1. Sukomulyo

227 18 5
                                        

Siang itu, matahari di atas Dusun Sukomulyo sedang terik-teriknya, seolah ikut mendidih melihat pemandangan di dalam rumah Pak Lurah. Empat lelaki, yang secara teknis seharusnya sudah cukup dewasa karena usia mereka yang menginjak 25 tahun, sedang duduk melingkar di atas tikar, berdebat sengit soal apakah kucing oranye milik Bu Haji termasuk titisan jin atau hanya sekadar kucing yang kurang asupan nutrisi.

Secara fisik, mereka adalah anugerah visual bagi kaum hawa di desa. Ada Arjun, dengan hidung mancung dan tatapan tajam namun menenangkan. Lalu Bagas, lelaki berperawakan gagah dengan rahang tegas dan tatapan mata yang katanya bisa membuat jantung berdegup tak beraturan. Ada juga yang namanya Hadi, si tengil dengan gaya rambut gondrongnya yang selalu tampak rapi meski habis bangun tidur. Belum lagi Nadi, kembaran Hadi dan termasuk si bungsu dari kelompok ini yang memiliki senyum manis ala aktor Korea yang mampu menghipnotis semua kaum hawa.

Sayangnya, Tuhan memang adil. Ketampanan yang dititipkan pada wajah mereka berbanding terbalik 180 derajat dengan kewarasan di dalam kepala mereka.

"Sumpah, itu kucing tadi ngedipin mata pas aku lewat! Itu bukan kucing biasa, itu kucing jadi-jadian!" seru Nadi sambil menggebrak toples di depannya, membuat Hadi di depannya terhenyak seketika.

Sekilas informasi. Pak Lurah hari ini sedang mengadakan syukuran kitanan anaknya dan mengundang warganya termasuk empat pemuda itu. Acaranya memang sudah selesai, tapi mereka berempat belum saja beranjak dan sibuk berdebat tak penting. Memang keempat pemuda itu sudah akrab dengan Pak Lurah, jadi mereka sudah biasa berdebat tanpa sungkan.

Bagas yang sedang sibuk mengupil dengan gaya seolah sedang melakukan meditasi, menoleh malas. "Nad, kamu iki ganteng-ganteng kok halu seh? Itu kucing lagi kelilipan debu konstruksi pagar Bu Haji di depan, dodol!"

"Bener, Nad. Jangan bikin malu Masmu ini. Kamu mending bantu aku mikir, gimana cara minta WiFi gratis rumah Bu Lurah ini tanpa harus jadi menantunya. Pengen mabar ini loh," sahut Hadi sambil membenahi posisi duduknya yang lebih mirip orang sedang nangkring di warung kopi.

"Tak rayu ae tah?" usul Bagas sambil menaikkan kedua alisnya singkat. Lelaki itu memang terkenal dengan gaya bad boy-nya. Garis rahangnya yang tajam, ditambah dengan potongan rambut undercut-nya itu selalu sukses membuat para gadis-gadis desa terpesona.
(Aku yang rayu aja gimana?)

"Wes nggak usah aneh-aneh. Dijadiin mantu beneran nanti kapok kamu," sahut Arjun. Meskipun berada di tongkrongan yang sama, tapi Arjun termasuk yang paling waras dari mereka berempat.

"Kalian ini ngomongin opo toh? Ngomongin hal yang nggak berfaedah lagi?" Suara pria paruh baya terdengar. Itu adalah Bapaknya Hadi dan Nadi, seorang petani yang sudah lama menduda karena ditinggal istrinya wafat. Bapaknya si kembar itu baru saja datang dari dalam sehabis berbicara dengan Pak Lurah.

"Lagi ngomongin kenapa Bapak namain Aku Suhadi, Bukan Justin, William, Axel, atau apapun itu yang keren. Aku iki Gen Z, loh, Pak," sahut Hadi.

"Halah-halah genjet opo toh. Namamu iku wes apik. Sing penting artine," sosor pria paruh baya itu.

"Tapi ya nggak Suhadi juga Pak!" Hadi membelalak tajam. Memang anak itu masih terus saja membahas namanya yang terlihat kuno di kalangan pemuda seumurannya.

"Setuju. Nama sampeyan ae Bayu Baskoro, masa anaknya dinamain Suhadi Sunadi. Ra mbois blas." Nadi menyahut.
(Setuju. Nama Bapak aja Bayu Baskoro, masa anaknya dinamain Suhadi Sunadi. Nggak keren sama sekali.)

Arjun dan Bagas yang sedari tadi terdiam itu hanya bisa menahan tawanya. Ia tahu, bagi si kembar yang wajahnya tak terlalu kembar itu, nama adalah sesuatu yang sangat sensitif untuk dibahas.

LANANG PAPATStories to obsess over. Discover now