"Maaf... Aku hanya senang karena kamu notice aku. Sampai aku lupa bahwa ada hal yang engga diperbolehkan." - Gakari Shua
.
.
.
Gakari Shua-gadis yang tampak begitu ramah pada semua orang, kini dihadapkan oleh kenyataan bahwa dia telah melakukan satu...
Tempat itu gelap. Tidak ada lampu atau penerangan apapun. Namun terdapat 2 orang yang berada disana, salah satunya adalah seorang gadis yang ingin lepas dari kukungan pria di hadapannya.
"Aku engga mau. Aku mau pulang, biarin aku pergi." Ucapnya
Sang pria tidak bergeming sama sekali, tatapan nya tetap terpaku pada gadis yang sudah lama dia incar sejak pertama kali melihat nya.
"Come on, aku cuman mau sentuh kamu sedikit. Aku pacar mu, Shua." Ucap pria itu
Shua menggeleng. Dia tetap tidak ingin melakukan hal yang diinginkan kekasih nya. Pria itu ingin melakukan seks di tempat seperti ini dan disaat hubungan mereka masih dalam status pacaran.
"Kamu harus nurut, Shua. Kamu mau kita putus?" Tanya pria itu
Belum sempat Shua bereaksi, pria itu langsung menyentuh tubuh mungil nya dan hal itu berhasil membuat Shua menegang pada awalnya.
"Aku udah lama mau ngelakuin ini sama kamu. Aku cinta sama kamu, aku bakalan tanggung jawab dan nikahin kamu." Bisik pria itu
Ucapan pria itu terdengar begitu manis di telinga Shua. Namun, rasa takut di dalam diri Shua terlalu besar untuk mempercayai kata-kata manis itu.
Disaat Shua masih memproses semua nya, tiba-tiba saja bibir pria itu menyentuh bibir nya. Hanya kecupan kecil, tetapi berhasil membuat mata Shua terbelalak.
Ciuman pertama nya telah direnggut begitu saja oleh pria itu.
"Nurut." Perintah pria itu
Tangan-tangan besar itu kembali menyentuh tubuh mungil nya, bergerak menelusuri setiap inci tubuh nya.
Pria itu mengabaikan permohonan Shua yang gemetaran karena ketakutan. Dia hanya ingin pulang, dia tidak mau berada di tempat gelap ini.
"Jangan... JANGAN!"
. . .
Anata no subetega, ashi ta wo nakushite~
Suara alarm membangunkan Shua dari mimpi buruk nya yang telah terjadi secara berulang-ulang. Dia duduk di atas ranjang tidur nya dengan nafas yang tersengal-sengal dan tangan yang gemetar hebat.
Obat. Dia butuh obat untuk menenangkan diri nya sekaligus melupakan mimpi buruk yang selalu menghantui nya.
Shua tidak tahu berapa banyak tablet yang dia minum, tetapi dia tidak peduli mengenai hal itu. Dia hanya butuh ketenangan.
"Kapan mimpi itu akan hilang?" Batin Shua
Disaat Shua masih memikirkan cara agar mimpi itu hilang, sebuah notifikasi pesan tiba-tiba saja masuk. Shua langsung mengambil ponsel milik nya yang tergeletak di atas meja dan melihat bahwa pesan itu berasal dari teman dekat nya.
Lyaa.
Satu nama yang selalu membuat senyuman kecil muncul di wajah cantik Shua. Satu nama yang selalu Shua nantikan muncul di layar ponsel nya.
Shua membaca pesan dari Lyaa yang ternyata mengajak diri nya untuk pergi ke sekolah bersama. Tanpa ragu, Shua langsung setuju dan menunggu Lyaa datang menjemput sembari bersiap-siap.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
. . .
Di sekolah.
Koridor sekolah terlihat penuh dengan para siswa. Shua berjalan berdampingan dengan Lyaa sambil meremat tali tas nya dengan erat, pandangan nya mengarah ke lantai yang dia lalui.
Rasa tidak aman selalu muncul di dalam dirinya saat berada diluar seperti ini. Seolah-olah semua mata tertuju padanya. Menatap dirinya dengan tatapan menghakimi.
Shua memejamkan mata nya sejenak sambil menghembuskan nafas nya dengan perlahan. Dia harus bisa mengendalikan dirinya. Ya, harus.
Ketika sampai di dalam kelas, Shua langsung menuju ke tempat duduk nya yang berada di barisan paling belakang dan di pojok kelas.
Bel pertama belum berbunyi. Shua memilih untuk membaca novel yang beberapa hari dia beli. Sedangkan Lyaa asik bermain ponsel nya sambil senyum-senyum sendiri.
Shua tahu bahwa Lyaa sedang dekat dengan salah satu kakak kelas di sekolah ini. Dia tidak terlalu mengenal pemuda yang berhasil menarik perhatian Lyaa, dia juga tidak ingin mengenal nya.
Bagi nya, semua sama saja.
"Shua."
Lamunan Shua langsung buyar saat nama nya dipanggil oleh seseorang—Mimi, ketua kelas nya dan juga ketua OSIS di sekolah. Dia mendongak saat Mimi berdiri di dekat meja nya.
"Ada apa, Mimi?" Tanya Shua
"Besok akan ada murid baru dan dia akan masuk ke kelas kita. Aku minta tolong untuk bawa dia keliling sekolah, boleh?"
Shua berkedip pelan saat otak nya memproses kata-kata Mimi. Kenapa harus dirinya? Kenapa tidak orang lain saja?
"Shua? Boleh, kan?" Tanya Mimi memastikan
Mau tidak mau Shua mengangguk setuju. Menolaknya pun percuma saja, karena setiap kali dia menolak... Pasti akan dianggap tidak setia kawan, pasti akan dianggap orang yang tidak mau menolong satu sama lain.
"Oke, aku setuju." Ucap Shua pasrah
Raut wajah Mimi langsung berubah menjadi cerah saat Shua setuju untuk mengambil peran nya kali ini. Mimi langsung berterima kasih pada Shua.
"Makasih, Shua! Aku sangat tertolong! Aku cukup sibuk karena sedang merencanakan ini dan itu untuk acara MPLS nanti." Jelas Mimi
Shua mengangguk sekali lagi. Dia bisa memaklumi kesibukan seorang ketua OSIS, walaupun dia sudah seringkali memaklumi semua hal. Faktanya, sikap itulah yang membuat dia mudah digunakan oleh orang lain.
"Siapa nama anak baru nya nanti, Mi?" Tanya Shua
"Lio Lio." Jawab Mimi sambil tersenyum senang
Dahi Shua tampak berkerut saat mendengar jawaban Mimi. Lio Lio? Itu nama aslinya? Kenapa tidak ada nama belakang sama sekali?
Shua menggeleng pelan. Dia berusaha untuk tidak mengomentari apapun, dia hanya ingin membantu dan ya itu saja. Tidak lebih dan tidak kurang.
"Kalau begitu aku pergi ya, Shua. Makasih sekali lagi, bye." Ucap Mimi
Shua hanya membalas dengan deheman kecil saja. Lalu kembali membaca novel nya sampai bel pertama berbunyi. . . .
Disisi lain.
"Lo serius mau ke dia?" Tanya seorang pemuda berambut cokelat kemerahan pada gadis berambut pendek
"Gue mau ngeliat keadaan nya gimana secara langsung, bang." Jawab gadis itu sambil merapihkan pakaian nya yang berada di dalam koper.
Pemuda itu hanya bisa menghela nafas kecil, lalu dengan enggan dia membiarkan gadis itu pergi mengunjungi teman nya.
"Oke, semoga lo bisa ngebuat dia sembuh." Ucap pemuda itu
"Pasti. Gue pasti bisa buat dia sembuh, gue bakalan jagain dia mulai dari sekarang." Ucap nya dengan percaya diri . . .
"Tunggu aku, Shua. Aku akan datang kesana" Batin nya