.
Jeno x Jisung x Chenle
.
.
.
"Gue enggak mau ikut! Pokoknya enggak mau!"
Jisung mundur tiga langkah, menggelengkan kepalanya dengan heboh sampai beberapa helai rambutnya berantakan. Di depannya, sebuah bangunan tua dengan cat mengelupas dan dekorasi jaring laba-laba buatan berdiri dengan kokoh. Efek suara jeritan melengking dan tawa kuntilanak yang diputar lewat pengeras suara di pintu masuk sudah cukup membuat lutut pemuda jangkung itu lemas.
Jisung itu penakut. Garis bawahi. Sangat penakut! Dia bisa menjerit hanya karena melihat kecoak terbang, dan sekarang dua orang di hadapannya malah mengajaknya masuk ke wahana rumah hantu di festival kota.
"Apalagi sih, Sung? Cuma rumah hantu mainan begini. Lo segede gaban tapi nyali lo sekecil tauge," cibir Jeno, melipat kedua tangannya di depan dada. Nadanya ketus, matanya menatap ke arah lain seolah tidak peduli.
Namun, Jeno si tsundere itu tidak bisa membohongi gerak-geriknya. Tangan kanannya diam-diam sudah merogoh saku jaket, menggenggam sekotak permen susu kesukaan Jisung untuk berjaga-jaga kalau anak itu nanti menangis di dalam. Jeno menyukai Jisung, sangat menyukainya, tapi gengsinya yang setinggi langit selalu mendikte mulutnya untuk berkata sebaliknya.
"Jeno jangan disindir terus dong Jisung-nya!" Chenle menyela, langsung pasang badan di depan Jisung. Cowok bermata sipit itu berbalik, mengulas senyum paling manis yang ia punya lalu menggenggam kedua tangan Jisung yang sudah dingin.
"Sung, ada gue. Lo kan tahu gue bakal selalu jagain lo sebagai sahabat terbaik lo. Kalau takut, lo boleh peluk gue sekencang mungkin di dalam nanti. Oke?"
Kata sahabat. Satu kata aman yang sengaja Chenle gunakan sebagai tameng, sekaligus penjara yang ia buat sendiri. Chenle mencintai Jisung melebihi apa pun, tapi ketakutan akan kehilangan eksistensi Jisung di hidupnya membuat cowok kaya itu memilih terjebak dalam zona nyaman bernama persahabatan.
Jisung menatap bergantian ke arah Jeno yang pura-pura cuek mendengarkan lagu lewat earphone, yang sebenarnya tidak memutar musik apa pun, lalu beralih ke Chenle yang menatapnya penuh binar ketulusan.
"B-beneran ya? Kalau ada setan yang narik kaki gue, kalian harus tanggung jawab!" cicit Jisung akhirnya pasrah, karena jujur saja, ia juga tidak mau merusak malam minggu mereka.
Begitu mereka melewati tirai hitam pembatas, kegelapan langsung menyergap. Bau kemenyan buatan dan hawa dingin dari AC sentral menusuk kulit.
"Waaakkh!"
Baru lima langkah berjalan, sebuah manekin berpakaian pocong jatuh dari langit-langit tepat di depan wajah Jisung. Refleks, Jisung langsung memejamkan mata erat-erat dan menerjang maju.
Greb!
Bukannya memeluk Chenle yang sudah membuka tangan sejak tadi, Jisung justru menubrukkan tubuhnya ke punggung tegap Jeno, memeluk pinggang kakak tingkatnya itu dari belakang dengan sangat erat sampai wajahnya terbenam di punggung tegap Jeno.
Jeno tersentak. Langkah kakinya terhenti. Di dalam kegelapan, wajah Jeno mendadak memanas sampai ke telinga. Jantungnya berdegup ugal-ugalan mendapat serangan tiba-tiba dari Jisung.
"L-lo apa-apaan sih, Sung?! Lepas, berat tahu!" omel Jeno dengan suara yang sengaja diberatkan, menutupi rasa salah tingkahnya yang luar biasa. Namun, alih-alih melepaskan paksa kaitan tangan Jisung di pinggangnya, Jeno justru meraih jemari dingin Jisung dan menggenggamnya erat, menuntun pemuda itu agar terus berjalan di belakangnya.
VOCÊ ESTÁ LENDO
Short story | Ft Jisung X All
FanficSelamat datang di Short Story. Sebuah kumpulan cerita pendek tentang Jisung dan berbagai kemungkinan yang tak pernah sama. Ada yang berakhir dengan tawa, ada yang meninggalkan rindu, tapi semuanya ditulis untuk menemani harimu. Selamat membaca 🤍 ha...
