Hujan turun sejak sore, tipis namun terus-menerus, seperti enggan benar-benar berhenti. Langit di atas jalan kampung tampak abu-abu gelap, menindih pepohonan yang berdiri diam di tepi jalan. Mobil sewaan yang ditumpangi Rohman bergerak pelan, sesekali terguncang saat ban melewati lubang-lubang tua yang tertutup air hujan.
Rohman duduk diam di kursi belakang, menatap keluar jendela dengan wajah lelah. Tangannya menggenggam ponsel yang sejak tadi tak ia buka. Di layar hitam itu hanya tampak bayangannya sendiri: mata yang letih, rahang yang mengeras, dan rambut yang sedikit basah karena gerimis yang sempat menyusup saat ia turun di terminal.
Desa Cempaka Hitam.
Nama itu dulu terasa jauh, seperti sesuatu yang sengaja ia kubur dalam ingatan. Sekarang, nama itu kembali menyambutnya dengan jalan sempit, pohon-pohon tua, dan udara lembap yang anehnya terasa lebih dingin daripada seharusnya.
Ia pulang bukan karena rindu.
Ia pulang karena kabar kematian neneknya.
“Mas, sudah dekat,” kata sopir yang sedari tadi hanya bicara seperlunya.
Rohman mengangguk singkat. “Berapa lagi?”
“Belok depan sana. Rumah keluarga yang dekat jalan menurun itu.”
Rohman menatap ke arah yang ditunjuk. Di kejauhan, di balik gerimis dan kabut tipis, terlihat beberapa rumah tua dengan dinding kusam dan atap genteng gelap. Lampu-lampu kuning redup menyala di balik tirai jendela. Tidak banyak suara. Tidak ada anak-anak bermain. Tidak ada radio dari warung. Bahkan anjing-anjing yang biasanya ribut di kampung seperti sengaja menghilang.
Aneh.
Desa itu terasa terlalu sunyi untuk ukuran sore menjelang malam.
Saat mobil berhenti di depan rumah tua keluarganya, Rohman sempat ragu untuk turun. Bangunan itu masih berdiri, tetapi tidak lagi tampak seperti rumah yang pernah ia tinggali. Cat dindingnya mengelupas di sana-sini. Pagar kayu miring. Halaman depan ditumbuhi rumput liar yang tinggi. Pohon mangga di samping rumah menjulur miring, seperti ikut menunduk.
Rohman menghela napas pelan, lalu membuka pintu mobil.
Udara dingin langsung menyapu wajahnya.
Bau tanah basah, kayu tua, dan sesuatu yang samar—entah bunga atau aroma lain yang sulit ia kenali—menyelinap di hidungnya. Ia berdiri beberapa detik di bawah gerimis, memandang rumah itu dengan dada yang terasa sesak.
“Pak, tunggu sebentar,” katanya kepada sopir.
“Saya tunggu di sini, Mas. Jangan lama-lama.”
Rohman mengangguk lalu melangkah menuju teras.
Pintu rumah terbuka sedikit. Dari dalam terdengar suara orang berbicara pelan. Ada beberapa pelayat yang sudah datang lebih dulu. Rohman menarik napas dalam, lalu mengetuk pintu kayu yang catnya nyaris habis.
Tak lama, seorang perempuan paruh baya muncul dari balik pintu. Wajahnya pucat, matanya sembab, dan rambutnya disanggul sederhana. Rohman mengenalinya sebagai salah satu tetangga lama, meski butuh beberapa detik untuk mengingat namanya.
“Rohman…” perempuan itu berkata lirih. “Kamu sudah datang.”
“Iya, Bu.”
Perempuan itu menatapnya lama, seperti ingin mengatakan sesuatu tetapi urung. Tatapannya justru membuat Rohman merasa tidak nyaman. Ada semacam ketakutan di sana. Bukan duka biasa. Bukan lelah karena mengurus kematian. Lebih seperti seseorang yang baru melihat tanda bahaya.
“Jenazah nenek sudah disiapkan di ruang tengah,” katanya akhirnya. “Kamu istirahat dulu sebentar.”
Rohman hendak menjawab, tetapi perempuan itu sudah menoleh ke belakang dan memanggil orang lain untuk membantu. Ia masuk ke rumah dengan langkah pelan.
YOU ARE READING
Kuntilanak 1: Malam yang menyimpan nama
HorrorSepuluh tahun lebih Rohman meninggalkan Desa Cempaka Hitam dan memilih hidup jauh di kota. Ia berusaha melupakan rumah tua yang pernah ia tinggalkan, juga kenangan tentang malam-malam ganjil yang dulu membuatnya takut tidur sendiri. Namun semuanya b...
