.
.
Di kedalaman tanah Provinsi Phang Nga, tersembunyi dari peta satelit mana pun, Fasilitas Penelitian Genomik Nasional beroperasi dalam keheningan yang memekakkan telinga. Lampu-lampu pendar neon selalu menyala terang, memantul pada dinding baja tahan karat dan lantai epoksi yang steril. Di tempat ini, moralitas sering kali dibengkokkan demi sains.
Profesor Fort Thitipong berdiri di depan kaca akrilik setebal lima belas sentimeter, matanya yang tajam menatap ke dalam tangki air raksasa di hadapannya. Di usianya yang baru menginjak dua puluh delapan tahun, Fort adalah kepala peneliti untuk Proyek Chimaera, sebuah inisiatif rahasia pemerintah Thailand untuk menciptakan hibrida manusia-hewan yang mampu bertahan di kondisi ekstrem paska-perubahan iklim.
Namun, bagi Fort, proyek ini bukan lagi tentang ambisi nasional. Proyek ini tentang sosok yang sedang berenang dengan anggun di dalam tangki.
"Selamat pagi, Peat." sapa Fort. Suaranya disalurkan melalui mikrofon bawah air, terdengar lembut dan sedikit serak.
Permukaan air beriak. Dari kedalaman tangki yang berpendar biru, sesosok makhluk muncul. Pada pandangan pertama, ia tampak seperti pemuda biasa dengan kulit seputih pualam, rambut hitam sekelam malam yang basah menempel di dahi, dan wajah menawan yang bisa membuat siapa pun menahan napas. Namun, dari pinggul ke bawah, tubuhnya bertransisi menjadi ekor bersisik biru kehijauan yang memanjang, diakhiri dengan sirip transparan yang bergerak sehalus sutra di dalam air.
Peat. Subjek 07. Keberhasilan terbesar Proyek Chimaera. Separuh manusia, separuh makhluk laut yang terinspirasi dari mitos siren.
Peat menempelkan telapak tangannya yang berselaput tipis pada kaca akrilik, tepat di mana tangan Fort berada di sisi luar. Mata Peat yang sewarna dengan lautan terdalam menatap Fort dengan kelembutan yang menyayat hati.
"Kau datang lebih awal hari ini, Fort." suara Peat terdengar melalui speaker di ruangan itu. Suaranya begitu melodis, sebuah frekuensi unik yang secara biologis dirancang untuk menenangkan detak jantung manusia.
"Aku tidak bisa tidur." Fort tersenyum tipis, menyandarkan dahinya pada kaca yang dingin. "Dan aku ingin memastikan suhu airmu sudah disesuaikan. Direktur Viroj meminta penurunan suhu dua derajat semalam untuk menguji ketahanan metabolikmu."
Wajah Peat sedikit memucat, namun ia memaksakan sebuah senyuman. "Sedikit dingin, tapi aku baik-baik saja selama kau ada di sini."
Dada Fort terasa sesak. Selama tiga tahun terakhir, ia telah menghabiskan setiap hari bersama Peat. Ia mengajarinya bahasa, membacakannya buku-buku tentang dunia luar, dan diam-diam melindunginya dari eksperimen paling brutal yang diusulkan oleh dewan direksi. Di mata para ilmuwan lain, Peat adalah aset bernilai miliaran baht. Bagi Fort, Peat adalah pria rapuh yang merindukan kebebasan, pria yang telah mencuri hatinya.
"Aku membawakan sesuatu untukmu." ucap Fort, mengalihkan pembicaraan. Ia menekan tombol pada panel kontrol, membuka kompartemen kecil di atas tangki.
Peat berenang ke atas, muncul dari permukaan air, bersandar di tepi tangki. Fort berjalan menaiki tangga spiral menuju anjungan tangki. Ia berjongkok di hadapan Peat, mengeluarkan sebuah benda bulat dari saku jas labnya.
"Apa ini?" Peat memiringkan kepalanya, tetesan air mengalir dari rahangnya yang tegas menuruni leher dan dada bidangnya yang polos.
"Ini namanya cangkang kerang mutiara." Fort menyerahkannya dengan hati-hati. "Aku memesannya secara khusus dari pasar malam Phuket. Aku tahu kau belum pernah melihat sesuatu dari laut yang sesungguhnya."
Peat menerima cangkang itu dengan kedua tangannya, mengusap permukaannya yang kasar dengan ibu jari. Matanya berbinar-binar penuh keajaiban. "Ini... dari laut? Tempat di mana air tidak memiliki dinding?"
YOU ARE READING
The Ocean Inside You || FORTPEAT
FanfictionMini story about.. Di balik dinding steril laboratorium rahasia, takdir mempertemukan Profesor Fort Thitipong dengan subjek eksperimen rekayasa genetika paling sempurna, Peat-sesosok hibrida siren yang menawan. Ikatan terlarang pun terjalin di antar...
