Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Menjelang akhir musim dingin di tahun ketujuh belasnya, sang ibu berkesimpulan bahwa Jisoo mengalami depresi. Dugaan itu muncul bukan tanpa alasan; Jisoo hampir tidak pernah meninggalkan rumah, menghabiskan sebagian besar waktunya di tempat tidur, membaca buku yang sama berulang-ulang, jarang menyentuh makanannya, dan menggunakan sisa waktu luangnya yang berlimpah untuk merenungkan kematian.
Setiap kali seseorang membaca buklet atau situs web tentang kanker, depresi selalu dicantumkan sebagai salah satu efek sampingnya. Namun, Jisoo tahu kebenaran yang berbeda. Depresi bukanlah efek samping dari kanker; depresi adalah efek samping dari sekarat.
Kanker sendiri pun merupakan efek samping dari kematian. Lagipula, bukankah hampir semua hal di dunia ini memang begitu?
Lagipula.. setiap yang bernapas pasti akan mati.
Kendati demikian, ibunya tetap bersikeras bahwa Jisoo membutuhkan penanganan medis. Ia membawa Jisoo menemui dokter keluarga mereka, Jim, yang langsung setuju bahwa Jisoo tengah tenggelam dalam depresi klinis yang melumpuhkan. Akibatnya, dosis obat Jisoo harus disesuaikan, dan ia diwajibkan menghadiri Kelompok Dukungan mingguan.
Kelompok tersebut diisi oleh sekumpulan remaja dengan kondisi kesehatan yang terus berubah akibat gerogotan tumor. Mengapa anggotanya selalu berganti? Tentu saja, itu adalah efek samping lain dari proses menuju kematian.
Bagi Jisoo, suasana di Kelompok Dukungan itu benar-benar suram. Pertemuan diadakan setiap hari Rabu di ruang bawah tanah sebuah gereja Episkopal berdinding batu yang arsitekturnya berbentuk salib. Mereka semua duduk melingkar tepat di tengah-tengah salib, di titik pertemuan kedua porosnya-tempat yang seharusnya menjadi letak jantung Yesus.
Jisoo menyadari detail tersebut karena Patrick, sang Ketua Kelompok sekaligus satu-satunya orang berusia di atas delapan belas tahun di sana, tidak pernah absen membahas tentang hati Yesus. Ia selalu bercerita bagaimana mereka, sebagai remaja penyintas kanker, tengah duduk dengan hangat di dalam hati Kristus yang mahasuci.
Maka, beginilah rutinitas yang terjadi di dalam "hati Tuhan" tersebut: enam, tujuh, atau sepuluh remaja berjalan atau mendorong kursi roda mereka masuk. Mereka mencicipi hidangan berupa kue dan limun yang sudah basi, lalu duduk di Lingkaran Kepercayaan. Di sana, mereka harus mendengarkan Patrick menceritakan kisah hidupnya yang menyedihkan untuk kesekian kalinya-tentang bagaimana ia dulu menderita kanker testis, sempat divonis mati namun selamat, dan kini terdampar di ruang bawah tanah sebuah gereja.
Patrick kini berstatus duda, kecanduan video game, hampir tidak punya teman, hidup pas-pasan dari belas kasihan masa lalu kankernya, sambil perlahan mencicil gelar master yang sebenarnya tidak akan membantu kariernya. Ia hanya sedang menunggu, sama seperti yang lainnya-menunggu pedang Damocles mencabut nyawanya yang malang, sebuah kelegaan yang sempat tertunda bertahun-tahun lalu ketika kanker merenggut kedua testisnya namun menyisakan sisa hidup yang menyedihkan.