Dingin angin malam berhembus tanpa permisi menerpa kulit, membuat siapapun yang mengenainya akan menggigil kedinginan. Karma menyentuh lehernya yang tak tertutupi apapun, berharap rasa dingin yang menyapa segera pergi. Biasanya saat ia pulang dari kantor tidak sedingin ini. Sepertinya musim dingin akan segera datang.
Dalam perjalanan pulang menuju apartemen, Karma menyempatkan diri mampir ke supermarket dan membeli beberapa camilan untuk menemaninya menonton film malam ini. Besok hari libur dan ia berencana untuk menonton film sepanjang malam. Sejak menjadi pegawai kantoran, kesibukan terus melandanya sampai-sampai ia terpaksa harus menumpuk berbagai film yang sudah lama ingin ditonton. Dan malam ini, ia berencana untuk bersantai dan menghabiskan malamnya untuk menonton film-film tersebut.
Setelah mendapat semua yang diinginkan dan selesai membayar, Karma berjalan menuju pintu keluar supermarket sambil merogoh kantong belanjanya. Karma mengeluarkan sekaleng soda dan menarik ujung kaleng. Keluar dari supermarket, ia menyesap soda tersebut dan berjalan menuju sisi kanan supermarket untuk menikmati minumannya. Sampai di sisi kanan supermarket, dia melihat sosok yang familiar bersandar pada dinding supermarket sambil menyesap sebatang rokok yang terapit di antara kedua jarinya. Ah, bukankah itu salah satu koleganya? Karma tidak menyangka akan bertemu orang itu di luar jam kerjanya. Apalagi dalam Karma tidak pernah melihatnya sedang merokok di kantor.
"Permisi," Karma menyapa sembari berjalan mendekat, "Boleh aku bersantai di sini juga?" Ia mengakhiri kalimat dengan senyum kecil di wajahnya.
Perempuan yang disapa menengok, terkejut dengan kemunculan tiba-tiba pria di sisinya. "Ah, iya. Silahkan. Ini tempat umum."
Merasa telah mendapat izin, Karma berjalan menuju sisi kanan sang puan dan memperhatikan gerak-geriknya. "Tak perlu mematikan rokokmu. Aku tak masalah dengan asap rokok. Silahkan dilanjut saja." Mendengar itu, sang puan menyunggingkan senyum kecil, "Terima kasih."
Karma membalas senyuman, kemudian menyesap sodanya lagi lalu menggoyangkan kalengnya pelan. Sudah tinggal setengah.
"Kamu dari tim marketing, kan? Aku pernah melihatmu beberapa kali. Aku Akabane Karma, dari tim keuangan. Kita satu kantor loh."
"Aku tahu, Akabane-san," Dari ekor mata, Karma bisa melihat perempuan di sampingnya terkekeh pelan "Kamu sangat terkenal di kantor, tahu? Aku justru terkejut kamu mengenaliku. Salam kenal, Akabane-san." Setelah menyelesaikan kalimatnya, perempuan tersebut mengulas senyuman manis. Menurut Karma, itu senyum termanis yang pernah ia lihat. "Oh ya? Apa yang begitu terkenal dariku di kantor?" Karma menyeringai jahil. Gawat, sifat narsistiknya mulai muncul.
"Kau tahu," Lawan bicara Karma menyesap rokok yang sedari tadi ada di tangannya sejenak "Hal-hal seperti, Ada karyawan baru dari divisi keuangan yang berwajah tampan."
"Lalu? Apa kau juga ikut membicarakan aku dengan kolega lainnya?" Ia balik bertanya dengan niat jahil terselubung dalam pertanyaannya.
"Yah, bagaimanapun yang mereka bilang benar sih," sang puan kembali menyesap rokoknya dan mengeluarkan kepulan asap yang segera berbaur dengan udara "Saat dilihat dari dekat seperti ini kau bahkan lebih tampan."
Karma tersentak. Soda yang ia genggam hampir saja meluncur ke bawah kalau saja ia tidak segera sadar dengan cepat. Hawa dingin yang sedari tadi menyelimuti perlahan tergantikan dengan suhu tubuhnya yang memanas, terutama pipinya yang terlihat bersemu merah. Sial, ia tidak menyangka niat jahilnya akan langsung dibalas dengan cepat.
Perempuan di samping yang merasakan perubahan pada suhu tubuhnya melepas tawa singkat sambil menepuk bahu Karma "Hahaha! Aku tidak menyangka kau tipe yang mudah salah tingkah seperti ini, Akabane-san."
"Uhm, memang tidak. Biasanya aku tidak seperti ini," Karma memalingkan wajahnya cepat dan kembali meneguk soda di tangannya. "Mungkin jadi begini karena yang memuji adalah wanita cantik yang sering kuperhatikan di kantor."
Sekarang, giliran sang puan yang tersentak. "Wah, wah, ternyata kau pria yang pandai bicara manis kepada wanita, ya."
"Tidak juga," Karma terkekeh, "Aku tidak pintar dalam urusan romansa."
"Benarkah? Padahal wajahmu terlihat seperti orang yang bisa menggaet 10 wanita dengan sebuah kalimat."
"Akan kuanggap itu sebagai pujian."
Perempuan di samping tertawa terbahak-bahak mendengar balasan yang diterimanya, ia bahkan sampai memegangi perutnya. Karma menyesap sodanya hingga kaleng di tangannya kosong. Selera humor wanita ini agak aneh, pikirnya.
Setelah puas tertawa terbahak-bahak, ia mengusap pelan matanya yang sedikit berair, "Tadinya sepulang kerja aku mampir kesini dan merokok untuk menenangkan pikiran. Aku tidak menyangka mengobrol denganmu akan jauh lebih menyenangkan daripada merokok," ia berkata sambil mematikan rokok yang masih sisa setengah. "Aku duluan ya, Akabane-san. Aku harusnya sudah berhenti merokok bulan lalu. Terima kasih sudah mengobrol sebentar denganku. Sampai jumpa lagi di hari Senin!"
"Tunggu," Karma refleks menahan pergelangan tangan sang puan sebelum ia melangkah lebih jauh. "Rumahmu dimana? Biar aku temani kau pulang bersama."
