan jadi kebiasaan."
Kalimat itu pernah dikatakan gurunya sewaktu SMP. Jiyeon masih mengingatnya sampai sekarang, dan mungkin memang benar. Karena sekarang, bahkan ketika hatinya terasa penuh sekalipun, ia tetap tidak bisa mengatakan apa-apa.
-
Bus kembali berjalan. Gedung-gedung kampus mulai terlihat dari kejauhan. Universitas Hwaseong, tempat yang sudah hampir tiga tahun menjadi rutinitas hidup Jiyeon.
Ia turun di halte depan kampus sambil membuka payung hitamnya. Udara dingin langsung menyentuh wajahnya. Mahasiswa berlalu-lalang di trotoar, beberapa berlari kecil menghindari hujan, beberapa lainnya sibuk tertawa bersama teman-teman mereka. Jiyeon berjalan pelan melewati gerbang universitas.
Sendirian.
Bukan karena ia tidak punya teman. Hanya saja, Jiyeon tidak pernah benar-benar pandai berada di tengah keramaian. Ia lebih nyaman menjadi pendengar dibanding pusat perhatian.
"Kim Jiyeon!"
Suara seseorang memanggil dari kejauhan. Langkah Jiyeon berhenti. Ia bahkan tidak perlu menoleh untuk tahu siapa pemilik suara itu.
Beberapa detik kemudian, seorang laki-laki tinggi berlari kecil menghampirinya sambil memayungi diri sendiri dengan jaket yang jelas sudah setengah basah.
"Nggak nungguin aku?" tanyanya dengan napas sedikit terengah.
Jiyeon menatap laki-laki itu datar. "Katanya masih di rumah."
Lelaki itu mendahului langkah Jiyeon, lalu berbalik badan menghadapnya sambil berjalan mundur. "Aku bohong."
"Kamu telat dua puluh menit," balas Jiyeon malas.
"Tapi tetap datang, kan?" Laki-laki itu tersenyum lebar, seolah keterlambatannya bukan masalah besar.
Namanya Jeong Yunho. Satu-satunya orang yang bisa masuk ke hidup Jiyeon tanpa perlu izin.
Mereka sudah saling mengenal terlalu lama sampai Jiyeon sendiri lupa kapan tepatnya Yunho mulai menjadi bagian dari kesehariannya. SMP, SMA, lalu Universitas, semuanya selalu dilewati bersama.
Berbeda jauh dengan Jiyeon, Yunho seperti matahari yang terlalu terang. Mudah akrab dengan siapa saja, berisik, dan suka bercanda. Dan anehnya, ia tidak pernah lelah menghadapi sifat dingin Jiyeon.
"Eh, kamu sudah sarapan?" tanya Yunho sambil menyamakan langkah di sampingnya.
"Sudah."
Yunho melirik Jiyeon dengan tatapan curiga. "Bohong."
Jiyeon mendengus kesal. "Aku makan roti."
Yunho menghela napas panjang. "Itu bukan sarapan, Jiyeon. Itu namanya bertahan hidup."
Tanpa meminta persetujuan lagi, Yunho langsung menyodorkan kantong plastik kecil berisi susu pisang dan sandwich hangat ke depan wajah Jiyeon.
Jiyeon menatap benda itu beberapa detik. "Kamu beli lagi?"
Yunho selalu seperti itu. Menyiapkan makanan untuk diberikan kepada Jiyeon karena ia tahu betul kebiasaan buruk sahabatnya yang sering melewatkan makan pagi. "Aku tahu kamu pasti lupa makan yang benar," kata Yunho santai.
Jiyeon menghela napas pasrah. "Kamu cerewet."
"Tapi kamu tetap nerima, kan?" Yunho tersenyum jahil.
Dan benar. Tanpa banyak protes, Jiyeon mengambil sandwich itu pelan. Yunho terkekeh puas melihat reaksinya.
Mereka berjalan berdampingan melewati koridor kampus. Tidak banyak percakapan, tetapi suasananya tetap terasa nyaman. Yunho sesekali bercerita tentang dosen yang menyebalkan atau teman kelasnya yang tertidur saat presentasi, sementara Jiyeon hanya mendengarkan sambil menahan senyum kecil.
Begitulah mereka. Tidak perlu memaksakan apa pun agar tetap dekat.
Setibanya di depan gedung fakultas, Yunho tiba-tiba berhenti berjalan.
"Apa?" tanya Jiyeon heran. Yunho menatap wajahnya beberapa detik. Tanpa peringatan, ia mengangkat tangannya, merapikan beberapa helai poni Jiyeon yang berantakan terkena angin sore.
"Kamu kehujanan sedikit," katanya pelan.
Gerakan itu sederhana. Sangat biasa untuk ukuran dua orang yang sudah bersahabat lama. Tetapi entah kenapa, sentuhan itu membuat Jiyeon membeku di tempatnya sesaat. Jantungnya berdesir aneh.
Yunho sendiri tampak tidak menyadari apa-apa. Ia sudah kembali berjalan lebih dulu sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku hoodie. "Ayo cepet. Kalau telat lagi, dosenmu bakal ngomel."
Jiyeon memandangi punggung laki-laki itu selama beberapa detik, sebelum akhirnya mengikuti langkah kakinya perlahan.
Di tengah udara dingin dan hujan yang belum juga reda, untuk pertama kalinya hari itu, hati Jiyeon terasa sedikit hangat. Dan seperti biasa Yunho selalu menjadi alasannya.
BINABASA MO ANG
What We Never Said [Yunho]
Fanfiction"Beberapa hal memang sengaja tidak diucapkan, bukan karena tak memiliki arti, melainkan karena terlalu takut akan merusak apa yang sudah ada." Ketika batasan tipis bernama sahabat mulai mengabur, Jiyeon dipaksa menyaksikan hadirnya sosok lain di s...
![What We Never Said [Yunho]](https://img.wattpad.com/cover/413604579-64-k718521.jpg)