Suara dengung mesin pendingin ruangan di ruang kelas 302 Gedung FMIPA Universitas Nusantara Surabaya siang itu terdengar seperti mesin diesel tua yang kehabisan napas. Wajar saja, cuaca Surabaya di luar sana sedang terik-teriknya, seolah matahari berjarak cuma sekilan dari ubun-ubun. Di depan kelas, Pak Wiryo, dosen mata kuliah Penambangan Data, sedang menjelaskan slide presentasi yang isinya penuh dengan blok teks berukuran kecil. Beliau membacanya dengan nada datar yang secara efektif bekerja sebagai obat tidur siang bagi separuh mahasiswa di ruangan tersebut.
Ade duduk di baris ketiga dari belakang, posisi paling strategis. Tidak terlalu depan sampai rawan ditunjuk untuk menjawab pertanyaan dadakan, dan tidak terlalu belakang sampai dicurigai sedang main game atau tidur. Posisinya pas untuk memantau seisi kelas sekaligus mengamati pergerakan dosen.
Di sebelah kanannya, Ryan sedang menopang dagu sambil sesekali melirik layar ponsel yang disembunyikan di balik kotak pensil. Mulutnya komat-kamit pelan, mengomentari entah apa yang sedang dia tonton di media sosialnya. Sementara di sebelah kiri, Arfy menunduk penuh konsentrasi. Kedua jempol Arfy bergerak lincah dan agresif di atas layar ponsel yang dimiringkan. Sesekali anak itu mendecak kesal pelan, lalu mengetik sesuatu di kolom chat game-nya dengan kecepatan kilat. Arfy sama sekali tidak peduli pada Pak Wiryo, slide presentasi, atau dunia nyata pada umumnya.
Ade sendiri mengarahkan pandangannya ke depan. Di matanya, interaksi sosial itu tidak beda jauh dengan sistem operasional komputer. Ada masukan (input), ada proses, dan ada keluaran (output). Supaya sistem berjalan lancar dan tidak nge-lag, setiap variabel harus diperhatikan dengan saksama.
Saat ini, variabel yang sedang Ade baca adalah Pak Wiryo.
Ade memperhatikan bagaimana dosen paruh baya itu sudah tiga kali melirik jam tangan kulitnya dalam sepuluh menit terakhir. Kaki kanannya juga mulai mengetuk-ngetuk lantai berirama cepat. Bahunya agak menurun, dan intonasi suaranya yang tadinya datar kini mulai terdengar sedikit terburu-buru di akhir kalimat.
Berdasarkan kumpulan data visual tersebut, algoritma di kepala Ade langsung menarik kesimpulan: Pak Wiryo sebenarnya sudah malas mengajar dan ingin segera menyudahi kelas yang jadwal aslinya masih tersisa dua puluh menit lagi. Masalahnya, sebagai dosen senior yang memegang prinsip, beliau butuh alasan transisi yang pas untuk menutup materi agar tidak terlihat kabur begitu saja.
Tiba-tiba, seorang mahasiswa di barisan paling depan bernama Dimas mengangkat tangan. Dimas ini tipikal mahasiswa ambisius yang merasa harus membuktikan eksistensi kepintarannya di setiap sesi kuliah.
"Izin bertanya, Pak," ucap Dimas dengan suara lantang, sengaja memutar tubuhnya sedikit agar seisi kelas bisa melihatnya. "Mengenai normalisasi data yang Bapak jelaskan tadi, bukankah kalau kita menggunakan metode Z-score pada dataset yang distribusinya sangat skewed, hasilnya malah akan mendistorsi model machine learning kita nanti? Apakah tidak sebaiknya kita pakai Robust Scaler saja di setiap kasus nyata industri?"
Pak Wiryo menghela napas pendek. Sangat samar, tapi Ade bisa melihat kerutan di dahi dosennya. Pertanyaan Dimas itu valid, tapi terlalu panjang, terlalu melebar, dan jelas akan memakan waktu lima belas menit sendiri untuk dijawab dan diperdebatkan. Pak Wiryo tidak punya energi untuk itu sekarang, tapi beliau juga tidak bisa mengabaikannya begitu saja. Suasana kelas yang tadinya mengantuk kini berubah tegang. Beberapa mahasiswa di barisan belakang mulai berbisik mengumpat pelan karena Dimas berpotensi membuat kelas ini molor.
Ini adalah momennya. Ade merasa harus turun tangan sebelum baterai sosialnya sendiri habis karena terjebak lebih lama di ruangan yang sumpek ini.
Ade mengangkat tangannya pelan, tidak terlalu tinggi, cukup untuk tertangkap ujung mata Pak Wiryo. "Izin menambahkan sedikit dari sisi praktisnya kalau boleh, Pak."
