Siang itu bulan 'November 2025, matahari bersinar seakan ingin membakar seluruh permukaan bumi.
Cahayanya menusuk tajam menembus celah jendela kelas 11 MIPA 1, membentuk garis-garis emas yang terang benderang di lantai berdebu dan meja-meja yang penuh coretan tinta bekas pelajaran.
Dari luar, suara knalpot kendaraan beradu dengan teriakan riuh siswa yang sedang istirahat, samar-samar terdengar seperti bisikan dari dunia lain.
Namun di dalam ruangan, udara terasa begitu pekat hingga sesak napas. Panas menyelimuti setiap inci, bercampur bau kapur tulis yang menempel di dinding, aroma kertas tua yang lembap, dan bau keringat asam yang mulai menguap dari kulit.
Teriakan meledak tiba-tiba, memecah ketegangan seperti petir menyambar siang bolong.
Beberapa siswi beringsut mundur terhuyung, punggung menabrak dinding kasar, tangan menekan mulut rapat-rapat atau mencengkeram dada seolah jantung mau melompat keluar.
Wajah mereka pucat seperti kertas yang tak pernah terkena matahari, mata terbelalak seakan mau copot dari kelopaknya.
Ada yang diam terpaku di tempat, tubuh kaku patung, tapi matanya melirik ke kiri kanan waspada, tak berani mengeluarkan suara sedikit pun.
Di barisan depan, para siswa laki-laki melangkah maju serentak. Bahu mereka saling bersentuhan, membentuk benteng yang tak terlihat namun kokoh seperti tembok benteng.
Otot leher dan lengan menegang keras, keringat dingin mulai membasahi punggung.
Tidak ada satu pun guru di sini mereka tahu, saat ini nyawa teman-temannya ada di tangan mereka sendiri.
Di sudut paling belakang, di mana bayangan jendela paling tipis, Ilvi berdiri.
Rambutnya berantakan seolah baru saja dihantam badai, menutupi sebagian dahi yang basah keringat.
Jari-jarinya mencengkeram gagang pisau dapur panjang begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih total, kuku hampir menembus kulit telapak tangan.
Ujung pisau berkilau tajam tertimpa cahaya matahari, seolah memancarkan api kecil yang menantang siapa pun yang berani melangkah sejengkal lebih dekat.
Dadanya naik turun secepat pompa mesin tua, napas keluar berdesis kasar seperti angin yang terperangkap di gua sempit.
Keringat menetes dari pelipis, meluncur lambat di leher, menghilang di balik kerah seragam.
Matanya merah menyala campuran amarah yang meluap dan ketakutan yang sedalam lautan, pandangannya tajam namun kosong seolah jiwanya sudah entah ke mana.
"Apa yang lo lakuin, Ilvi?" Suara itu rendah namun tegas, membelah keheningan mencekam. Dia melangkah perlahan, satu langkah demi satu langkah, tangan terangkat setinggi dada telapak terbuka sebagai isyarat damai.
Wajahnya tenang, tapi ada getaran halus di ujung suaranya yang tak bisa ia sembunyikan ia takut, sangat takut.
"Lo ngapain, Vi?" sahut yang lain di sampingnya. Ia menurunkan bahu, berusaha terlihat tidak mengancam sama sekali.
Matanya beralih dari ujung pisau yang berkilau ke wajah Ilvi, memperhatikan bagaimana tubuh gadis itu gemetar halus, meski ia berusaha berdiri tegak seakan tak tergoyahkan.
Ilvi diam hanya menggerakkan pergelangan tangan sedikit. Ujung pisau bergerak mengikuti, menyapu ke kiri saat ada yang bergerak ke kiri, ke kanan saat ada yang beringsut ke kanannseolah ia adalah penjaga gerbang yang tak membiarkan siapa pun lewat.
Napasnya masih berdesis, setiap tarikan terasa seperti menyayat kerongkongan.
Kakinya melangkah mundur lagi sampai punggungnya menempel ke dinding beton dingin kontras tajam dengan kulitnya yang terasa panas membara.
Jantungnya berdegup begitu kencang hingga suara detaknya berdengung memenuhi telinga, menutupi semua suara lain di ruangan itu.
"Taruh itu, Vi," ucap siswa itu, nadanya rendah namun tak goyah.
