Bel sekolah berbunyi nyaring tepat pukul 06.45.
Ratusan siswa mulai memenuhi halaman Ardent International High School, sekolah swasta elit yang dikenal sebagai salah satu sekolah terbaik di Indonesia. Gedung-gedung modern menjulang megah, taman yang tertata rapi menghiasi setiap sudut sekolah, sementara para siswa berjalan mengenakan seragam biru-putih dengan penuh semangat.
Tak hanya unggul dalam akademik, Ardent International High School juga dikenal sebagai sekolah yang melahirkan banyak juara nasional hingga internasional.
Di sekolah ini, prestasi bukan sekadar kebanggaan.
Melainkan budaya.
---
"Nayara! Tunggu!"
Seorang gadis berambut hitam panjang menghentikan langkahnya lalu menoleh sambil tersenyum.
"Lari-lari mulu, Keisha."
Keisha Aurora Pratama langsung merangkul bahu sahabatnya.
"Kalau nggak lari, aku ditinggal kamu."
Nayara hanya terkekeh pelan.
Tak lama kemudian, empat sahabat mereka datang menyusul.
"Selamat pagi!" sapa Bianca dengan suara paling semangat.
"Pagi semuanya."
Mereka berenam sudah bersahabat sejak kelas X.
Keisha Aurora Pratama, kapten tim basket putri yang ceria dan selalu berhasil mencairkan suasana.
Alena Jasmine Putri, juara Olimpiade Biologi Nasional yang lembut dan penyayang.
Bianca Felicia Hartono, ketua English Club yang humoris dan pandai berpidato.
Celine Aurelia Maheswari, pianis berbakat yang lebih suka mendengarkan daripada berbicara.
Kiara Valencia Putri, ketua Klub Jurnalistik yang kritis dan hobi memotret setiap momen penting sekolah.
Sedangkan gadis yang berjalan di tengah mereka...
Adalah Nayara Valencia Kaira.
Siswi kelas XI-A.
Juara Nasional Debat.
Juara Olimpiade Sejarah.
Peraih medali emas Karya Tulis Ilmiah.
Meski memiliki banyak prestasi, Nayara tetap dikenal sebagai pribadi yang rendah hati.
"Nay."
"Hm?"
"Semoga nanti kamu dipanggil lagi."
Keisha tersenyum lebar.
Nayara menghela napas pelan.
"Aku malah deg-degan."
"Padahal udah sering."
"Aku tetap gugup."
Kelima sahabatnya tertawa.
---
Di sisi lain sekolah...
"Selamat pagi, Ketua."
"Pagi, Kak Naren."
Sapaan itu terdengar hampir setiap beberapa langkah.
Seorang pemuda bertubuh tinggi berjalan santai menuju lapangan bersama lima sahabatnya.
Ia adalah...
Naren Aksara Gavindra.
Ketua OSIS kelas XI-A.
Dikenal sebagai siswa yang disiplin, cerdas, dan bertanggung jawab.
Di balik wajahnya yang tenang, Naren memiliki jiwa kepemimpinan yang membuat guru maupun siswa menghormatinya.
Di sampingnya berjalan lima sahabat yang juga memiliki prestasi luar biasa.
Rafael Aditya Mahendra, Wakil Ketua OSIS dan juara nasional lomba pidato.
Gavin Alvaro Wijaya, ketua Klub Robotik yang usil tetapi sangat cerdas.
Dimas Arkananta, ketua PMR yang ramah dan bijaksana.
Ezra Nathaniel Prakoso, kapten tim basket putra sekaligus atlet berprestasi.
Arsen Pradipta Mahesa, ketua Klub Sains yang telah mengoleksi berbagai medali olimpiade.
"Festival sekolah tinggal tiga minggu lagi," ucap Rafael.
"Setelah upacara kita rapat."
Naren membuka map yang dibawanya.
"Aku ingin semuanya selesai tepat waktu."
"Siap, Ketua."
---
Bel upacara berbunyi.
Seluruh siswa berbaris dengan rapi.
Setelah amanat pembina upacara selesai, kepala sekolah kembali berdiri di depan mikrofon.
"Sebelum upacara berakhir..."
"Kami ingin memberikan penghargaan kepada salah satu siswa yang kembali mengharumkan nama Ardent International High School."
Seluruh lapangan mendadak hening.
"Selamat kepada..."
"Nayara Valencia Kaira."
Tepuk tangan bergemuruh.
Nayara berjalan menuju podium dengan langkah tenang.
Kepala sekolah menyerahkan medali dan piagam penghargaan.
"Selamat atas keberhasilanmu meraih Juara 1 National Debate Championship."
"Terima kasih, Pak."
Semua siswa memberikan tepuk tangan.
"Dia keren banget."
"Emang pantas."
"Dari kelas X udah langganan juara."
Di barisan OSIS, Gavin berbisik pelan.
"Hebat juga."
Naren mengangguk singkat.
"Iya."
---
Upacara selesai.
Para siswa kembali ke kelas masing-masing.
Sementara itu, Naren bersama pengurus OSIS memasuki ruang rapat.
"Baik."
Naren berdiri di depan papan tulis.
"Agenda pertama, persiapan Festival Ardent."
Semua anggota langsung membuka laptop dan buku catatan.
Rapat berlangsung serius.
Di sisi lain...
Nayara dan kelima sahabatnya mulai mengikuti pelajaran hingga bel istirahat berbunyi.
"Ke kantin, yuk!"
"Aku lapar banget," keluh Bianca.
Mereka berenam berjalan sambil tertawa.
Di waktu yang bersamaan...
Naren dan lima sahabatnya keluar dari ruang OSIS menuju kantin.
Di sebuah lorong sekolah...
Kedua kelompok itu berpapasan.
Tatapan Nayara dan Naren bertemu sesaat.
Tak ada sapaan.
Tak ada senyum.
Hanya tatapan singkat yang kemudian berlalu begitu saja.
Tak seorang pun menyadari...
bahwa pertemuan sederhana di hari itu akan menjadi awal dari kisah yang perlahan mengubah hidup mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Enemies to Lovers
RomanceENEMIES TO LOVERS "Sometimes the person you argue with the most becomes the one you can't live without." Nayara Valencia Kaira dikenal sebagai siswi berprestasi yang cerdas, berani, dan selalu memperjuangkan apa yang menurutnya benar. Di sisi lain...
