1

288 37 0
                                        

"YUNA!"

"BANGUN LU WOI"

"YUYUN BANGUN ANJIRR SEJAM LAGI KITA KELAS"

"YU-"

Pintu yang sedari tadi diketuknya terbuka namun bukan menampilkan sosok yang sudah puluhan kali ia panggil.

"Eh hai kak Carmen maaf aku gatau kakak ada di rumah" diseberangnya Carmen membalas tersenyum lebar membuka pintu lebih lebar mempersilahkan Juun masuk ke dalam rumah. "Kakak keganggu sama suara aku ya"

"Sedikit si tapi gapapa, aku sebentar lagi harus pergi juga ga masalah" Juun mengekor di belakang Carmen mengikutinya ke lantai 2 di mana kamar sahabatnya yakni Yuna berada. "Kayaknya Yuna lagi mandi kamu mau nunggu di kamar dia atau di kamar kakak?" kamar Carmen tepat berada di seberang kamar Yuna.

Juun berpikir sejenak kemudian memutuskan "Di kamar kakak" tersenyum riang.

Begitu melangkah masuk, aroma lembut pelembut pakaian bercampur samar wangi parfum yang selalu dipakai Carmen langsung menyambut Juun. Kamarnya tidak besar, tetapi terasa hangat. Tempat tidurnya rapi dengan seprai berwarna krem bermotif bunga-bunga dan beberapa bantal yang tersusun asal seolah baru saja dirapikan. Di sudut ruangan berdiri rak buku kecil yang dipenuhi novel, buku kuliah, dan beberapa pot tanaman mungil yang masih terlihat segar.

Di meja belajarnya, berbagai macam skincare tersusun berdampingan dengan kotak berisi jepit rambut, parfume, dan lip balm yang tutupnya dibiarkan terbuka. Sebuah cardigan menggantung di sandaran kursi, sementara boneka kecil hadiah dari Yuna duduk bersandar di atas tempat tidur. Tidak ada barang yang benar-benar mewah, tetapi semuanya terlihat dirawat dengan penuh perhatian. Kamarnya persis seperti yang Juun bayangkan apabila ia memiliki kakak perempuan.

Hangat. Wangi. Rapi, meski tetap menyisakan jejak seseorang yang benar-benar tinggal di dalamnya. Rasanya seperti setiap sudut ruangan itu memeluk siapa pun yang masuk. Mungkin karena pemiliknya memang seperti itu.

Tanpa diminta, Carmen mengambil sebuah bantal dari atas kasur lalu melemparkannya pelan ke arah Juun.

"Nih"

Juun menangkapnya refleks.

"Buat apa?"

"Kamu kan biasanya meluk bantal kalau nunggu"

Juun berkedip sesaat, lalu tertawa kecil sambil memeluk bantal itu ke dada.

"Ih kakak kok hafal sih?"

Carmen hanya mengangkat bahu sambil tersenyum dan berjalan ke arah lemari pakaian.

"Kakak mau ke kampus?" Juun duduk di ujung kasur, masih memeluk bantal sambil memperhatikan Carmen yang sibuk memilih pakaian di depan lemari.

"Engga, mau main sama temen" jawabannya terdengar santai tanpa sedikit pun mengalihkan pandangan dari deretan pakaian yang tergantung rapi.

"Temen apa temen?" tanya Juun dengan nada meledek.

"Sekarang masih temen gatau besok" balasnya tak kalah jahil. Juun meringis geli.

"Pede banget"

"Biarin"

Carmen mengeluarkan dua dress, satu berwarna berwarna soft pink dan satu lagi berwarna putih, lalu membentangkannya bergantian di depan tubuhnya. "Menurut kamu lebih bagus yang mana?"

Juun memperhatikan kedua dress itu beberapa detik. Entah kenapa, menurutnya apa pun yang dikenakan Carmen memang selalu terlihat bagus dan membuat kakaknya terlihat cantik.

"Apapun yang kakak pake, kakak selalu keliatan cantik"

Carmen menoleh sambil menaikkan sebelah alis.

"Jadi?"

Kakak Cantik; kalgukjjuStories to obsess over. Discover now