Seorang gadis berdiri diatas rerumputan teras rumah yang sederhana. Sejak beberapa menit lamanya ia hanya berdiri dan menunduk. Ia tak bergeming, ia tak berteriak, ia tidak meronta, ia tidak membantah. Hanya ada hening dan kebisuan yang ia pribadi ciptakan. Namun dalam hatinya begitu gaduh seakan badai besar memporak-porandakan kapal hatinya yang tengah berlayar.
"Kakak mau pergi?" Kata itu berhasil terucap. Lirih, hampir seperti bisikan yang memecah keheningan. Seperti angin kecil yang berhembus di ruangan sunyi.
Pria di depannya hanya mengangguk kecil, ia tak bisa membalas apapun. Tak ada kata maupun satu alasan diantara ribuan alasan yang akan dia keluarkan seperti kartu as dalam permainan kartu poker. Wajahnya melembut, cahaya matanya menyimpan rasa sakit yang tak bisa digambarkan oleh kuas manapun tak bisa di syairkan oleh pujangga manapun.
Bahu gadis itu mulai terguncang, namun belum ada isakan yang keluar, belum ada lelehan panas yang mengalir ke pipinya.
"Siapa yang akan menemani ku? Dimana aku akan pulang?"
Pertanyaannya seperti sebuah sayatan yang di bentuk dalam hati pria itu. Begitu menggores dan menyakitkan. Begitu lirih dan rapuh seperti porselen.
"Hei, adik kecil. Kau adalah perempuan yang terkuat yang pernah aku lihat. Bisakah kakak minta adik kecil kakak ini bertahan sampai kakak kembali? Sampai kakak menyelesaikan pengobatan di luar negeri?"
Suaranya begitu lembut seperti helaian sutra yang begitu kecil dan halus dan sedikit gemetar akibat menahan tangis yang hampir tak terbendung lagi dalam raga dan jiwanya.
Tidak ada jawaban. Mata yang kini semakin berkilau akibat berair hanya menatap dalam kesedihan dalam, bibirnya bergetar hebat menahan isakan. Namun ia tetap memaksa untuk berucap. "Aku mencintaimu, kakak."
Pengakuan itu terucap jelas dibibirnya meski sedikit getaran menyertainya meski begitu lirih, tapi itu terdengar jelas di telinga pria itu.
Wajahnya melembut dengan tatapan prihatin. Hatinya hangat. "Aku senang mendengarnya. Tapi aku tidak suka jika kau memaksakan diri mengatakannya. Aku ingin itu benar-benar murni dari dirimu. Aku tidak memaksamu untuk mencintai ku secara cepat ataupun langsung. Aku akan tetap menyayangimu."
Sejenak pria itu melangkah mundur, ia merogoh tasnya mengeluarkan boneka dinosaurus hijau. Bahannya empuk dan halus, kehadiran benda imut itu seolah menertawakan situasi dramatis diantara mereka. Dengan gemetaran dan perlahan gadis itu menerimanya langsung memeluknya, air matanya jatuh menimpa puncak kepala benda empuk itu.
"Peluk itu jika kau merindukanku, adik kecil. Jangan memaksakan diri mencintai ku. Kau bebas menentukan nya. Tapi aku selalu menjaga hatiku untukmu. Aku berjanji akan kembali."
"Janji?" Ucapnya mencoba memastikan. Menyakinkan dirinya maupun jiwanya.
"JANJI!!"
Pria itu mengangkat jari kelingking nya. Begitupun gadis itu. Namun mereka tak saling menakutkannya. Perpisahan itu benar-benar terjadi, benar-benar fakta nyata, bukan sekedar imajinasi dalam sebuah frasa.
Gadis itu hanya diam menatap sesuatu yang hilang dan pergi darinya. Namun satu hal yang ia akan selalu jaga, sebuah janji antara keduanya. Dalam kepercayaan yang penuh makna.
